3 Tahun Program Accelerated Lab di Indonesia, UNDP Arahkan Masyarakat Akar Rumput Ciptakan Inovasi Pembangunan Kota
Dalam program ini, UNDP Indonesia melibatkan komunitas atau masyarakat akar rumput dengan harapan dampaknya akan meluas ke skala yang lebih besar.
UNDP (United Nations Development Program) merayakan tiga tahun program Accelerated Lab di Indonesia. Tujuan program Accelerated Lab ini adalah untuk mencari pendekatan inovatif dalam mengakselerasi pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan atau SDG.
Dalam program ini, UNDP Indonesia melibatkan komunitas atau masyarakat akar rumput dengan harapan dampaknya akan meluas ke skala yang lebih besar. Demikian dijelaskan Head of Exploration of UNDP Indonesia Accelerator Lab, Rima Hasanah, usai pembukaan acara "3-Year Impact of UNDP Indonesia Accelerator Lab: Grasroots to Greatness" di Mbloc Creative Hall, Jakarta Selatan, Jumat (7/2).
Rima menjelaskan, aspirasi yang berhasil dikumpulkan dari masyarakat akar rumput ini dihubungkan dengan kebijakan-kebijakan pemerintah.
"Makanya judulnya adalah grassroot to greatness karena mulai dari grassroot level sampai mencapai tujuan dan impact yang lebih besar," jelasnya.
Program ini tersebar di beberapa kota di seluruh Indonesia, mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, sampai Nusa Tenggara. Rima mengatakan, program ini akan tetap berlanjut dan fokus ke depan dikhususkan untuk penelitian dan pembangunan.
Di acara pembukaan ini, UNDP Indonesia mengundang sejumlah stakeholder dari berbagai lembaga pemerintah di mana Deputy Resident Representative UNDP Indonesia, Sujala Pant, menyerahkan laporan terkait program ini kepada para wakil badan atau lembaga pemerintah yang hadir.
Ketahanan Kota
Sementara itu, Head of Solutions Mapping UNDP Indonesia Accelerator Lab, Daniel Dyonisius, menyampaikan program Accelerated Lab ini mengarah ke arah ketahanan kota dengan memerhatikan tiga pilar penting yaitu sustainable city (kota berkelanjutan), penanggulangan kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat, dan lingkungan hidup.
"Ada beberapa metodologi yang kita pakai salah satunya adalah metodologi partisipatif jadi riset langsung dengan masyarakat, diskusi langsung dengan masyarakat, tapi ada juga yang sifatnya lebih eksperimental, behavioural insight, randomize trial gitu," papar Daniel.
Menurut Daniel, problem umum dalam menciptakan ketahanan kota ini adalah kesenjangan informasi antara masyarakat yang paling rentan dan masyarakat lainnya. Dalam program ini, pihaknya berusaha menjangkau masyarakat kategori rentan untuk dicarikan solusinya. Kerentanan masyarakat ini bersifat multidimensi dan terdiri dari berbagai aspek seperti rentan terhadap akses pangan atau kebutuhan sehari-hari, termasuk rentan karena tidak punya akses finansial.
"Ini tentu problemnya banyak banget kalau digali satu-satu. Tapi mungkin kalau disummerize atau dirangkum, komitmen pemerintah maupun agency-agency lain terhadap masyarakat rentan ini belum disupport oleh business model yang convincing. Kenapa kita harus invest di masyarakat yang rentan ini sejauh ini masyarakat rentan ini mendapatkan bantuan sosial dan lain-lain tapi sisi yang belum dilihat adalah bagaimana mereka berkontribusi terhadap inovasi juga, pembangunan juga. Beberapa project atau inisiatif dari kami menunjukkan hal tersebut," paparnya.
Daniel berharap dengan program ini, masyarakat termasuk pihak-pihak yang terlibat bisa mulai membangun kepekaan untuk mengatasi berbagai kerentanan tersebut.
"Kalau inovasi itu hanyalah sebuah alat, tool, tapi di balik inovasi itu ada keterlibatan masyarakat, ada pemikiran-pemikiran unik dari masyarakat yang bisa bermanfaat. Dan kalau kita merangkul masyarakat yang rentan, kalau kita misalnya mempromosikan inklusi, tentunya ada dampak yang lebih besar. Bukan hanya obligasi moral saja. Jadi investasi kita di masyarakat-masyarakat rentan itu bisa menghasilkan entah pemikiran baru untuk kebijakan atau program, maupun mungkin business model untuk pembangunan ekonomi. Jadi penanggulangan kemiskinan itu enggak bertolak dengan pembangunan ekonomi," jelasnya.