Perajin Besi Sayur Matinggi Bangkit Kembali, Produksi Alat Pertanian Pascabencana
Perajin Besi Sayur Matinggi di Tapanuli Selatan kembali berproduksi alat pertanian setelah sempat vakum akibat bencana hidrometeorologi akhir 2025, membangkitkan harapan ekonomi lokal.
Perajin besi di Desa Sipange, Kecamatan Sayur Matinggi, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), telah memulai kembali aktivitas produksi alat-alat pertanian. Pemulihan ini terjadi pascabencana hidrometeorologi yang melanda wilayah tersebut pada akhir November 2025, menyebabkan kerusakan signifikan pada infrastruktur dan aktivitas ekonomi.
Herniga Siregar, pemilik UD Parna H Galingging, menyatakan bahwa produksi sudah berjalan meskipun belum mencapai kapasitas penuh seperti sebelum bencana. Usaha ini menjadi tulang punggung ekonomi bagi banyak warga di Sayur Matinggi, menyediakan mata pencarian penting.
Dengan kembali beroperasinya bengkel-bengkel perajin, diharapkan sektor ekonomi lokal dapat berangsur pulih dari dampak bencana. Para perajin berupaya keras untuk memenuhi permintaan pasar yang sempat terhenti, menunjukkan resiliensi komunitas.
Pemulihan Produksi Alat Pertanian di Sayur Matinggi
UD Parna H Galingging, salah satu sentra Perajin Besi Sayur Matinggi, kini mampu memproduksi sekitar 30 jenis alat pertanian setiap harinya. Produk yang dihasilkan sangat beragam, meliputi parang, celurit, pisau, cangkul, hingga dodos sawit yang sangat dibutuhkan oleh sektor pertanian.
Bahan baku utama berupa besi didatangkan dari Medan dan Binjai, memastikan kualitas produk yang dihasilkan. Sementara itu, pasokan kayu serta arang diperoleh dari petani lokal, menciptakan sinergi ekonomi di daerah tersebut. Proses produksi sempat terhenti total akibat banjir bandang yang menyebabkan kelumpuhan aktivitas perdagangan dan distribusi.
"Saat banjir kami sempat vakum berjualan karena saat itu lumpuh. Namun saat ini produksi kembali berjalan membaik," kata Herniga Siregar, menggambarkan kondisi sulit yang mereka alami. Pemulihan ini menandai semangat pantang menyerah para Perajin Besi Sayur Matinggi dalam menghadapi tantangan.
Meskipun belum sepenuhnya pulih, aktivitas produksi yang kembali berjalan memberikan optimisme baru. Hal ini juga menunjukkan adaptasi para perajin terhadap kondisi pascabencana, menjaga agar roda perekonomian tetap berputar. Mereka terus berupaya meningkatkan kapasitas produksi seiring dengan membaiknya situasi.
Jaringan Distribusi dan Harapan Perbaikan Infrastruktur
Sebelum bencana, omzet usaha Perajin Besi Sayur Matinggi ini bisa mencapai Rp60 juta per bulan, menunjukkan skala bisnis yang cukup besar. Jangkauan pengiriman produk mereka juga luas, meliputi Medan, Sibolga, Ranto Prapat, bahkan hingga ke Sulawesi.
Meskipun omzet pascabencana belum pulih sepenuhnya, Herniga Siregar menyebutkan bahwa kondisinya terus membaik secara bertahap. Produksi dilakukan berdasarkan pesanan, menunjukkan adaptasi para perajin terhadap fluktuasi permintaan pasar.
Perbaikan jalur jalan yang sebelumnya terdampak banjir dan longsor kini mulai dapat dilewati, memberikan dampak positif bagi kelancaran distribusi. Akses transportasi yang lebih baik sangat krusial untuk pengiriman bahan baku dan produk jadi.
Herniga Siregar sangat berharap pemerintah dapat segera memperbaiki jalan di depan tokonya yang rusak parah. "Kalau jalan ini baik tentu berdampak pada usaha dan orang akan banyak singgah untuk membeli barang kami," ujarnya, menekankan pentingnya infrastruktur yang memadai bagi keberlanjutan dan pertumbuhan usaha Perajin Besi Sayur Matinggi.
Sumber: AntaraNews