Tidak Semua Negara ASEAN Naturalisasi Pemain, Bagaimana Performanya?
Program naturalisasi di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) tidak hanya dilaksanakan oleh Timnas Indonesia.
Tak dapat disangkal bahwa program naturalisasi yang dilaksanakan oleh PSSI dalam tiga tahun terakhir memberikan dampak yang signifikan terhadap performa Timnas Indonesia. Kehadiran pemain-pemain seperti Thom Haye, Jay Idzes, Kevin Diks, Maarten Paes, Calvin Verdonk, dan Justin Hubner telah terbukti meningkatkan prestasi timnas di level internasional.
Sebagai contoh, dalam ajang kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia, Indonesia berhasil menjadi satu-satunya negara di Asia Tenggara yang melaju hingga putaran keempat. Ini menunjukkan bahwa Skuad Garuda masih memiliki peluang untuk mencapai putaran final Piala Dunia 2026.
Tentu saja, Indonesia bukan satu-satunya negara yang berupaya meningkatkan kualitas timnya. Negara-negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura juga mulai mengikuti jejak Indonesia dengan melakukan naturalisasi dan mencari pemain keturunan secara lebih agresif.
Filipina bahkan telah lebih dulu melakukan langkah tersebut dibandingkan Indonesia dan negara-negara ASEAN lainnya. Pertanyaannya, bagaimana dengan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara seperti Laos, Myanmar, dan Brunei Darussalam yang memiliki sumber daya terbatas? Apakah mereka juga akan mengikuti tren ini untuk meningkatkan performa sepak bola mereka?
Masih ada yang meyakini kemampuan pemain lokal
Hingga saat ini, ketiga negara tetangga tersebut masih memilih untuk mengandalkan pemain dari dalam negeri. Sebagai contoh, Laos. Dalam Piala AFF 2024, semua 26 pemain yang membela Dok Champa, yang merupakan julukan Timnas Laos, berasal dari dalam negeri. Kebijakan Federasi Sepak Bola Laos untuk tidak mencari pemain keturunan atau naturalisasi mungkin berkaitan dengan keterbatasan dana atau penekanan pada pengembangan bakat lokal.
Sementara itu, Myanmar dan Brunei juga berada dalam posisi wait and see mengenai kemungkinan perubahan skuad dengan memasukkan pemain naturalisasi. Pada ajang Piala AFF 2024, Myanmar, seperti Laos, juga diperkuat oleh pemain lokal. Di sisi lain, Brunei tidak berpartisipasi dalam turnamen bergengsi di Asia Tenggara karena kalah dari Timor Leste di play-off. Kekurangan pemain berpengalaman membuat negara monarki tersebut menghadapi kesulitan dalam mengembangkan permainan mereka.
Dampak dari kehadiran pemain naturalisasi
Menurut peringkat FIFA terbaru yang dirilis pada 11 Juni 2025, keberadaan pemain naturalisasi memberikan dampak positif bagi tim nasional Indonesia. Setelah mengalami kekalahan telak 0-6 dari Jepang dalam pertandingan terakhir Grup C Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia, posisi Indonesia turun dari peringkat 116 menjadi 118.
Meskipun demikian, Indonesia masih unggul dari Malaysia yang berada di peringkat 126, namun kalah dari Vietnam yang berada di peringkat 113 dan Thailand yang menempati posisi 101. Selain itu, Indonesia juga lebih baik dibandingkan Filipina (145), Singapura (158), Myanmar (160), Kamboja (180), Brunei Darussalam (183), Laos (185), dan Timor Leste (195).
Walaupun peringkat FIFA Indonesia mengalami sedikit peningkatan, namun liga domestik tertinggi masih berada di posisi kelima. Pada bulan Maret 2025, Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) mengumumkan peringkat terbaru liga di Asia Tenggara.
Hasilnya, kabar ini tidak begitu menggembirakan bagi Indonesia, khususnya untuk PT LIB yang bertindak sebagai operator Liga 1. Dalam daftar lima besar, Thailand menduduki posisi teratas dengan nilai 53.069, diikuti oleh Malaysia (39.766), Vietnam (34.499), Singapura (25.524), dan terakhir Indonesia dengan nilai 18.155.