Saatnya Indonesia Serius Menerapkan ESG di Semua Sektor
ESG pada akhirnya bukan sekadar tren atau jargon pemasaran, melainkan tiket masuk ke masa depan.
Di banyak negara, istilah ESG (Environmental, Social, and Governance) bukan lagi jargon korporasi. ESG sudah menjadi pedoman baru dalam menjalankan bisnis. Dari perusahaan energi raksasa di Eropa hingga bank digital di Singapura, ESG menjadi standar yang menentukan arah investasi, reputasi, bahkan keberlangsungan usaha.
Indonesia, dengan kekayaan alam dan populasi yang terus bertumbuh, sejatinya berada di persimpangan jalan. Apakah kita akan mengikuti arus global menuju pembangunan berkelanjutan, atau tetap menunda hingga tertinggal jauh?
Pasar ESG global hari ini tumbuh dengan kecepatan yang sulit diabaikan. Nilainya diperkirakan mencapai lebih dari 33 triliun dolar AS pada 2024, dan diproyeksikan melonjak hingga 125 triliun dolar pada tahun 2032. Angka ini mencerminkan gelombang modal besar yang kini hanya mau mengalir ke perusahaan dengan komitmen nyata terhadap lingkungan, sosial, dan tata kelola yang baik. Artinya, negara atau perusahaan yang menolak beradaptasi berisiko ditinggalkan investor.
Belajar dari Mereka yang Sudah Melangkah
Bukti keberhasilan sudah terlihat di berbagai belahan dunia. Uni Eropa misalnya, sejak 2018 menerapkan Sustainable Finance Action Plan yang mewajibkan perusahaan melaporkan jejak karbon dan dampak sosial mereka. Hasilnya, investasi hijau melonjak dan konsumen kian percaya pada merek yang transparan.
Di Jepang, dana pensiun terbesar di dunia, Government Pension Investment Fund, hanya menyalurkan triliunan dolar ke perusahaan dengan skor ESG tinggi, memaksa korporasi Jepang berlomba memperbaiki standar mereka.
Sementara Singapura menjadikan ESG sebagai strategi nasional. Bank-bank di sana bahkan menolak memberi kredit bagi proyek yang tidak memenuhi standar keberlanjutan. Kota negara itu kini menjelma sebagai pusat green finance Asia, menarik investor global yang haus proyek ramah lingkungan.
Indonesia tentu tidak bisa berpangku tangan. Kaya sumber daya alam namun rentan krisis iklim, negeri ini justru berpeluang menjadi pemain besar bila ESG benar-benar diterapkan. Investor global kini menilai perusahaan bukan hanya dari neraca keuangan, tetapi juga skor keberlanjutan.
Bank Mandiri misalnya sudah menunjukkan arah itu. Skor ESG bank milik negara ini menurun risikonya dari 28,2 pada 2024 menjadi hanya 17,5 di awal 2025 menurut Sustainalytics, menandakan tata kelola dan praktik keberlanjutannya makin solid. PT Wijaya Karya juga masuk daftar 25 perusahaan dunia dengan skor ESG terbaik untuk sektor konstruksi dan rekayasa versi S&P Global, sementara Indonesia Infrastructure Finance berhasil meraih rating tinggi dari Sustainable Fitch.
Sejumlah sektor dalam negeri pun relatif siap. Riset Katadata Insight Center 2025 menempatkan perkebunan, energi, dan pertambangan sebagai tiga sektor teratas dalam indeks ESG nasional. Skor mereka berada di kisaran 58 hingga 64, memperlihatkan adanya upaya serius meski jalan masih panjang. Namun survei terbaru juga menunjukkan jurang pemahaman publik.
Sebanyak 77 persen masyarakat mengaku sudah menerapkan praktik ramah lingkungan dan sosial dalam kehidupan sehari-hari, tetapi hanya 18 persen yang benar-benar memahami konsep ESG secara utuh. Hal ini menegaskan bahwa edukasi dan regulasi menjadi kunci.
Indonesia Menatap ESG
Manfaat dari penerapan ESG di Indonesia bisa sangat luas. Ekonomi hijau akan membuka lapangan kerja baru dari energi terbarukan, pertanian berkelanjutan, hingga industri daur ulang. Reputasi global pun meningkat, menjadikan Indonesia magnet investasi hijau di Asia Tenggara. Lebih jauh, tata kelola yang transparan akan membuat perusahaan dan ekonomi lebih tangguh menghadapi krisis iklim maupun guncangan global.
Sebaliknya, bila Indonesia menunda, konsekuensinya tidak main-main. Investor asing bisa mengalihkan modal ke negara yang lebih siap. Krisis lingkungan—banjir, kebakaran hutan, hingga polusi udara—akan makin menghantam ekonomi rakyat. Reputasi Indonesia pun bisa merosot di mata dunia, dianggap sebagai negara dengan standar rendah yang sulit dipercaya dalam rantai pasok global.
ESG pada akhirnya bukan sekadar tren atau jargon pemasaran, melainkan tiket masuk ke masa depan. Negara-negara lain sudah membuktikan bahwa mengintegrasikan lingkungan, sosial, dan tata kelola bukan hanya membuat bumi lebih sehat, tetapi juga menumbuhkan ekonomi yang lebih kuat. Bagi Indonesia, pilihan ada di depan mata: tetap berputar dalam model lama yang rapuh, atau berani melangkah menuju standar baru yang lebih berkelanjutan. Karena di ujung jalan, bukan hanya perusahaan yang diuntungkan, melainkan seluruh rakyat dan generasi mendatang.