Nelayan Penyintas Mulai Menjala, Pemulihan Ekonomi Danau Singkarak Bergerak Bertahap
Penyintas bencana di Danau Singkarak perlahan bangkit, memulai aktivitas menjala ikan bilih. Simak bagaimana pemulihan ekonomi Danau Singkarak berlangsung di tengah tantangan pascabencana.
Aktivitas nelayan penyintas bencana di tepian Danau Singkarak, Sumatera Barat, secara bertahap kembali berjalan setelah diterjang bencana hidrometeorologi. Kembalinya para nelayan ini menandai langkah awal pemulihan ekonomi warga yang terdampak. Meski demikian, proses pemulihan masih terus berlangsung dan membutuhkan waktu.
Adisman (66), seorang nelayan yang kini menempati hunian sementara (huntara) di Malalo, Tanah Datar, adalah salah satu yang kembali aktif menebar jala. Ia mulai kembali menjala ikan bilih, jenis ikan endemik khas Maninjau, sejak dua minggu terakhir. Aktivitas ini menjadi tumpuan utama Adisman untuk kembali menata kehidupannya.
Kehadiran kembali para nelayan di Danau Singkarak ini memberikan harapan baru bagi masyarakat sekitar. Pemulihan mata pencarian utama ini diharapkan dapat menggerakkan roda ekonomi lokal yang sempat terhenti. Meskipun demikian, tantangan untuk mencapai kondisi normal sepenuhnya masih cukup besar.
Kebangkitan Nelayan Ikan Bilih Danau Singkarak
Adisman, yang tinggal seorang diri di huntara Malalo, tidak setiap hari memasang jalanya. "Saya memasang tidak tiap hari, kadang dalam seminggu pasang tiga kali, kadang dua kali. Ini kemarin dua hari tidak pasang. Kalau mau ikan bilih, baru pasang, tidak menentu," ungkapnya. Hasil tangkapannya pada hari ini diperkirakan hanya mencapai 0,5 kilogram.
Namun, pada hari lain, hasil tangkapannya bisa mencapai 1 kilogram atau bahkan 2 kilogram. Jika hasil tangkapannya sedikit, ikan tersebut akan digunakan untuk konsumsi pribadi. Apabila tangkapannya di atas 1 kilogram, ikan bilih akan dijual ke pengepul dengan harga mulai dari Rp60 ribu per kilogram.
Adisman menyebut bahwa harga tersebut telah kembali normal. Sebelumnya, harga ikan bilih sempat meningkat hingga Rp80 ribu-Rp90 ribu per kilogram akibat terbatasnya aktivitas nelayan pascabencana.
Tantangan dan Potensi Kerugian Lahan Pertanian
Selain menjala ikan bilih, Adisman juga aktif berkebun dengan aneka jenis tanaman. Kebunnya ditanami kulit manis, alpukat, pala, kemiri, hingga cengkeh. Aktivitas berkebun ini juga baru dilakukannya kembali, mengingat sebagian ladangnya sempat tertutup lumpur material dan bebatuan akibat bencana.
Kerusakan lahan yang terjadi saat bencana menyebabkan potensi kerugian yang signifikan. Adisman memperkirakan kerugiannya mencapai Rp25 juta. Kerugian ini termasuk hilangnya sejumlah pohon produktif seperti kemiri dan surian yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
"Yang kena kemiri sekitar 7 batang, kayu surian ada 6 batang yang kena. Kayu itu mahal itu, satu kayu bisa 2,5 kubik harga 1 kubik bisa Rp4 juta. Jadi yang kayu bisa dapat 5,5 kubik lah semuanya," tambah Adisman, menjelaskan nilai kerugian dari pohon-pohon yang terdampak.
Dampak Bencana dan Upaya Pemulihan Komunitas
Elfi Rita, seorang penjual oleh-oleh ikan bilih sekaligus pengepul ikan bilih segar, mengonfirmasi bahwa sudah banyak nelayan yang kembali menebar jala pascabencana banjir bandang November lalu. Kendati demikian, jumlah tangkapan nelayan pada momentum Lebaran ini masih terbatas karena faktor alam.
Meskipun demikian, hasil tangkapan sempat melimpah pada Februari, sehingga pada bulan tersebut Elfi Rita berhasil menjadikannya sebagai stok. "Hasil tangkapan sangat kurang, paling yang sekilo, dua kilo. Februari bisa masuk belasan kilo per nelayan. sudah stok 300 kilogram. Sekarang, beli (dari nelayan) Rp70 per kilogram," ujarnya.
Sebanyak 70 persen masyarakat di Malalo sangat menggantungkan hidupnya pada Danau Singkarak. Ketergantungan ini mencakup nelayan maupun pelaku usaha oleh-oleh yang menyerap tenaga kerja. Kondisi ini menunjukkan betapa vitalnya Danau Singkarak bagi keberlangsungan ekonomi lokal.
Sebagai dampak bencana, sebanyak 28 Kepala Keluarga (KK) saat ini menempati huntara di Nagari Guguak Malalo. Total 144 unit bangunan mengalami kerusakan, dengan akumulasi kerugian mencapai Rp17,2 miliar. Data ini menggambarkan skala kerusakan dan tantangan besar dalam upaya pemulihan.
Sumber: AntaraNews