Palembayan, Agam – Setelah dilanda bencana banjir bandang dan longsor pada 27 November 2025, geliat ekonomi sebagian penyintas di Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Aktivitas Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di lokasi terdampak, mulai dari Nagari Salareh Aia hingga Nagari Salareh Timur, kini mulai berangsur dibuka kembali. Ini menjadi secercah harapan bagi warga yang sebelumnya dirundung duka mendalam.
Berbagai jenis usaha, mulai dari kuliner, buah-buahan, minuman, barang kebutuhan harian, hingga bengkel, telah banyak yang kembali beroperasi. Kondisi ini mencerminkan semangat juang para penyintas untuk bangkit dan menata kembali kehidupan mereka. Meskipun duka masih membekas, tekad untuk mencari nafkah demi kelangsungan hidup keluarga menjadi pendorong utama.
Kebangkitan ekonomi ini tidak lepas dari upaya mandiri para penyintas serta dukungan dari berbagai pihak. Mereka berupaya keras untuk kembali membangun usaha, meskipun harus memulai dari nol. Kisah-kisah inspiratif dari para pelaku UMKM menjadi bukti nyata ketangguhan masyarakat Palembayan Agam dalam menghadapi cobaan.
Advertisement
Advertisement
Salah satu contoh nyata kebangkitan ekonomi penyintas bencana Palembayan Agam adalah Swirman (69), seorang korban banjir bandang di Kampung Tanjuang, Nagari Salareh Aia Timur. Meski rumah dan usahanya luluh lantak diterjang banjir, Swirman memberanikan diri untuk kembali membuka usaha menjual kebutuhan harian. Ia memanfaatkan Dana Tunggu Hunian (DTH) sebesar Rp1.800.000 yang diterima dari pemerintah untuk tiga bulan, sebagai modal awal.
Dengan modal tersebut, Swirman kini berjualan kebutuhan sehari-hari seperti ikan kering, gula, garam, kecap, roti, beras, dan mi instan di warung sederhananya berukuran 3x6 meter. Meskipun omzetnya saat ini masih jauh dibandingkan sebelum bencana, yaitu sekitar Rp100 ribu per hari dari sebelumnya Rp500 ribu, ia tetap bersyukur bisa menutupi biaya hidup keluarganya yang berjumlah tujuh orang. "Cuma usaha ini yang bisa saya lakukan saat ini, karena sawah saya hancur dilanda banjir bandang," ungkap Swirman.
Kisah Swirman menunjukkan ketangguhan dan adaptasi para penyintas dalam menghadapi tantangan ekonomi pascabencana. Mereka tidak menyerah pada keadaan, melainkan mencari cara baru untuk bertahan hidup. Dukungan finansial, sekecil apa pun, terbukti sangat membantu mereka dalam memulai kembali.
Advertisement
Advertisement
Pemerintah Kabupaten Agam bersama Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (Kementerian UMKM RI) turut berperan aktif dalam upaya pemulihan ini. Pada Jumat (23/1), mereka mengadakan program pemulihan trauma bagi 250 pelaku UMKM di lima lokasi terdampak bencana. Program ini mencakup pemulihan psikologis, pendampingan usaha, serta pendataan UMKM pascabencana.
Wakil Bupati Agam, Muhammad Iqbal, menegaskan komitmen pemerintah dalam percepatan pembenahan di segala sektor. "Kolaborasi semua pihak terus dilakukan baik terkait hunian sementara, penyaluran bantuan, pembenahan infrastruktur ekonomi dan lainnya," jelas Muhammad Iqbal. Selain DTH, Swirman juga mengaku menerima bantuan sembako dan kebutuhan lainnya dengan sangat lancar, menunjukkan efektivitas penyaluran bantuan pemerintah.
Inisiatif seperti pemulihan trauma dan pendampingan usaha sangat krusial untuk memastikan keberlanjutan kebangkitan ekonomi penyintas bencana Palembayan Agam. Dengan dukungan psikologis dan bimbingan dalam mengelola usaha, para pelaku UMKM diharapkan dapat lebih cepat pulih dan berkembang. Kolaborasi antara pemerintah daerah dan pusat menjadi kunci keberhasilan dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.
Advertisement
Sumber: AntaraNews