Wamen KP Serukan Aksi Kolektif Selamatkan Laut di Bali Ocean Days 2026
Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan mengajak negara kepulauan untuk bersatu dalam aksi kolektif selamatkan laut, mengingat ancaman serius dan potensi ekonomi biru yang berkelanjutan.
Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan (Wamen KP), Didit Herdiawan, secara tegas menyerukan aksi kolektif dari negara-negara kepulauan untuk menyelamatkan dan mengelola lautan secara bertanggung jawab. Seruan ini disampaikan dalam forum Bali Ocean Days 2026 yang berlangsung di Kabupaten Badung, Jumat (30/1).
Didit Herdiawan menekankan bahwa bagi Indonesia dan negara kepulauan lainnya, lautan bukan hanya sekadar wilayah geografis. Namun, lautan merupakan bagian integral dari peradaban, sejarah, identitas, serta penentu masa depan bangsa. Komitmen terhadap ekonomi biru berkelanjutan menjadi kunci utama dalam menghadapi tantangan ini.
Acara bertema "Navigating Solutions for a Regenerative Ocean Future" ini menjadi platform penting untuk mencari solusi inovatif. Hal ini dilakukan mengingat lautan kini dihadapkan pada ancaman serius seperti pemanasan air, peningkatan pengasaman, runtuhnya perikanan, dan polusi laut yang masif.
Ancaman Global dan Pentingnya Konservasi Laut
Lautan global saat ini menghadapi berbagai ancaman serius yang memerlukan perhatian mendesak dari seluruh komunitas internasional. Peningkatan suhu air laut dan pengasaman samudra menjadi indikator jelas perubahan iklim yang berdampak pada ekosistem laut. Fenomena ini mengancam kelangsungan hidup spesies laut dan keseimbangan ekologi secara keseluruhan.
Selain itu, runtuhnya sektor perikanan akibat penangkapan ikan berlebihan dan polusi laut, terutama sampah plastik, semakin memperparah kondisi. Ancaman-ancaman ini tidak hanya merusak keanekaragaman hayati, tetapi juga mengancam mata pencarian masyarakat pesisir yang sangat bergantung pada sumber daya laut.
Wamen KP Didit Herdiawan menegaskan bahwa lautan adalah warisan berharga yang harus dijaga untuk generasi mendatang. Oleh karena itu, aksi kolektif dan komitmen kuat dari negara-negara kepulauan, khususnya Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar, sangat dibutuhkan untuk menjaga keberlanjutan ekosistem laut.
Strategi Ekonomi Biru Indonesia untuk Masa Depan Laut
Dalam menghadapi tantangan global tersebut, Indonesia telah mengimplementasikan lima program prioritas ekonomi biru yang komprehensif dan berkelanjutan. Program-program ini dirancang untuk melindungi ekosistem laut sekaligus mendorong produktivitas dan pertumbuhan inklusif bagi masyarakat pesisir. Strategi ini sejalan dengan tema Bali Ocean Days 2026.
Prioritas pertama mencakup perluasan kawasan konservasi laut hingga 30 persen perairan Indonesia pada tahun 2045, menunjukkan komitmen kuat terhadap perlindungan habitat laut. Selanjutnya, pemerintah menerapkan praktik perikanan yang bertanggung jawab dan mempromosikan budidaya perikanan berkelanjutan untuk menjaga stok ikan.
Program lainnya adalah memperkuat pengawasan ekosistem di daerah pesisir dan pulau-pulau kecil, serta melibatkan nelayan dan masyarakat pesisir dalam upaya pengurangan sampah plastik di laut. Langkah-langkah ini diharapkan dapat menciptakan transisi positif menuju laut yang lebih sehat dan produktif.
Wamen KP Didit Herdiawan berharap bahwa melalui kolaborasi antara sektor bisnis, pemerintah, dan masyarakat, upaya penyelamatan laut dapat dipercepat. Namun, ia juga menekankan bahwa Indonesia tidak dapat melakukannya sendiri, membutuhkan dukungan dan kemitraan internasional yang kuat.
Kolaborasi Internasional dan Potensi Pariwisata Bahari
Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Puspa, menambahkan bahwa menjaga ekosistem laut yang sehat dan tangguh sangat krusial untuk mendukung industri berbasis laut yang kompetitif dan pariwisata berkelanjutan. Ekonomi biru, menurutnya, adalah penggunaan sumber daya laut secara bertanggung jawab untuk menghasilkan nilai ekonomi, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan.
Potensi pariwisata bahari di Indonesia sangat besar, terbukti pada tahun 2024 saja, kegiatan ini telah dikembangkan di lebih dari 2.000 dari sekitar 12.000 desa pesisir. Ini menunjukkan kemajuan signifikan dan potensi ekonomi laut Indonesia yang mencapai sekitar 5,9 miliar dolar AS.
Seruan untuk menyelamatkan laut ini mendapat sambutan positif dari negara-negara kepulauan lain yang hadir dalam forum. Menteri Perikanan dan Kehutanan Fiji, Alitia Bainivalu, serta Menteri Perikanan dan Sumber Daya Laut Papua Nugini, Jelta Wong, dan Utusan Khusus Seychelles untuk ASEAN, Nico Barito, berbagi pengalaman mereka sebagai garda depan. Mereka menghadapi kenaikan muka air laut, kerusakan ekosistem pesisir, dan tekanan terhadap sumber daya laut.
Negara-negara kepulauan ini berada pada posisi yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim. Namun, mereka juga memiliki kepentingan terbesar untuk mendorong perubahan global dalam cara dunia memperlakukan lautan, menekankan pentingnya berbagi pengetahuan, teknologi, dan investasi.
Sumber: AntaraNews