Pramono Sebut Wisatawan Kini Lebih Betah di Jakarta: Sekarang Bisa Sampai 3 Hari
Perubahan ini terjadi karena adanya pergeseran persepsi terhadap Jakarta yang kini semakin menarik dari sisi pariwisata, khususnya wisata belanja.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut bahwa ada tren baru di sektor pariwisata ibu kota, yakni meningkatnya durasi menetap para wisatawan m di Jakarta dalam beberapa waktu terakhir.
Pramono menyebut, jika sebelumnya rata-rata wisatawan hanya singgah singkat, kini mereka cenderung menetap lebih lama karena Jakarta mulai dipandang sebagai destinasi wisata, bukan sekadar kota bisnis.
"Sekarang ini ada tren baru, orang ke Jakarta ini mereka akan bertahan lebih lama di Jakarta. Kalau dulu average orang tinggal di Jakarta itu rata-rata hanya 1,25 hari atau 1,5 hari, sekarang rata-rata sudah 2,8 sampai dengan tiga hari,” kata Pramono di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (16/4).
Menurutnya, perubahan ini terjadi karena adanya pergeseran persepsi terhadap Jakarta yang kini semakin menarik dari sisi pariwisata, khususnya wisata belanja.
"Kenapa itu terjadi? Karena mereka merasa bahwa di Jakarta bukan semata-mata kota bisnis tetapi juga menjadi kota wisata. Bahkan wisatanya yang utama itu sekarang adalah wisata belanja," katanya.
Pramono juga menyinggung faktor ekonomi dan infrastruktur yang turut mendorong tren tersebut. Dia menyebut nilai tukar Rupiah yang tertekan membuat harga-harga relatif lebih kompetitif bagi wisatawan, ditambah akses transportasi menuju Jakarta yang semakin baik.
"Mungkin karena kurs kita lagi tertekan dan kita relatif harganya bisa menjadi lebih murah dan juga infrastruktur transportasi ke Jakarta sekarang menjadi lebih baik," ucapnya.
Transaksi Belanja Meningkat
Pramono bilang, dampak dari tren ini terlihat dari meningkatnya transaksi di pusat perbelanjaan di ibu kota yang turut mendorong pertumbuhan ekonomi Jakarta. Ia merinci, lonjakan transaksi terjadi saat periode libur akhir tahun dan hari besar keagamaan, seperti perayaan Christmas dan Idulfitri.
"Dalam waktu kurang dari 10 hari, Jakarta itu ketika menyambut Christmas transaksinya Rp15,25. Kemarin ketika menghadapi Ramadan dan Idulfitri, dari 4 Maret sampai dengan 30 Maret, transaksi di Jakarta itu 67,52 triliun rupiah,” kata Pramono.
Ia menegaskan, capaian tersebut tidak lepas dari kebijakan insentif yang diberikan Pemprov DKI Jakarta kepada pelaku usaha saat hari besar keagamaan tersebut.
Kerja Sama Komersial
“Kenapa ini bisa terjadi? Karena itu tadi, kami memberikan kepercayaan pada pelaku dunia usaha dan memberikan insentif pajak. Yang penting transparan, terbuka,” ujarnya.
Selain itu, ia juga menyinggung soal kerja sama komersial dengan memanfaatkan ruang publik sebagai sumber pendapatan baru. Salah satunya melalui penamaan halte transportasi yang kini melibatkan sektor swasta.
"Bahkan sekarang kalau Bapak, Ibu perhatikan semua halte di Jakarta udah nggak ada yang nggak ada namanya. Karena begitu dikasih nama, ada cuannya," kata Pramono.