Transaksi BI-Fast Januari 2026 Capai Rp1.176 Triliun, Melonjak 34%
Transaksi bernilai besar melalui Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (BI-RTGS) juga ikut melonjak pada bulan yang sama.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mencatat volume transaksi melalui BI-Fast kian bertambah. Nilai transaksi yang terhimpun dalam infrastruktur sistem pembayaran ritel tersebut mencapai Rp 1.176 triliun pada Januari 2026.
"Volume transaksi retail yang diproses melalui BI-Fast mencapai 455 juta transaksi, atau tumbuh 34,41 persen, dengan nilai transaksi mencapai Rp 1.176 triliun pada Januari 2026," ujar Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Kamis (19/2/2026).
Tak hanya BI-Fast, transaksi bernilai besar melalui Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (BI-RTGS) juga ikut melonjak pada bulan yang sama, bahkan dengan nominal jauh lebih tinggi.
Kolaborasi dengan Lima Bank Sentral Lain
"Sementara itu, volume transaksi nilai besar yang diproses melalui BI-RTGS tercatat sebesar 0,86 juta transaksi atau tumbuh 7,6 persen. Dengan nilai sebesar Rp 19.555 triliun pada Januari 2026," imbuh Perry.
Adapun dalam konteks infrastruktur pembayaran, Bank Indonesia juga resmi telah bergabung dalam proyek Nexus Global Payments sebagai bagian dari upaya memperkuat konektivitas sistem pembayaran lintas negara.
Melalui keikutsertaan ini, BI akan berkolaborasi dengan lima bank sentral lain untuk menghadirkan solusi pembayaran antarnegara yang lebih efisien, aman, dan terjangkau.
Langkah Strategis
Lima bank sentral yang terlibat dalam proyek Nexus bersama BI yakni Bank Negara Malaysia (BNM), Bangko Sentral ng Pilipinas (BSP), Monetary Authority of Singapore (MAS), Bank of Thailand (BOT), dan Reserve Bank of India (RBI). Keenam otoritas moneter tersebut akan mengimplementasikan Nexus dengan menghubungkan sistem pembayaran instan domestik masing-masing negara.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan keikutsertaan Indonesia dalam Nexus merupakan langkah strategis, mengingat posisi Indonesia sebagai salah satu koridor remitansi terbesar di dunia.
Keterhubungan sistem pembayaran lintas negara yang semakin terpadu diyakini tidak hanya mempermudah transaksi masyarakat dan pelaku usaha, tetapi juga memperkuat hubungan ekonomi dan perdagangan Indonesia dengan negara mitra di kawasan.
"Keikutsertaan Indonesia dalam Nexus merupakan langkah strategis untuk menyediakan solusi pembayaran antarnegara yang efisien dan terjangkau bagi masyarakat dan pelaku usaha di Indonesia," jelas Perry dalam keterangan tertulis beberapa waktu lalu.