Puluhan Ton Ikan Restocking di Pariaman Hanyut Akibat Banjir, Kerugian Capai Ratusan Juta Rupiah

Bencana hidrometeorologi parah di Pariaman menyebabkan puluhan ton ikan restocking hanyut dari sungai, menimbulkan kerugian besar dan mengancam ketahanan pangan lokal.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Puluhan Ton Ikan Restocking di Pariaman Hanyut Akibat Banjir, Kerugian Capai Ratusan Juta Rupiah
Bencana hidrometeorologi akhir November 2025 menyebabkan ikan restocking di sejumlah sungai Pariaman hanyut, menimbulkan kerugian ratusan juta rupiah dan mengancam ketahanan pangan lokal. (AntaraNews)

Puluhan ton ikan hasil program restocking yang telah disebar di berbagai aliran sungai di Kota Pariaman, Sumatera Barat, dilaporkan hanyut akibat bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah tersebut pada akhir November 2025. Kejadian ini menimbulkan kerugian materiil yang signifikan serta mengancam upaya peningkatan ketahanan pangan lokal.

Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Kota Pariaman, Marlina Sepa, mengungkapkan bahwa seluruh ikan restocking di sungai-sungai pengawasan kelompok masyarakat setempat tidak tersisa. Bencana banjir yang melanda daerah tersebut menjadi penyebab utama hilangnya ribuan ekor ikan yang telah dibudidayakan.

Program restocking ini bertujuan untuk meningkatkan pendapatan warga, menjaga kelestarian ikan lokal, dan kebersihan sungai di Pariaman. Namun, dampak cuaca ekstrem ini telah membalikkan upaya yang telah dilakukan, memaksa pemerintah daerah untuk mencari solusi cepat.

Dampak Kerugian dan Lokasi Terdampak Banjir Ikan Restocking

Marlina Sepa memperkirakan total ikan yang hanyut mencapai belasan ton, dengan taksiran kerugian finansial mencapai ratusan juta rupiah. Kerugian ini menjadi pukulan telak bagi sektor perikanan lokal yang sedang berupaya bangkit.

Lokasi program restocking ikan yang terdampak tersebar di sejumlah desa dan kelurahan di Pariaman, meliputi Desa Cimparuh, Pauh Timur, Alai Gelombang, Kelurahan Jawi Jawi II, Desa Sungai Sirah, Sungai Pasak, Kampuang Gadang, Bunga Tanjung, Bato, dan Desa Air Santok. Pengawasan di lokasi-lokasi ini sebelumnya dilakukan oleh kelompok masyarakat setempat.

Ikan-ikan ini sebelumnya ditebar dengan tujuan mulia, yakni untuk meningkatkan ketahanan pangan, pendapatan masyarakat, serta menjaga ekosistem sungai. Hilangnya ikan restocking ini tidak hanya kerugian materi, tetapi juga mengganggu keseimbangan ekologi sungai.

Respons Pemerintah dan Harapan Bantuan untuk Ikan Restocking

Pemerintah Kota Pariaman telah melaporkan insiden hilangnya ikan restocking ini kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Laporan ini diharapkan dapat mempercepat proses bantuan dan pemulihan sektor perikanan di Pariaman.

Sebagai tindak lanjut, KKP melalui Balai Perikanan Budi Daya Air Tawar Sungai Gelam telah mengunjungi Pariaman pada awal Desember untuk meninjau langsung dampak bencana terhadap sektor perikanan. Kunjungan ini menunjukkan keseriusan pemerintah pusat dalam menangani masalah ini.

Pemerintah Kota Pariaman juga telah mengajukan permohonan kepada KKP untuk bantuan pengisian kembali bibit ikan lokal. Harapannya, restocking ikan dengan bibit lokal dapat kembali dilakukan sebagai upaya menjaga ketahanan pangan dan meningkatkan perekonomian warga.

Dampak Luas Bencana Hidrometeorologi di Pariaman

Pariaman merupakan salah satu wilayah di Sumatera Barat yang paling parah terdampak cuaca ekstrem yang berlangsung dari 21 hingga 28 November 2025. Bencana ini tidak hanya menyebabkan hanyutnya ikan restocking, tetapi juga kerusakan infrastruktur yang masif.

Data dari Pemerintah Kota Pariaman menunjukkan bahwa banjir melanda 121 lokasi, longsor terjadi di enam titik, dan puluhan pohon tumbang. Kerusakan ini mengganggu aktivitas sehari-hari dan perekonomian masyarakat secara luas.

Selain itu, lima ruas jalan ambles, satu jembatan rusak, 45 unit sekolah mengalami kerusakan, dan dinding penahan sungai juga hancur akibat terjangan banjir. Lebih lanjut, sekitar 25 hektare ladang dan ratusan hektare lahan sawah turut terendam, memperparah kerugian sektor pertanian.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi