Skema Kerja Sama Pengelolaan Properti Dorong Optimalisasi Aset Idle di Perkotaan
Skema ini mengedepankan pengelolaan profesional dengan penerapan model hunian hybrid, yakni sewa harian, mingguan, hingga bulanan.
Seiring meningkatnya kebutuhan hunian fleksibel dan pertumbuhan ekonomi digital, sejumlah pemilik properti menghadapi tantangan aset yang tidak produktif, seperti ruko kosong, rumah berukuran besar, kontrakan, hingga rumah kost yang tingkat hunianya stagnan.
Merespons kondisi tersebut, Behomy, perusahaan pengelola properti dan operator hospitality berbasis teknologi, memperkenalkan skema kerja sama pengelolaan penuh (full management) untuk mengoptimalkan aset idle agar dapat kembali menghasilkan pendapatan. Skema ini mengedepankan pengelolaan profesional dengan penerapan model hunian hybrid, yakni sewa harian, mingguan, hingga bulanan.
Skema kerja sama ini ditujukan bagi pemilik properti di kota-kota besar yang ingin memaksimalkan aset tanpa terlibat langsung dalam operasional harian. Dalam model tersebut, pemilik properti tetap memantau kinerja aset melalui laporan berkala, sementara pengelolaan operasional, pemasaran, dan layanan penghuni ditangani oleh operator.
Co-Founder & CEO Behomy, Dicky Syan, menjelaskan bahwa banyak aset properti memiliki potensi ekonomi, namun tidak berjalan optimal karena keterbatasan waktu dan sistem pengelolaan pemilik.
"Sebagian aset sebenarnya memiliki potensi, tetapi belum produktif karena keterbatasan pengelolaan. Skema kerja sama ini dirancang agar properti dapat dioperasikan kembali secara lebih terstruktur, mulai dari penyesuaian konsep hingga pelaporan kinerja," ujarnya.
Skema Kerja Sama dan Pendekatan Pengelolaan
Behomy menyasar berbagai tipe pemilik aset, mulai dari pemilik ruko, rumah kost, guest house, hingga investor properti. Skema kerja sama yang ditawarkan mencakup beberapa pendekatan, antara lain pengelolaan operasional secara menyeluruh, kemitraan berbasis bagi hasil, serta penyesuaian fungsi ruang dan renovasi ringan agar aset lebih sesuai dengan kebutuhan pasar.
Dalam pelaksanaannya, pengelolaan dikombinasikan dengan pemanfaatan sistem digital, seperti pemasaran melalui platform pemesanan daring (OTA), kanal digital, penerapan harga dinamis, serta standar operasional layanan yang terstruktur untuk menjaga konsistensi kualitas hunian.
Dicky Syan menambahkan bahwa model hunian hybrid memberikan fleksibilitas dalam menangkap berbagai segmen pasar, baik jangka pendek maupun jangka menengah.
"Model ini memungkinkan properti menjangkau permintaan yang lebih beragam. Namun, hasilnya tetap bergantung pada faktor lokasi, kondisi aset, segmentasi pasar, dan kualitas layanan," katanya.
Dampak bagi Pemilik Properti
Melalui skema ini, pemilik aset tidak lagi menangani operasional harian seperti layanan penghuni, kebersihan, dan perawatan. Selain itu, strategi sewa hybrid berpotensi meningkatkan pendapatan serta memberikan transparansi melalui laporan kinerja dan keuangan yang terstruktur.
Optimalisasi aset juga dilakukan melalui proses aktivasi kembali properti idle dengan pendekatan pengelolaan modern, yang diharapkan dapat mendukung peningkatan nilai aset dalam jangka panjang.
Implementasi di Lapangan
Dalam praktiknya, aset seperti ruko yang sebelumnya tidak produktif dapat direposisi menjadi hunian yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Proses tersebut meliputi penataan ulang fungsi ruang, renovasi ringan, pembuatan materi visual, pemasaran digital, pengelolaan harga, hingga operasional harian.
Pemilik properti memantau perkembangan kinerja aset melalui laporan berkala, sementara pengelolaan teknis ditangani oleh operator.