Pertamina Tunjuk Muhammad Baron jadi Juru Bicara Gantikan Fadjar Djoko Santoso

PT Pertamina (Persero) telah menunjuk Muhammad Baron sebagai Wakil Presiden Komunikasi Korporat atau juru bicara yang baru.

Agustina Melani
Oleh Agustina Melani - Reporter
Pertamina Tunjuk Muhammad Baron jadi Juru Bicara Gantikan Fadjar Djoko Santoso
Gedung PT Pertamina di Jakarta. Foto: Pertamina (© 2025 Liputan6.com)

PT Pertamina (Persero) telah menunjuk Muhammad Baron sebagai juru bicara atau Wakil Presiden Komunikasi Perusahaan. Ia mengambil alih posisi tersebut dari Fadjar Djoko Santoso, yang kini menjabat sebagai Sekretaris Perusahaan di Patra Jasa.

"Iya betul, pak Muhammad Baron (VP Corporate Communication Pertamina)," ungkap Arya ketika dihubungi oleh Liputan6.com melalui pesan singkat pada Rabu (5/11).

Dengan demikian, Muhammad Baron resmi menggantikan Fadjar Djoko Santoso yang kini beralih ke posisi Corporate Secretary di PT Patra Jasa, yang merupakan anak perusahaan Pertamina.

Sebelum menjabat sebagai Wakil Presiden Komunikasi Perusahaan di PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron telah berpengalaman sebagai Sekretaris Perusahaan di Pertamina Internasional Shipping (PIS).

Selain itu, ia juga pernah menempati posisi yang sama di Pertamina Gas (Pertagas) dan Pertamina Geothermal Energy (PGE). Pengalamannya yang luas di berbagai posisi strategis dalam perusahaan menunjukkan kapabilitasnya dalam menjalankan tugas barunya di Pertamina.

Pertamina Tunjuk Muhammad Baron sebagai Jubir Baru
Gedung PT Pertamina di Jakarta. Foto: Pertamina © 2025 Liputan6.com

Sebelumnya, PT Pertamina (Persero) aktif mempercepat transisi energi melalui berbagai inovasi di sektor biofuel dan energi terbarukan. Dalam menghadapi dinamika global, Pertamina menerapkan Strategi Pertumbuhan Ganda (Dual Growth Strategy).

Strategi ini mencakup bisnis yang sudah ada di industri fosil, termasuk sektor hulu, pengolahan kilang, distribusi, serta penjualan BBM, LPG, dan energi lainnya. Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero) Agung Wicaksono menjelaskan bahwa Pertamina memiliki Dual Growth Strategy yang sejalan dengan strategi Double Track yang diterapkan oleh Petrobras, perusahaan migas nasional Brasil.

"Kedua strategi ini menekankan bahwa pengembangan bisnis low carbon harus berjalan beriringan dengan penguatan bisnis legacy atau bisnis inti yang sudah ada," ujarnya dalam siaran pers resmi Pertamina pada hari Sabtu (25/10).

Salah satu strategi yang diterapkan adalah optimalisasi energi hijau sebagai sumber energi rendah karbon. Ini dilakukan dengan mengembangkan energi terbarukan, termasuk bahan bakar nabati (BBN) seperti biofuel, bioetanol, dan Sustainable Aviation Fuel (SAF).

"Biofuel merupakan salah satu program transisi energi terbesar di dunia. Melalui dukungan pemerintah, Pertamina telah mengembangkan biodiesel mulai dari program B2 (2 persen kandungan BBN), B5 (5 persen kandungan BBN), hingga kini mencapai B40 (40 persen kandungan BBN)," bebernya.

"Program ini berhasil menghemat devisa lebih dari USD 40 miliar sejak tahun 2020, sekaligus membuka banyak lapangan kerja dan memberikan manfaat besar bagi lingkungan," kata Agung.

Pengembangan energi hijau ini bertujuan untuk mengurangi emisi karbon dan mempromosikan keberlanjutan. Dengan adanya program-program tersebut, diharapkan masyarakat semakin sadar akan pentingnya penggunaan energi terbarukan.

Selain itu, langkah ini juga berkontribusi pada perekonomian nasional dengan menciptakan lapangan kerja baru. "Dukungan dari pemerintah sangat penting dalam mencapai target-target tersebut," tambahnya. Melalui upaya ini, diharapkan Indonesia dapat menjadi contoh dalam transisi energi yang lebih bersih dan ramah lingkungan.

Selain memproduksi biodiesel untuk solar, Pertamina juga menghasilkan Pertamax Green 95, yaitu bensin yang mengandung 5 persen etanol (E5) dan sudah tersedia di 163 SPBU di seluruh Indonesia.

Agung menambahkan, "Ke depan, kami menargetkan pengembangan E10, sehingga konsumsi bioetanol nasional akan meningkat." Ia menjelaskan bahwa Pertamina belajar dari keberhasilan Brazil dalam memanfaatkan tebu (sugarcane) sebagai bahan baku untuk bioetanol.

"Brazil adalah contoh nyata bagaimana bioetanol dapat berhasil secara ekonomi, teknis, dan ekologis, bahkan membantu menjaga kelestarian hutan Amazon," ungkapnya.

Selain fokus pada bioetanol, Pertamina juga sedang mengembangkan bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF) yang berasal dari minyak jelantah (used cooking oil) sebagai bagian dari inisiatif keberlanjutan bisnis.

Di kilang Pertamina di Cilacap, SAF telah diproduksi dengan proses co-processing minyak jelantah sebesar 2,5 persen. Produk ini telah diuji coba oleh maskapai Pelita Air dalam penerbangan dari Jakarta ke Denpasar.

"Program ini juga menjadi bagian dari ekonomi sirkular. Masyarakat dapat menjual minyak jelantah di lebih dari 30 titik pengumpulan di SPBU. Minyak ini kemudian diolah kembali menjadi bahan bakar ramah lingkungan untuk sektor penerbangan," tuturnya.

Rekomendasi