Trump Buka Peluang Negosiasi dengan Negara Mitra Dagang Terkait Tarif Impor Baru
Namun, penawaran ini hanya berlaku bagi negara yang memberikan keuntungan tertentu bagi AS sebagai kompensasi atas keringan tarif impor.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mulai membuka pintu negosiasi atas kebijakan tarif yang dikenakannya terhadap sejumlah negara mitra dagang. Bahkan, Trump mengatakan dia akan terbuka untuk bernegosiasi dengan negara lain tentang tarif bea masuk.
Namun, penawaran ini hanya berlaku bagi negara yang memberikan keuntungan tertentu bagi AS sebagai kompensasi atas keringan tarif impor.
"Trump mengatakan dia akan terbuka untuk pembicaraan tarif dengan negara lain jika mereka menawarkan sesuatu yang fenomenal," sebut Trump di Air Force One seperti diberitakan CNBC.com dilansir Jumat (4/3).
Sikap Trump ini bertolak belakang dengan apa yang ditekankan pejabat Gedung Putih. Diketahui, beberapa ajudan Gedung Putih bersikeras bahwa kebijakan tarif impor baru itu bukan negosiasi.
Kebijakan tarif impor tersebut dikhawatirkan berdampak besar di seluruh pasar dan rantai pasokan global, di setiap negara bagian Amerika, dan dalam kehidupan setiap konsumen.
Kepala Pendapatan Tetap Multi-Aset Goldman Sachs, Lindsay Rosner, menyebut kebijakan tarif yang baru diberlakukan tersebut menghambat pertumbuhan ekonomi domestik maupun global.
Kebijakan ini juga disebut negara lain yang memberlakukan tarif balasan dan kemauan pemerintahan Trump untuk bernegosiasi, kata Rosner kepada wartawan dalam sebuah konferensi di kantor pusat Goldman Sachs di Manhattan.
RI Kena Tarif Dagang 32 Persen
Sebelumnya, Indonesia dikenakan tarif dagang sebesar 32 persen. Hal itu diumumkan langsung oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Trump menilai kebijakan tarif ini akan mempersempit apa yang menurut dia merupakan kesenjangan yang “tidak adil” antara bea yang dikenakan AS pada barang impor dan apa yang dikenakan negara lain pada produk AS.
Kebijakannya menandai perombakan tatanan internasional yang paling luas sejak Perang Dunia II, yang AS bantu terapkan.
"Tanggal 2 April 2025, akan selamanya dikenang sebagai hari ketika industri Amerika terlahir kembali, hari ketika takdir Amerika direbut kembali, dan hari ketika kita mulai membuat Amerika kaya kembali," kata Trump.
"Negara-negara asing akhirnya akan diminta untuk membayar hak istimewa akses ke pasar kita, pasar terbesar di dunia," Trump menambahkan.