Rosan Tekankan Kolaborasi Riset dan Industri Pacu Hilirisasi Nasional
Menteri Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Rosan Roeslani, menyoroti urgensi Kolaborasi Riset dan Industri guna mengakselerasi hilirisasi, menciptakan nilai tambah, dan ekosistem industri berkelanjutan.
Jakarta, Minggu (28/6) – Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Roeslani, menegaskan pentingnya sinergi antara dunia riset dan industri. Kolaborasi ini menjadi kunci utama dalam mempercepat hilirisasi yang mampu memberikan nilai tambah signifikan bagi perekonomian nasional.
Rosan menjelaskan bahwa investasi dan hilirisasi tidak hanya bertujuan meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, namun juga membentuk fondasi industri nasional. Industri yang diharapkan adalah yang produktif, transparan, berdaya saing, serta memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan pekerja.
Arah kebijakan hilirisasi Indonesia harus mampu menciptakan ekosistem industri yang berkelanjutan. Hal ini disampaikan Rosan saat menyampaikan keynote speech dalam Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains Teknologi dan Industri (KSTI) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Sabtu (27/6).
Pentingnya Kolaborasi Riset dan Industri dalam Hilirisasi
Menteri Rosan Roeslani menekankan bahwa investasi yang masuk ke Indonesia tidak hanya diukur dari besaran nilai modalnya semata. Lebih dari itu, investasi harus mampu menciptakan lapangan kerja berkualitas, meningkatkan produktivitas nasional, memperkuat penguasaan teknologi, dan memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian.
Ia meyakini bahwa kontribusi dari para akademisi, peneliti, mahasiswa, dan mahasiswi di universitas, khususnya di bidang riset dan pengembangan, sangat positif. Oleh karena itu, kolaborasi ke depan perlu dipikirkan agar hasil positif dari investasi dan hilirisasi dapat diimplementasikan ke dalam industri.
Keterhubungan antara kegiatan riset dan kebutuhan industri menjadi faktor penting dalam membangun industri nasional yang sehat dan berkelanjutan. Rosan menambahkan bahwa kepastian regulasi, tata kelola yang baik (good governance), serta kemudahan berusaha akan meningkatkan kepercayaan investor sekaligus menciptakan persaingan usaha yang adil.
Kebijakan Pemerintah Mendukung Ekosistem Inovasi
Rosan mengungkapkan bahwa kebijakan hilirisasi telah menunjukkan hasil yang positif. Sepanjang tahun 2025, realisasi investasi Indonesia berhasil mencapai Rp1.931,2 triliun, angka ini tumbuh 12,7 persen secara tahunan (year-on-year).
Capaian ini melampaui target pemerintah dengan angka 101,3 persen, dan berhasil menyerap lebih dari 2,7 juta tenaga kerja langsung. Jumlah penyerapan tenaga kerja ini meningkat 10,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Untuk memperkuat ekosistem inovasi nasional, pemerintah telah menyiapkan insentif Super Tax Deduction hingga 300 persen bagi kegiatan riset dan pengembangan. Selain itu, insentif serupa hingga 200 persen juga diberikan untuk kegiatan pendidikan dan pelatihan.
Menurut Rosan, kebijakan insentif ini akan memberikan manfaat optimal jika diiringi komitmen seluruh pemangku kepentingan. Komitmen tersebut diperlukan dalam memperkuat kolaborasi guna menghasilkan inovasi yang dapat diterapkan secara langsung di sektor industri.
Meningkatkan Kualitas SDM untuk Industri Berkelanjutan
Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) merupakan bagian tak terpisahkan dari agenda hilirisasi nasional. Pembangunan industri harus berjalan seiring dengan peningkatan kompetensi tenaga kerja.
Peningkatan kompetensi ini dapat dicapai melalui berbagai upaya, termasuk pelatihan, riset, penguatan keterampilan, dan peningkatan keselamatan kerja. Selain itu, terciptanya hubungan industrial yang harmonis juga sangat esensial dalam mendukung keberlanjutan industri.
Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) turut berperan aktif dalam mendorong sinergi ini. Penyelenggaraan Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains Teknologi dan Industri (KSTI) 2026 merupakan salah satu wujud komitmen tersebut.
Sumber: AntaraNews