SETC Dorong Inovasi Teknologi Hemat Energi Nelayan, Tekan Biaya Operasional Hingga 50 Persen
Sampoerna Entrepreneurship Training Center (SETC) memperkuat kapasitas nelayan melalui Inovasi Teknologi Hemat Energi Nelayan, converter kit BBG, untuk menekan biaya operasional dan meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat pesisir.
Sampoerna Entrepreneurship Training Center (SETC) gencar meningkatkan kapasitas nelayan dan pelaku usaha kecil di Indonesia. Program Collaborator Hub menjadi wadah utama untuk menghadirkan inovasi teknologi hemat energi berupa converter kit berbahan bakar gas (BBG). Inisiatif ini diharapkan mampu mendorong kemandirian ekonomi masyarakat pesisir.
Melalui pertemuan daring pada Sabtu (18/4), Direktur SETC Vivi Anggraeni menjelaskan tujuan program ini kepada masyarakat nelayan Sungai Kakap, Kubu Raya, Kalimantan Barat. Program ini berfokus pada penguatan kapabilitas sumber daya manusia agar pelaku usaha dapat naik kelas dan berdaya saing. Pendampingan berbasis praktik, jejaring kolaborasi, dan akses pasar menjadi pilar utama.
Collaborator Hub merupakan jejaring UMKM binaan SETC yang menjadi bagian dari program keberlanjutan "Sampoerna untuk Indonesia". Program ini bekerja sama dengan Innotech Foundation sebagai local enabler. Tujuannya adalah mengaktifkan ekosistem pemberdayaan UMKM, termasuk komunitas nelayan, dengan pendekatan kolaboratif.
Memperkuat Kapasitas UMKM dengan Kolaborasi Inovatif
Program Collaborator Hub dari SETC mengusung pendekatan kolaboratif yang unik. Pendekatan ini secara efektif menghubungkan inovator, pelaku usaha, dan masyarakat luas. Tujuannya adalah mendorong adopsi teknologi tepat guna yang benar-benar menjawab kebutuhan di lapangan.
Vivi Anggraeni, Direktur SETC, menegaskan bahwa jejaring ini berperan penting sebagai bagian dari program keberlanjutan "Sampoerna untuk Indonesia". Kerja sama dengan Innotech Foundation memperkuat peran Collaborator Hub sebagai local enabler. Ini membantu mengaktifkan ekosistem pemberdayaan UMKM, termasuk komunitas nelayan yang menjadi target utama.
Melalui inisiatif ini, SETC tidak hanya memberikan pelatihan, tetapi juga membangun sebuah ekosistem. Ekosistem ini memungkinkan transfer pengetahuan dan teknologi. Hal ini menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan usaha kecil.
Converter Kit BBG: Solusi Hemat Energi untuk Nelayan
Salah satu implementasi konkret dari program ini adalah pelatihan penggunaan converter kit ABG. Teknologi konversi energi ini memungkinkan mesin berbahan bakar minyak beralih menggunakan bahan bakar gas yang lebih hemat, efisien, dan ramah lingkungan. Ini merupakan langkah strategis untuk mengatasi tantangan biaya operasional.
Vivi Anggraeni menjelaskan bahwa teknologi ini menjadi solusi strategis bagi nelayan dan pelaku usaha kecil. Mereka selama ini sering menghadapi tekanan biaya operasional akibat fluktuasi harga BBM. Penggunaan BBG mampu menekan biaya bahan bakar hingga 30–50 persen, sehingga secara langsung meningkatkan margin usaha nelayan.
Program ini dijalankan melalui rangkaian kegiatan terintegrasi yang komprehensif. Mulai dari sosialisasi, workshop, hingga pelatihan teknis terkait cara kerja, penggunaan, dan instalasi alat. Peserta juga mendapatkan pengalaman langsung melalui demonstrasi pemasangan converter kit pada mesin perahu, memastikan pemahaman praktis yang mendalam.
Dampak Berkelanjutan dan Peluang Ekonomi Baru
Collaborator Hub tidak hanya berhenti pada pelatihan awal, tetapi juga mendorong terciptanya efek berkelanjutan di masyarakat. Pembentukan local technician dan local champion menjadi fokus penting program ini. Nelayan tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga berpotensi menjadi agen adopsi teknologi di wilayahnya sendiri.
Keterampilan instalasi dan perawatan yang diperoleh dari pelatihan ini juga membuka peluang usaha baru di bidang jasa teknis. Ini menciptakan lapangan kerja lokal dan meningkatkan kemandirian ekonomi. Amin Bengas, inovator converter kit ABG, menyambut baik implementasi program SETC ini. Ia menilai program ini sejalan dengan tujuannya dalam menciptakan teknologi untuk membantu masyarakat menekan biaya operasional usaha.
Dari sisi sosial, program Inovasi Teknologi Hemat Energi Nelayan ini dinilai mampu meningkatkan kemandirian energi masyarakat. Selain itu, program ini juga menciptakan tenaga kerja terampil di tingkat lokal. Dari aspek lingkungan, penggunaan gas sebagai bahan bakar menghasilkan emisi yang lebih rendah dibandingkan BBM, mendukung keberlanjutan lingkungan.
Sumber: AntaraNews