Mengurai Makna 'Environment' dalam ESG: Menyelamatkan Bumi, Menjamin Masa Depan
Indikator Environment dalam ESG sebenarnya sederhana untuk dipahami. Ia mengukur bagaimana sebuah organisasi memperlakukan alam di sekitarnya.
Di tengah derasnya arus perubahan iklim, kata Environment dalam kerangka ESG (Environmental, Social, and Governance) bukan lagi sekadar istilah teknis bagi para pebisnis. Ia adalah cermin yang menilai sejauh mana sebuah perusahaan, bahkan sebuah negara, peduli terhadap kelestarian bumi. Bagi banyak orang awam, istilah “E” dalam ESG mungkin terdengar rumit, padahal maknanya begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari: udara yang kita hirup, air yang kita minum, hutan yang kita warisi, dan tanah tempat kita berpijak.
Indikator Environment dalam ESG sebenarnya sederhana untuk dipahami. Ia mengukur bagaimana sebuah organisasi memperlakukan alam di sekitarnya. Misalnya, apakah perusahaan mengurangi penggunaan energi fosil dan beralih ke energi terbarukan? Apakah mereka mengelola limbah dengan benar agar tidak mencemari sungai? Apakah hutan tetap dilestarikan ketika membuka lahan perkebunan? Atau, sebaliknya, apakah mereka justru membuang emisi karbon tanpa kendali, membakar hutan, dan mengabaikan polusi? Semua hal itu adalah potret nyata bagaimana 'E' dalam ESG dinilai.
Untuk lebih jelas, ada sejumlah aspek yang biasa digunakan untuk mengukur dampak aktivitas perusahaan terhadap lingkungan. Emisi gas rumah kaca (GHG emissions) menjadi indikator utama, karena emisi berlebihan berkontribusi pada pemanasan global. Konsumsi energi dan penggunaan energi terbarukan juga penting, mengingat transisi energi kini jadi isu global. Perusahaan pun dinilai dari cara mereka mengelola limbah: apakah didaur ulang, digunakan kembali, atau setidaknya dialihkan dari tempat pembuangan akhir. Penggunaan air dan konservasi sumber daya alam tak kalah krusial, terutama bagi industri di Indonesia yang sangat bergantung pada air.
Selain itu, ada faktor polusi udara, tanah, dan air yang berhubungan langsung dengan kualitas hidup masyarakat di sekitar operasi perusahaan. Perlindungan keanekaragaman hayati (biodiversity protection) juga masuk hitungan, terutama bagi negara tropis seperti Indonesia yang memiliki flora dan fauna endemik. Terakhir, perusahaan juga diukur dari kebijakan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim—apakah mereka sudah punya strategi menghadapi banjir, kekeringan, atau kenaikan suhu global yang kian nyata?
Ambil contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Sebuah pabrik kertas bisa memilih menggunakan kayu dari hutan yang dikelola secara berkelanjutan ketimbang menebang hutan alam. Atau sebuah restoran bisa mengurangi sampah plastik dengan mengganti sedotan sekali pakai dengan bahan ramah lingkungan. Bahkan rumah tangga pun sesungguhnya sudah menjalankan prinsip environment ketika memilah sampah organik dan anorganik, atau menanam pohon kecil di pekarangan untuk menyerap polusi. ESG mengajarkan bahwa sekecil apa pun langkah menjaga bumi, ketika dilakukan bersama-sama, akan memberi dampak besar.
Menariknya, sejumlah perusahaan di Indonesia sudah mulai menerapkan indikator lingkungan ini dengan serius. PT Pertamina Geothermal Energy (PGE), misalnya, mencatat penghindaran emisi karbon sebesar 3,971 juta ton CO₂ pada tahun 2023 berkat pengoperasian panas bumi yang efisien. PGE juga masuk dalam Indeks ESG Quality 45 KEHATI sebagai salah satu perusahaan dengan kinerja keberlanjutan terbaik. PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) berhasil mengurangi emisi lebih dari 153 ribu ton CO₂e, serta melakukan penghematan air lebih dari 118 ribu meter kubik melalui inovasi konservasi.
Di sektor konstruksi, Semen Indonesia Group (SIG) menargetkan efisiensi energi, transisi ke energi terbarukan, serta mengembangkan produk semen hijau yang lebih ramah lingkungan. Perusahaan transportasi Blue Bird mulai memperluas armada kendaraan listrik dan hybrid, sekaligus memasang panel surya untuk operasionalnya. Di sektor makanan dan minuman, Multi Bintang Indonesia telah menggunakan lebih dari 32% energi terbarukan, dan mendaur ulang hingga 98% limbah produksinya. Bahkan program Hutan Pertamina dijalankan untuk melindungi keanekaragaman hayati lewat penanaman pohon, mangrove, serta konservasi spesies endemik. Semua contoh ini menunjukkan bahwa indikator lingkungan dalam ESG bukan sekadar teori, melainkan praktik nyata yang sudah berjalan di Indonesia.
Credit: Pertamina
@ 2025 merdeka.comMengapa aspek environment ini menjadi begitu penting, khususnya untuk negeri kita? Jawabannya sederhana: Indonesia adalah negara yang kaya sekaligus rapuh. Kita punya hutan tropis yang termasuk paru-paru dunia, lahan pertanian yang subur, serta garis pantai terpanjang kedua di dunia.
Namun, semua itu sedang terancam oleh deforestasi, polusi udara di kota besar, banjir tahunan, hingga ancaman naiknya permukaan laut akibat perubahan iklim. Bila aspek lingkungan diabaikan, dampaknya bukan hanya hilangnya reputasi di mata investor global, tetapi juga ancaman langsung terhadap kehidupan masyarakat: gagal panen karena kekeringan, penyakit akibat udara kotor, hingga tenggelamnya wilayah pesisir.
Negara lain sudah membuktikan bahwa menjaga lingkungan bisa sejalan dengan pertumbuhan ekonomi. Jerman menjadi pionir energi surya dan angin, menciptakan jutaan lapangan kerja hijau. Denmark menjadikan kincir angin bukan hanya ikon budaya, tetapi juga sumber listrik nasional. Kosta Rika berani melindungi hutan dan mendorong kendaraan listrik, menjadikannya salah satu negara dengan emisi karbon terendah di dunia. Semua itu adalah bukti bahwa environment bukan beban, melainkan peluang.
Bagi Indonesia, inspirasi itu seharusnya menjadi dorongan. Bayangkan bila kita serius mengembangkan energi surya di Nusa Tenggara, memaksimalkan panas bumi di jalur cincin api, atau membersihkan sungai besar di Sumatra dan Kalimantan dari limbah industri. Bayangkan pula bila keanekaragaman hayati kita dijaga bukan hanya untuk pariwisata, tetapi juga sebagai warisan ekologis dunia. Dengan langkah itu, Indonesia tak hanya menjaga bumi, tetapi juga menjadi magnet investasi hijau yang tengah diburu pasar global.
PT PLN (Persero) melakukan penanaman pohon serentak di unit-unit kerja se-Indonesia untuk memperingati Hari Menanam Pohon Indonesia (HPMI) 2022. (Dok PLN)
@ 2023 merdeka.comNamun jalan menuju sana tentu tidak mudah. Regulasi harus diperkuat, transparansi perusahaan dalam melaporkan emisi dan limbah perlu ditingkatkan, dan insentif harus diberikan bagi usaha ramah lingkungan. Edukasi masyarakat juga tak kalah penting, agar orang awam tak menganggap environment hanya urusan korporasi besar, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari. Dari memilah sampah, menggunakan transportasi umum, hingga menanam pohon, semua itu adalah bagian dari 'E' dalam ESG.
Pada akhirnya, Environment dalam ESG bukan sekadar angka di laporan keberlanjutan. Ia adalah cermin masa depan: apakah kita ingin meninggalkan bumi yang layak huni bagi anak cucu, atau hanya mewariskan krisis? Dunia sudah bergerak, dan Indonesia tidak boleh tertinggal. Menjaga lingkungan bukan pilihan, melainkan kewajiban. Dan dalam konteks ESG, environment adalah pondasi utama yang menentukan apakah ekonomi kita tumbuh dengan merusak atau justru berkembang sambil menyelamatkan.