Sektor Hilirisasi Makin Timpang, Gaji Tenaga Kerja Asing di Indonesia 10 Kali Lipat Lebih Tinggi dari Lokal
Ketimpangan upah antara TKA dan tenaga kerja lokal banyak dijumpai di kawasan hilirisasi.
Ekonom dari The Reform Initiative, Wildan Syafitri, menyoroti ketimpangan gaji atau upah tenaga kerja asing (TKA) dan tenaga kerja lokal di wilayah industri hilirisasi mineral.
Dalam catatannya, ketimpangan upah antara TKA dan tenaga kerja lokal banyak dijumpai di kawasan hilirisasi seperti di Konawe, Sulawesi Tenggara hingga Batam.
"Banyak isu yang kita dengar bahwa di satu sisi pekerja asing ini mendapatkan value atau upah yang lebih tinggi Tetapi di satu sisi pekerja lokal ini rendah," ujar Wildan dalam acara Diskusi Hasil Riset Tantangan dan Implikasi Hilirisasi Mineral di Indonesia di Plataran Senayan, Jakarta, Senin (3/1).
Wildan mencontohkan untuk gaji seorang tenaga kerja asing bisa mencapai 10 kali lipat dari tenaga lokal di wilayah Konawe. Dia mencontohkan gaji seorang tenaga konsultan asing bisa mencapai Rp100 juta per bulan.
"Jadi saya pernah menghitung itu hampir 10 kali lipat ya, kalau misalnya orang Indonesia yang bekerja di luar negeri di luar negeri pun ya, dengan orang luar negeri yang bekerja di Indonesia, itu sekitar 10 kali lipat. Jadi kalau ada konsultan asing di sini ya 100 juta," bebernya.
Selain itu, dominasi TKA di sektor hilirisasi juga berada pada posisi pekerjaan lebih tinggi. Dia mencontohkan, di kawasan hilirisasi Konawe posisi tingkat manajerial masih banyak diisi TKA ketimbang tenaga kerja lokal.
"Kendala utama adalah recruitment di Konawe ya Ini kurang transparan dan dominasi TKA pada posisi managerial," tegasnya.
Faktor Ketimpangan Gaji
Dia bilang ketimpangan ini terjadi akibat rendahnya tingkat pendidikan hingga keterampilan atau skill yang dimiliki tenaga kerja lokal dibandingkan TKA. Hal ini mengakibatkan tenaga kerja lokal sulit untuk mengisi posisi kerja lebih tinggi.
Terlepas dari hal itu, diakuinya bahwa hilirisasi sektor minerba terbukti mampu mendorong perekonomian lebih tinggi. Wildan mencontohkan, sejumlah daerah sentra hilirisasi berhasil menciptakan pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dibandingkan tingkat nasional.
"Misalnya di Batam dan di Konawe ini pertumbuhannya bisa mencapai 22 persen dibanding kita (Indonesia) yang sekarang pertumbuhan secara umum itu hanya 5 persen," tegasnya.
Oleh karena itu, Wildan berharap pemerintah menaruh perhatian serius terhadap isu ketimpangan upah di sektor ketenagakerjaan hilirisasi. Dengan ini, tenaga kerja lokal dapat bersaing dengan TKA.
"Jangan sampai ini (hilirisasi) tentu saja, ada yang dikorbankan, adalah pekerja lokal. Isu tentang pekerja lokal ini juga akan kita lihat juga nanti di riset kami, sekaligus juga pekerja asing bagaimana ke depan nanti kita akan melihat pekerja asing dan pekerja lokal ini mereka berharmoni disitu, berharmonisasi seperti apa Kemudian tujuan penelitian kami," tandasnya.