6 Fakta Ibnu Jamil di Film Saat Aku Bersuara, Reuni dengan Marshanda Setelah 16 Tahun
Ibnu Jamil kembali ke dunia perfilman melalui film "Saat Aku Bersuara," di mana ia beradu peran dengan Marshanda. Pastikan untuk menyaksikan penampilan mereka!
Setelah film Yang Lain Boleh Hilang Asal Kau Jangan, Ibnu Jamil bersiap untuk kembali ke layar lebar melalui film Saat Aku Bersuara. Film ini dijadwalkan tayang di bioskop mulai 18 Juni 2026 dan akan menampilkan banyak bintang ternama.
Di samping Ibnu Jamil, film ini juga akan menampilkan penampilan dari Marshanda, Rini Yulianti, Hana Malasan, Lukman Sardi, Cut Mini, serta Lydia Kandou dan Rifnu Wikana. Dalam film yang disutradarai oleh Sonu S ini, Ibnu Jamil akan memerankan Adrian, seorang Jaksa Penuntut Umum yang terlibat dalam kasus kekerasan seksual. Ia menegaskan bahwa karakter Adrian adalah "100 persen protagonis."
Ibnu Jamil mengungkapkan, "Karakter yang unik buat saya, di tengah perfilman kita dengan berbagai tawaran peran dan genre, Adrian terasa menarik. Ya, 100 persen protagonis. Kalau lebih gampang, itu relatif. Kalau ditanya lebih suka, lebih senang antagonis belakangan ini." Jaksa merupakan salah satu peran yang telah lama diidamkan oleh Ibnu Jamil. Namun, ia juga membocorkan bahwa adegan di ruang sidang bukanlah "hidangan utama" dari film Saat Aku Bersuara.
Cerita film ini berfokus pada Nadia (diperankan oleh Marshanda) yang dilamar oleh Reza (Nino Fernandez). Suatu malam, Nadia mengalami tragedi saat berusaha menolong sahabatnya, Andien (Rini Yulianti), dan menjadi korban pemerkosaan. Menolak untuk terpuruk, Nadia berjuang untuk bersuara melalui blog yang kemudian menjadi viral, serta bertekad untuk mencari keadilan.
Reuni bersama Marshanda
Saat Aku Bersuara diambil di Jakarta. Film ini menjadi debut bagi Ibnu Jamil dan Marshanda untuk beradu akting di layar lebar. Meskipun demikian, mereka sebelumnya pernah bekerja sama dalam sebuah sinetron sekitar 16 tahun yang lalu.
Menurut Ibnu Jamil, momen ini adalah reuni yang sangat menyenangkan.
"Saya pernah berakting bersama Marshanda, tetapi di sinetron, tahun 2010, Sejuta Cinta Marshanda. Ini adalah kali pertama kami berkolaborasi di film. Akting Marshanda sangat luar biasa, keren, dan sebagai seorang aktor, kualitas aktingnya tidak perlu diragukan lagi," puji Ibnu Jamil.
Adrian mengenang masa lalu yang penuh kepahitan
Ibnu Jamil menjelaskan bahwa Adrian adalah seorang jaksa penuntut umum (JPU) yang terlibat dalam penanganan kasus Nadia. Jaksa yang memiliki hati tulus ini menyimpan luka mendalam dari masa lalunya, di mana adik perempuannya mengalami bunuh diri karena tidak mendapatkan keadilan atas kasus pelecehan yang dialaminya.
"Dia punya misi, masalah yang dulu ingin diselesaikan namun tidak terselesaikan. Dia punya adik yang jadi korban ketidakadilan. Dia jadi jaksa untuk membantu mereka yang punya masalah hukum, untuk dijembatani," ujar Ibnu Jamil.
Dalam konteks ini, Adrian tidak hanya bertindak sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai simbol harapan bagi mereka yang terjebak dalam sistem yang tidak adil. Dengan latar belakang yang menyakitkan, ia bertekad untuk memastikan bahwa tidak ada lagi korban yang mengalami nasib serupa.
Melalui dedikasinya sebagai jaksa, Adrian berusaha mengubah ketidakadilan menjadi keadilan, memberikan suara kepada mereka yang tidak mampu bersuara dan berjuang untuk hak-hak mereka. Dalam setiap langkahnya, ia membawa beban masa lalu yang menjadi motivasi kuat untuk memperbaiki keadaan.
Rambut harus rapi dan menggunakan kacamata
Ibnu Jamil yang dipercaya untuk memerankan karakter Adrian, mendapatkan beberapa catatan penting mengenai cara mendalami perannya serta penampilan yang harus ditampilkan di depan kamera. Mengingat Adrian bekerja di bidang hukum, penampilannya harus selalu rapi dengan rambut cepak dan sering mengenakan pakaian formal.
"Agak sedikit kaku, gaya rambutnya rapi, look-nya mencerminkan tingkat pendidikan dan pekerjaan. Saya pakai kacamata di sini. Tiga kata yang menggambarkan Adrian: dendam, keadilan, dan berani," ungkap suami Ririn Ekawati tersebut.
Dalam proses penggarapan karakter ini, Ibnu Jamil menyadari bahwa penampilan sangat penting untuk menciptakan kesan yang tepat. Ia berusaha untuk menyesuaikan diri dengan karakter Adrian yang digambarkan sebagai sosok yang serius dan berintegritas. Dengan menekankan pada aspek-aspek fisik dan perilaku, Ibnu berharap dapat memberikan performa yang dapat diterima oleh penonton.
"Saya ingin karakter ini terlihat meyakinkan dan dapat diterima oleh masyarakat," tambahnya, menunjukkan komitmennya untuk memberikan yang terbaik dalam peran ini.
Kesan pertama sangat memikat
Kesan pertama yang didapat oleh Ibnu Jamil setelah membaca naskah, cerita, dan karakter film Saat Aku Bersuara sangat menggoda. Film ini menawarkan warna baru bagi para penggemar sinema, di samping genre drama, horor, dan komedi yang sudah lama ada.
"Ini akan jadi tes pasar. Sebenarnya, beberapa bulan lalu ada film bertema pengadilan, Reza Rahadian dan Rio Dewanto yang main. Judulnya Keadilan. Pas baca skenario sih senang dan tertarik banget berada di film dengan kisah seperti ini," ucap Ibnu Jamil.
Film ini memberikan harapan akan adanya inovasi dalam dunia perfilman Indonesia, terutama dalam genre yang jarang diangkat. Dengan mengusung tema yang berbeda, Saat Aku Bersuara diharapkan dapat menarik perhatian penonton yang selama ini mungkin merasa jenuh dengan film-film yang ada. Keberanian untuk mengambil tema pengadilan menunjukkan bahwa ada keinginan untuk mengeksplorasi cerita yang lebih mendalam dan relevan dengan realitas yang ada.
"Saya percaya, film ini bisa menjadi angin segar bagi industri film kita," tambah Ibnu Jamil dengan penuh semangat.
Berada di ruang sidang dapat menguras tenaga
Adegan dalam film Saat Aku Bersuara yang paling menuntut energi adalah saat berada di ruang sidang, terutama ketika melakukan debat dengan pengacara pelaku yang diperankan oleh Lukman Sardi. Momen ini cukup tricky karena melibatkan banyak elemen yang harus diperhatikan, terutama dalam pengambilan gambar di pengadilan.
Proses pengambilan gambar ini memerlukan banyak shot karena melibatkan berbagai karakter. "Karena cast banyak, dialog panjang, dan intens. Ada hakim, jaksa, pengacara, korban, pelaku, belum lagi yang hadir di sidang, bayangkan saja shot-nya akan sebanyak apa karena ekspresi para pelaku sidang yang harus ditangkap," ulasnya. Hal ini menunjukkan betapa kompleksnya situasi yang harus dihadapi dalam adegan tersebut, di mana setiap detail sangat penting untuk menciptakan suasana yang tepat.
Proses syuting
Proses syuting di pengadilan memberikan pengalaman yang sangat berarti bagi Ibnu Jamil. Adegan-adegan tersebut memiliki dimensi yang sangat luas, sehingga sutradara dituntut untuk mampu menampilkan suasana panas yang terjadi di ruang sidang. Hal ini menjadi aspek yang sangat penting dalam sebuah cerita, karena penonton perlu merasakan betapa sulitnya perjalanan menuju keadilan.
“Itu syutingnya benaran di salah satu pengadilan di kawasan Ampera, Kemang, Jakarta Selatan. Ada orang-orang pengadilan. Saya menyerap ilmu dari situ, apakah benar penggunaan kata-kata ini. Melakukan verifikasi ke pelaku peradilan. Saya dibimbing mereka,” tutup Ibnu Jamil.