Gaji Fantastis Pemain Liga 1 Bikin Malas ke Luar Negeri? Nilai Kontraknya Bikin Melongo
Banyak pemain lokal yang memiliki potensi besar, tetapi hingga kini mereka masih enggan untuk mencoba bermain di luar negeri.
BRI Liga 1 mengalami sejumlah kemajuan yang signifikan. Inovasi seperti penerapan VAR dalam liga tertinggi sepak bola Indonesia patut mendapat pengakuan. Selain itu, liga ini juga sering menghadirkan wasit asing untuk memimpin pertandingan penting, terutama yang melibatkan klub-klub besar.
Belakangan ini, terjadi fenomena menarik dalam dunia sepak bola Indonesia, khususnya di BRI Liga 1. Nilai pasar pemain lokal terus menunjukkan peningkatan yang signifikan. Kenaikan nilai pasar ini akan semakin melesat jika pemain tersebut pernah dipanggil untuk memperkuat Timnas Indonesia. Kontrak mereka dalam satu musim bisa mencapai lebih dari Rp3 miliar. Sebagai referensi, kita dapat merujuk pada data estimasi nilai pasar dari Transfermarkt. Rata-rata nilai pasar pemain lokal yang memiliki keterkaitan dengan Timnas Indonesia sangat mengesankan.
Kontrak Besar
Keinginan untuk tetap bermain di liga domestik sangat menarik bagi para atlet lokal. Selain iming-iming gaji yang menggiurkan, mereka juga mendapat tawaran dari berbagai merek yang siap memberikan dukungan finansial tambahan. Sebagai contoh, Rizky Ridho, bek Timnas Indonesia sekaligus pemain Persija Jakarta, dilaporkan menerima kontrak yang cukup besar dari manajemen Macan Kemayoran.
Di samping itu, ketenaran Rizky Ridho sebagai pemain muda yang sedang bersinar menarik perhatian banyak merek untuk menjadikannya sebagai wajah iklan. Saat ini, Rizky Ridho telah menjalin kerjasama dengan belasan merek, termasuk merek sepatu, jam tangan, produk makanan, air mineral, bahkan semen.
Asnawi Memberikan Pengakuan
Pemain Timnas Indonesia, Asnawi Mangkualam, mengambil langkah berani dengan menerima tawaran dari klub Ansan Greeners yang berbasis di Korea Selatan pada tahun 2020. Ia mengungkapkan bahwa peluang bagi pemain Indonesia untuk berkarir di luar negeri memang sangat terbatas. Hal ini disebabkan oleh kualitas sepak bola di Indonesia yang masih memerlukan banyak perbaikan. "Pemain Indonesia sangat sulit dapat kesempatan bermain di luar. Ketika ada tawaran datang untuk saya, kenapa tidak," ungkap Asnawi Mangkualam dalam wawancara dengan Sport77 baru-baru ini.
Asnawi Mangkualam juga mengungkapkan bahwa gaji yang ia terima di Korea Selatan jauh lebih rendah dibandingkan dengan yang ia peroleh di tanah air. "100 di Indonesia, di Korea 30 atau 20," tandasnya.
Meskipun begitu, Asnawi tetap merasa bahwa pengalaman bermain di luar negeri adalah kesempatan berharga yang tidak ingin disia-siakan. Ia berharap langkah ini dapat membuka jalan bagi pemain Indonesia lainnya untuk mengeksplorasi karir di liga-liga luar negeri yang lebih kompetitif.
Pasar Menjadi Semakin Terbuka
Baru-baru ini, PT Liga Indonesia Baru (LIB) mengajukan proposal yang cukup menarik. Mereka berencana untuk meningkatkan jumlah kuota pemain asing di BRI Liga 1 untuk musim 2025/2026. Setiap tim yang berpartisipasi di BRI Liga 1 2025/2026 akan memiliki kesempatan untuk mendaftarkan hingga 11 pemain asing, dengan delapan di antaranya diperbolehkan untuk dibawa dalam pertandingan. Namun, kebijakan ini kemudian mengalami revisi dan tidak akan diterapkan dalam waktu dekat. "Sudah definitif artinya pemain itu tetap seperti kemarin BRI Liga 1 2024/2025, yang didaftarkan delapan, kemudian yang bermain enam. Jadi gak ada tuh 11," ungkap Ferry Paulus pada Sabtu (24/5/2025) malam.
Meskipun demikian, hal ini seharusnya menjadi sinyal positif bahwa sepak bola Indonesia akan segera memasuki era pasar bebas. Banyak negara di Asia telah mulai memberikan peluang yang lebih luas bagi klub-klub untuk merekrut pemain asing. Dengan adanya rencana ini, diharapkan akan ada peningkatan kualitas kompetisi di liga domestik, yang pada gilirannya dapat menarik perhatian lebih banyak penggemar dan sponsor. Jika kebijakan ini diterapkan di masa mendatang, itu dapat menjadi langkah strategis untuk mengembangkan sepak bola di tanah air.
Tunjukkan Keberanian
Masih terdapat banyak pemain lokal berbakat yang merasa betah bermain di tanah air hingga saat ini. Namun, semakin banyak pula yang mulai berani untuk menjajaki karier di luar negeri. Salah satu contohnya adalah Ramadhan Sananta, yang baru-baru ini menerima tawaran dari klub DPMM FC yang berkompetisi di Liga Malaysia, Brunei Darussalam. Sebelumnya, ada Pratama Arhan dan Asnawi Mangkualam yang telah menetap di Thailand. Selain itu, Ronaldo Kwateh dan Meshaal Hamzah juga mengambil langkah serupa.
Kita tentu berharap agar semakin banyak pemain yang berani mengambil langkah berisiko untuk berkarier di luar negeri. Keberanian ini dapat menjadi modal yang sangat berharga bagi perkembangan karier mereka di dunia sepak bola. Dengan mengeksplorasi kesempatan di luar, mereka tidak hanya meningkatkan kemampuan, tetapi juga berkontribusi pada pengembangan sepak bola Indonesia secara keseluruhan.