Siap-Siap, Harga Sepatu Nike Bakal Naik Tinggi Imbas Tarif Trump
Nike berencana melakukan penyesuaian besar-besaran atau menaikkan harga terhadap tiga lini produk penting yaitu Air Force 1, Dunk, dan Air Jordan.
Perusahaan perlengkapan olahraga, Nike memperkirakan akan menanggung tambahan biaya sebesar USD 1 miliar atau sekitar Rp16 triliun sebagai dampak dari kebijakan tarif Presiden Donald Trump. Hal ini diumumkan perusahaan belum lama ini.
"Tarif ini menjadi tekanan biaya baru yang signifikan," ujar Chief Financial Officer Nike, Matthew Friend dilansir dari CNN International di Jakarta, Minggu (29/6).
Dia menjelaskan bahwa perusahaan akan mengatasi beban tersebut dengan berbagai cara, termasuk mengurangi ketergantungan rantai pasok dari China, serta menaikkan harga produk untuk berbagi beban dengan konsumen.
Meski China masih menjadi bagian penting dalam basis pemasok global Nike, Matthew Friend menjelaskan bahwa perusahaan akan memangkas porsi impor alas kaki dari China ke Amerika Serikat, dari sekitar 16 persen menjadi kisaran angka satu digit tinggi pada akhir tahun fiskal 2026. Perusahaan akan mencari pasokan dari negara lain.
Dampak tarif serta penurunan daya beli konsumen sangat terasa terhadap laba bersih kuartal keempat perusahaan, yang anjlok 86 persen menjadi USD 211 juta, turun jauh dari USD 1,5 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kendati mencatat penurunan tajam, CEO Elliott Hill tetap optimistis terhadap rencana pemulihan perusahaan dan menyatakan bahwa sudah saatnya untuk 'memulai babak baru'. Nike berencana melakukan penyesuaian besar-besaran atau menaikkan harga terhadap tiga lini produk penting yaitu Air Force 1, Dunk, dan Air Jordan.
Disambut Positif Investor
Para investor menyambut positif sinyal bahwa masa tersulit Nike mungkin telah berlalu. Saham Nike (NKE) melonjak hampir 11 persen dalam perdagangan pra-pasar pada hari Jumat pekan lalu.
Hill kini mengarahkan kembali fokus Nike ke dunia olah raga, sebuah prioritas yang sempat terpinggirkan di bawah kepemimpinan CEO sebelumnya.
"Tim Nike, Jordan, dan Converse kini akan bekerja setiap hari dengan misi untuk menciptakan produk yang paling inovatif dan diidamkan, baik alas kaki, pakaian, maupun aksesori khusus untuk para atlet yang mereka layani," ujar Hill.
"Tim yang terobsesi dengan olahraga ini akan membangun keunikan dan karakter khas dari ketiga merek kami, meningkatkan daya saing, dan mempercepat pertumbuhan."
Nike Sudah Lewati Masa Terburuk
Dalam sebuah catatan analisis, Neil Saunders, Managing Director GlobalData, menyampaikan keyakinannya bahwa Nike telah melewati masa terburuk dalam hal profitabilitas.
Saunders menambahkan bahwa Nike masih menjadi merek paling dominan di industri pakaian olahraga, dengan selisih yang cukup besar.
"Artinya, pertumbuhan baru tidak mudah diraih, dan pangsa pasar harus terus dijaga dari para pesaing kecil. Namun hal ini juga menegaskan bahwa Nike tetap menjadi merek yang sangat relevan, dan meskipun menghadapi tantangan, perusahaan memiliki fondasi kuat untuk melangkah maju," tutupnya.