Tahukah Anda? Pertamina Gencarkan Strategi Energi Ganda untuk Dukung Astacita Prabowo!
Pertamina berkomitmen mendukung Astacita Presiden Prabowo melalui strategi energi ganda, memaksimalkan migas dan mengembangkan transisi energi rendah karbon.
PT Pertamina (Persero) secara aktif menggencarkan strategi pertumbuhan ganda atau "dual growth strategy". Langkah ini diambil untuk mendukung visi Astacita Presiden terpilih Prabowo Subianto. Strategi ini berfokus pada kemandirian energi nasional.
Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, menjelaskan bahwa strategi ini mencakup maksimalisasi bisnis minyak dan gas bumi (migas) yang sudah ada. Selain itu, pengembangan bisnis transisi energi menuju rendah karbon juga menjadi prioritas utama perusahaan. Pernyataan ini disampaikan dalam acara "Indonesia Langgas Berenergi" di Jakarta pada Selasa (07/10).
Melalui pendekatan komprehensif ini, Pertamina berupaya menjaga ketahanan energi sekaligus berkontribusi pada target net zero emission pemerintah. Perusahaan ingin memastikan pasokan energi yang berkelanjutan bagi seluruh masyarakat Indonesia. Ini merupakan bagian dari upaya besar mewujudkan kemandirian energi.
Optimalisasi Bisnis Migas Eksisting Pertamina
Pada pilar pertama strategi ganda, Pertamina terus berupaya meningkatkan produksi minyak dan gas. Berbagai inovasi teknologi diterapkan, khususnya pada sumur-sumur yang dikelola oleh PT Pertamina Hulu Energi. Ini adalah subholding upstream Pertamina yang bertanggung jawab atas sektor hulu.
Selain itu, Pertamina juga memperkuat bisnis hilir dengan meningkatkan kapasitas dan efisiensi kilang. Salah satu proyek vital adalah Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan. Proyek ini ditargetkan beroperasi penuh pada November 2025.
Simon Aloysius Mantiri menegaskan, "Proyek RDMP Balikpapan akan meningkatkan kapasitas pengolahan, menghasilkan produk berkualitas tinggi setara standar Euro 5, dan mengurangi ketergantungan impor BBM." Peningkatan kapasitas ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan energi domestik. Hal ini juga akan mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor bahan bakar.
Dorongan Pertamina pada Transisi Energi Rendah Karbon
Pilar kedua dari Strategi Energi Pertamina ini adalah percepatan transformasi menuju bisnis energi rendah karbon. Pertamina telah meluncurkan produk inovatif seperti Pertamax Green 95. Bahan bakar ini merupakan campuran 5 persen bahan bakar nabati etanol (E5).
Komitmen Pertamina juga terlihat dalam perluasan pengembangan panas bumi (geothermal). Indonesia saat ini memegang posisi kedua terbesar di dunia dalam kapasitas terpasang geothermal. Potensi besar ini terus dimaksimalkan untuk energi bersih.
Berbagai inisiatif Carbon Capture and Storage (CCS/CCUS) serta proyek dekarbonisasi juga terus dikembangkan. Langkah-langkah ini sejalan dengan target pemerintah mencapai net zero emission pada tahun 2060. Upaya ini menunjukkan keseriusan Pertamina dalam mendukung keberlanjutan lingkungan.
Dukungan Pemerintah dan Kemandirian Energi Nasional
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, turut menyampaikan pandangan pemerintah. Beliau menegaskan bahwa Astacita Presiden Prabowo menempatkan kemandirian energi sebagai prioritas utama. Pemerintah bertekad menekan impor bahan bakar minyak.
Sejumlah langkah konkret telah digulirkan untuk memanfaatkan potensi energi dalam negeri. Salah satunya adalah mendorong penerapan biodiesel 40 (B40). Bahan bakar diesel ini mengandung 40 persen minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO).
Bahlil menyatakan, "Tahun ini, impor solar sudah turun menjadi sekitar 4 juta ton per tahun, dan tahun 2025 ditargetkan meningkat ke B50, sehingga Indonesia tidak perlu impor solar lagi." Target ambisius ini menunjukkan komitmen kuat pemerintah. Ini juga menunjukkan sinergi antara BUMN seperti Pertamina dan kebijakan pemerintah dalam mengimplementasikan Strategi Energi Pertamina secara nasional.
Sumber: AntaraNews