Prabowo Resmikan Megaproyek Kilang Raksasa RDMP Balikpapan Senilai Rp 123 Triliun
Presiden Prabowo merasa bangga dengan pencapaian kapasitas produksi Kilang RDMP Balikpapan yang kini mampu mencapai 360 ribu barel per hari setelah diresmikan.
Presiden Prabowo Subianto telah meresmikan megaproyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan, yang merupakan kilang minyak terbesar dengan total investasi mencapai Rp 123 triliun. Proyek ini bertujuan untuk memodernisasi kilang yang ada, sehingga dapat meningkatkan kapasitas pengolahan minyak hingga 360 ribu barel per hari.
Dalam sambutannya, Prabowo mengungkapkan, "Tadi kita sudah disebut bahwa acara seperti ini pernah dilakukan tahun 1994, berarti 32 tahun yang lalu. Ya, lumayan, cukup bersejarah. Tentunya saya menyambut bahagia dan merasa sangat bangga atas prestasi yang kita hasilkan hari ini dengan peresmian ini," di Balikpapan, Kalimantan Timur, pada Selasa (12/1/2025).
Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam kesuksesan proyek kilang tersebut, yang dianggap sebagai prestasi penting bagi negara.
Prabowo menambahkan, "Ke depan kita juga akan mengembangkan tenaga surya dengan panel-panel, kita akan elektrifikasi sehingga kita sungguh-sungguh dapat menghasilkan energi kita sendiri. Tidak perlu kita impor energi dari luar. Ini sasaran kita."
Ia berharap dalam lima tahun ke depan, Indonesia dapat mencapai kemandirian energi, meskipun ia mengakui bahwa jika perlu waktu lebih lama, itu tidak menjadi masalah, asalkan tujuan tersebut tercapai.
Lebih lanjut, Prabowo menekankan pentingnya bagi rakyat Indonesia untuk menjadi bangsa yang kuat dan mandiri. "Karena itu saya berbahagia, bangga hari ini satu langkah lagi di bidang energi kita menuju kemampuan kita untuk mandiri, kemampuan kita untuk berdiri di atas kaki kita sendiri. Kita tidak boleh tergantung energi kita dari luar, tidak boleh. Kita ingin merdeka, dan kita mampu. Kita miliki semua, diberi karunia oleh Yang Maha Kuasa. Tinggal kita mampu atau tidak sebagai bangsa," tegasnya.
Proyek Terintegrasi yang Strategis
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron menjelaskan bahwa RDMP Balikpapan adalah proyek strategis yang dibangun secara terintegrasi, mulai dari penyediaan bahan baku, pipa transfer, hingga proses produksinya.
"RDMP Balikpapan menjadi fondasi penting penguatan sistem energi nasional. Melalui pengembangan infrastruktur yang terintegrasi, Pertamina memastikan keandalan pasokan minyak mentah dan operasional kilang yang lebih efisien dan berkelanjutan," ujarnya pada Minggu (11/1/2026).
Proyek RDMP Balikpapan ini dirancang dan dilaksanakan dalam tiga lingkup utama yang saling terhubung dan terintegrasi untuk memastikan kesiapan operasional kilang serta keberlanjutan pasokan energi nasional.
Lingkup pertama adalah early work, yang mencakup 16 paket pekerjaan pendahuluan, termasuk persiapan dan pematangan lahan, pembangunan infrastruktur dasar, penyediaan utilitas sementara, serta pembangunan fasilitas penunjang konstruksi.
Pada lingkup kedua, Pertamina melakukan pengembangan dan pembangunan fasilitas utama kilang yang mencakup 39 unit, di mana terdiri dari 21 unit proses baru dan 13 unit fasilitas utilitas pendukung. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan proyek RDMP Balikpapan dapat berkontribusi signifikan terhadap ketahanan energi nasional dan meningkatkan efisiensi operasional kilang.
Revitalisasi Empat Unit Fasilitas Pengolahan
Proyek ini tidak hanya fokus pada pembangunan unit baru, tetapi juga melakukan revitalisasi terhadap empat unit utama dalam proses pengolahan. Unit-unit tersebut meliputi unit distilasi minyak mentah, unit pengolahan residu, serta unit hydrocracking dan hydrotreating, termasuk pemulihan LPG.
"Pembangunan dan revitalisasi unit-unit ini bertujuan untuk meningkatkan fleksibilitas dan keandalan pengolahan minyak mentah, sekaligus mendukung peningkatan kualitas produk BBM sesuai standar yang lebih tinggi," jelas Baron.
Selain itu, lingkup ketiga proyek ini adalah penguatan infrastruktur untuk penerimaan dan penyaluran minyak mentah. Ini mencakup pembangunan dua tangki penyimpanan minyak mentah dengan kapasitas masing-masing mencapai satu juta barel.
Pada tahap ini, Pertamina juga membangun jaringan pipa, transfer line onshore dan offshore berdiameter 20 inci, serta unloading line onshore dan offshore berdiameter 52 inci. Fasilitas Single Point Mooring (SPM) juga dibangun dengan kapasitas sandar kapal hingga 320.000 DWT.
"Infrastruktur ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi, keamanan, dan keandalan penerimaan minyak mentah dari kapal tanker berkapasitas besar," pungkas Baron.