Semangat Pemulihan Ekonomi Tanah Datar Pasca Bencana: Kisah Inspiratif dari UMKM hingga Pariwisata
Dua bulan pasca-banjir bandang, masyarakat Tanah Datar menunjukkan semangat luar biasa dalam Pemulihan Ekonomi Tanah Datar Pasca Bencana. Kisah Basri dan Bustami inspirasi kebangkitan. Bagaimana strategi pemda?
Dua bulan pasca-banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025, masyarakat di wilayah terdampak, khususnya di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Bencana dahsyat ini tidak hanya merenggut ribuan korban jiwa, tetapi juga meluluhlantakkan sendi-sendi perekonomian, pendidikan, dan kehidupan sosial di berbagai daerah.
Di tengah perjuangan yang tidak mudah, semangat untuk bangkit dan menata masa depan kembali menyala di hati para penyintas dan warga terdampak. Mereka menolak untuk berdiam diri dan menjadikan bencana sebagai alasan untuk menyerah, melainkan sebagai pemicu untuk berinovasi dan berkolaborasi.
Kabupaten Tanah Datar, salah satu daerah yang paling merasakan dampak, kini berangsur pulih dengan inisiatif lokal dan dukungan pemerintah daerah. Kisah-kisah inspiratif dari para pelaku UMKM dan petani menjadi bukti nyata resiliensi masyarakat dalam menghadapi tantangan pasca-bencana.
Kebangkitan UMKM Ikan Bilih di Tengah Tantangan
Basri, seorang pengepul sekaligus pemilik usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) ikan goreng bilih (Mystacoleucus Padangensis) di Nagari Guguak Malalo, Kecamatan Batipuh Selatan, Kabupaten Tanah Datar, menjadi salah satu contoh nyata semangat Pemulihan Ekonomi Tanah Datar Pasca Bencana. Usahanya sempat terganggu di awal bencana, ketika kualitas ikan dari nelayan Danau Singkarak menurun drastis akibat banjir bandang.
Kondisi ini memaksa Basri untuk sementara waktu tidak menerima pasokan ikan, menunggu hingga kondisi sungai dan danau membaik. Namun, penantian ini justru membawa berkah tak terduga. Beberapa minggu kemudian, hasil tangkapan ikan bilih melonjak pesat, dari rata-rata 15 kilogram menjadi 200 kilogram per hari.
Peningkatan produksi ini memiliki efek domino positif bagi masyarakat lokal. Jika sebelumnya Basri hanya mempekerjakan tiga hingga empat orang, kini ia mampu mempekerjakan 15 orang untuk membantu membersihkan dan mengolah ikan bilih. Harga beli ikan dari nelayan pun bervariasi, antara Rp50 ribu hingga Rp100 ribu per kilogram, tergantung musim dan ketersediaan.
Produk ikan bilih goreng Basri tidak hanya dipasarkan di sekitar Danau Singkarak dan Kota Payakumbuh, tetapi juga menjangkau Depok, Jawa Barat, dan Kota Dumai, Riau. Melalui usahanya, Basri tidak hanya berhasil menyekolahkan anak-anaknya, tetapi juga secara signifikan berkontribusi dalam menciptakan lapangan kerja dan menggerakkan Pemulihan Ekonomi Tanah Datar Pasca Bencana.
Perjuangan Petani Manggis Melawan Keterbatasan Akses
Semangat serupa juga ditunjukkan oleh Bustami, seorang petani manggis dari Nagari Malalo, Kecamatan Batipuh Selatan. Meskipun jalan utama menuju perkebunan manggisnya terputus total akibat banjir bandang, Bustami enggan berlarut-larut dalam keputusasaan atau hanya menunggu bantuan pemerintah.
Banjir bandang di akhir November 2025 menyebabkan sabo dam dan akses jalan utama ke hutan tempat ia menanam manggis hancur. Akibatnya, Bustami harus berjalan kaki sejauh dua kilometer, melintasi aliran sungai yang mengering penuh bebatuan besar dan tumpukan kayu, serta melalui jalan setapak terjal dan licin.
Perjuangannya semakin berat saat memanen buah manggis. Ia harus memikul dua keranjang sekaligus, masing-masing berisi 20 kilogram, sehingga total 40 kilogram manggis segar harus digendongnya melewati medan yang sulit. Awalnya, Bustami sempat membiarkan buah manggisnya membusuk karena trauma dan khawatir akan banjir susulan, yang mengakibatkan hasil panen menurun dari 200-300 kilogram menjadi sekitar 100 kilogram, dengan sebagian dimakan monyet.
Meski demikian, Bustami tetap bertekad menjual hasil panennya kepada pengepul dengan harga Rp27 ribu per kilogram. Selain bertani manggis, ia juga bekerja sebagai petani sawah dan buruh kasar, menunjukkan kegigihan luar biasa dalam Pemulihan Ekonomi Tanah Datar Pasca Bencana.
Strategi Pariwisata untuk Mempercepat Pemulihan
Pemerintah Kabupaten Tanah Datar tidak tinggal diam dalam upaya Pemulihan Ekonomi Tanah Datar Pasca Bencana. Bupati Tanah Datar, Eka Putra, menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk membangkitkan dan menggeliatkan perekonomian masyarakat melalui sektor pariwisata.
Sebagai salah satu destinasi pariwisata internasional yang kaya akan kesenian dan kebudayaan, Tanah Datar menyiapkan sejumlah agenda menarik. Salah satunya adalah tradisi pacu jawi yang diselenggarakan setiap Sabtu, menampilkan atraksi joki memacu sapi di lintasan berlumpur, sebuah warisan budaya “Luhak Nan Tuo”.
Menjelang bulan suci Ramadan, Pemerintah Kabupaten Tanah Datar juga akan menggelar pacu kuda pada 8-9 Februari 2026 di Lapangan Dang Tuanku Bukik Gombak, Kecamatan Lima Kaum. Selain itu, event menjaring ikan atau “manjalo ikan bilih” di Danau Singkarak juga menjadi daya tarik yang menyoroti keterampilan lokal dalam menangkap ikan endemik.
Bupati Eka optimistis bahwa berbagai agenda pariwisata ini akan mempercepat pertumbuhan dan pergerakan ekonomi masyarakat setelah dua bulan dihantam bencana. Semangat untuk bangkit terus mengalir di nadi masyarakat Tanah Datar, menunjukkan bahwa harapan selalu ada setelah bencana.
Sumber: AntaraNews