Perputaran Uang di Lebaran 2025 Anjlok, Penurunan Pemudik hingga Badai PHK Jadi Biang Kerok
Sebagian besar perputaran uang ini diprediksi akan tersebar di Pulau Jawa.
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia memproyeksikan bahwa perputaran uang pada Lebaran Idulfitri 2025 diperkirakan mencapai Rp137,9 triliun. Angka ini mengalami penurunan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat mencapai Rp157,3 triliun.
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Pengembangan Otonomi Daerah, Sarman Simanjorang, menjelaskan bahwa proyeksi ini didasarkan pada jumlah pemudik yang diperkirakan mencapai 146,48 juta jiwa atau sekitar 36,26 juta keluarga. Setiap keluarga diasumsikan membawa uang sebesar Rp3,75 juta, yang meningkat 10 persen dibandingkan tahun lalu. "Jumlah ini masih berpotensi naik, angka rata-rata per keluarga diambil angka yang minimal dan moderat," ujarnya dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (4/4).
Sebagian besar perputaran uang ini diprediksi akan tersebar di Pulau Jawa, yang merupakan tujuan utama mudik, seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Yogyakarta, Banten, dan sekitar Jabodetabek. Sekitar 60 persen dari total perputaran uang ini akan berada di wilayah tersebut, sementara 40 persen lainnya akan tersebar di luar Jawa, termasuk Sumatera, Kalimantan, Bali, NTB, Sulawesi, NTT, Maluku, dan Papua.
Menurut Sarman, beberapa sektor usaha yang akan merasakan dampak positif dari perputaran uang ini antara lain industri makanan dan minuman, fashion, ritel, pedagang sembako, hingga sektor pariwisata yang meliputi hotel, restoran, cafe, dan destinasi wisata. Tak hanya itu, sektor transportasi darat dan udara juga akan menikmati peningkatan permintaan, baik itu bus, kereta api, pesawat, hingga transportasi laut.
Namun, penurunan perputaran uang ini tidak bisa dilepaskan dari sejumlah faktor. Salah satunya adalah penurunan jumlah pemudik yang diperkirakan hanya mencapai 146,48 juta orang pada Lebaran 2025, mengalami penurunan 24 persen dibandingkan tahun lalu yang mencapai 193,6 juta pemudik. Hasil survei yang dilakukan oleh Kementerian Perhubungan mencatat bahwa pemudik tahun ini jauh lebih sedikit, berimbas pada penurunan transaksi uang selama libur Lebaran.
Penurunan jumlah pemudik ini juga dipengaruhi oleh jarak libur yang dekat antara Natal dan Tahun Baru (Nataru) dengan Lebaran, sehingga banyak masyarakat yang tidak merencanakan pulang kampung lagi. Selain itu, kondisi ekonomi yang melemah, serta maraknya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) juga menjadi faktor yang menekan daya beli masyarakat.
"Akibat tren PHK, banyak masyarakat yang tertekan secara ekonomi, sehingga mereka cenderung menghemat pengeluaran untuk berbelanja atau pulang kampung," tambah Sarman.
Lambannya Respons Pemerintah
Bank Indonesia juga telah menyiapkan uang layak edar (ULE) sebesar Rp180,9 triliun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama Ramadan dan Lebaran 2025. Namun, Sarman memprediksi uang tersebut tidak akan terserap sepenuhnya akibat penurunan jumlah pemudik dan berkurangnya transaksi uang.
Meski demikian, Kadin Indonesia tetap optimis dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal I-2025 yang diperkirakan tumbuh di kisaran 5 persen. Angka ini diharapkan dapat menjadi pondasi yang kuat untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi di kuartal II hingga IV-2025, sehingga target pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2025 sebesar 5 hingga 5,1 persen dapat tercapai.
Di sisi lain, Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) mencatat ada sekitar 60.000 buruh yang terkena PHK pada dua bulan pertama 2025, dengan 90 persen di antaranya tidak menerima pesangon maupun Tunjangan Hari Raya (THR). KSPI juga mengkritik lambatnya respons pemerintah dalam menangani masalah PHK dan memastikan hak-hak buruh, seperti yang terjadi pada buruh PT Sritex yang dipastikan tidak akan menerima THR hingga H-7 Lebaran.
“Janji Menaker tentang THR bagi buruh Sritex sebelum H-7 Lebaran patut dipertanyakan. Laporan di lapangan menunjukkan sebaliknya,” tegas Presiden KSPI Said Iqbal.