Penurunan Angka Pengangguran Indonesia: Analisis Data BPS November 2025 dan Tantangan Kualitas Pekerjaan
Angka pengangguran di Indonesia menurun signifikan per November 2025, namun data BPS mengungkap tantangan kualitas pekerjaan yang masih perlu diatasi. Simak analisis mendalam Penurunan Angka Pengangguran Indonesia.
Badan Pusat Statistik (BPS) merilis hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) November 2025, yang menunjukkan adanya perbaikan kondisi pasar tenaga kerja nasional. Jumlah angkatan kerja di Indonesia tercatat mencapai 155,27 juta orang, dengan 147,91 juta orang di antaranya telah bekerja.
Dari total angkatan kerja tersebut, sebanyak 7,35 juta orang masih berstatus pengangguran, menandai penurunan sekitar 109 ribu orang dibandingkan Agustus 2025. Penurunan ini sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk bekerja yang naik 1,37 juta orang dalam periode yang sama.
Data tersebut mencerminkan proses pemulihan ekonomi yang sedang berlangsung, meskipun dinamika di baliknya menunjukkan kompleksitas. Perbaikan ini belum sepenuhnya menggambarkan peningkatan kualitas pekerjaan dan kesejahteraan tenaga kerja secara menyeluruh.
Sektor Penopang Utama Penyerapan Tenaga Kerja
Struktur penyerapan tenaga kerja nasional masih ditopang oleh tiga sektor utama yang dominan. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyerap 27,99 persen tenaga kerja, diikuti perdagangan sebesar 18,67 persen, serta industri pengolahan sebesar 13,86 persen. Ketiga sektor ini secara kolektif menyumbang lebih dari 60 persen total tenaga kerja nasional.
Dibandingkan Agustus 2025, serapan tenaga kerja di sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan bertambah 161 ribu orang pada November 2025. Sektor perdagangan mencatatkan kenaikan sebesar 168 ribu orang, sementara sektor industri pengolahan mengalami peningkatan tertinggi, yakni 196 ribu orang. Selain itu, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum menunjukkan lonjakan signifikan sebesar 381 ribu orang, mengindikasikan pulihnya aktivitas pariwisata dan perhotelan.
Meskipun demikian, dominasi sektor pertanian dalam struktur ketenagakerjaan nasional menunjukkan bahwa transformasi ekonomi Indonesia masih berlangsung secara bertahap. Sektor ini dikenal memiliki produktivitas dan tingkat upah yang relatif rendah, serta kerap menjadi bantalan sosial. Tingginya penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian mengindikasikan sebagian besar penduduk masih bergantung pada lapangan kerja dengan nilai tambah terbatas.
Tantangan Kualitas Pekerjaan dan Upah
Dari sisi status pekerjaan, BPS mencatat 38,81 persen penduduk bekerja berstatus sebagai buruh, karyawan, atau pegawai. Jumlah penduduk bekerja pada kegiatan formal mencapai 62,57 juta orang atau 42,30 persen dari total pekerja, naik tipis 0,10 persen poin dibandingkan Agustus 2025.
Sebaliknya, penduduk bekerja di sektor informal masih mendominasi dengan jumlah mencapai 85,35 juta orang, atau 57,70 persen dari total pekerja. Proporsi pekerja informal yang tinggi ini menunjukkan bahwa sebagian besar tenaga kerja masih berada dalam kondisi kerja rentan. Mereka menghadapi tingkat upah relatif rendah, produktivitas terbatas, serta minim perlindungan sosial.
Struktur jam kerja menunjukkan perbaikan, dengan 67,94 persen penduduk bekerja tergolong sebagai pekerja penuh waktu pada November 2025, meningkat dari periode sebelumnya. Tingkat setengah pengangguran juga turun menjadi 7,81 persen, dan pekerja paruh waktu tercatat sebesar 24,24 persen. Namun, perbaikan ini belum sepenuhnya tercermin pada sisi pendapatan.
BPS mencatat rata-rata upah atau gaji buruh, karyawan, dan pegawai pada November 2025 stagnan di angka 3,33 juta rupiah per bulan, bahkan turun tipis 0,06 persen dibandingkan Agustus 2025. Kesenjangan upah antara laki-laki dan perempuan juga masih cukup lebar, dengan rata-rata upah buruh laki-laki Rp3,61 juta dan perempuan Rp2,82 juta. Sektor pertanian, perdagangan, dan industri pengolahan, yang merupakan penyerap tenaga kerja terbesar, justru masuk dalam kelompok lapangan usaha dengan upah di bawah rata-rata nasional.
Mendorong Pekerjaan Berkualitas dan Produktif
Menanggapi kondisi ini, Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai bahwa penurunan pengangguran belum sepenuhnya mencerminkan perbaikan kualitas pasar tenaga kerja. Ia menjelaskan bahwa tingginya proporsi pekerja di sektor informal dengan upah rendah dan perlindungan sosial minim menjadi indikator utama. Kondisi ini menunjukkan penurunan pengangguran lebih banyak bersumber dari ekspansi pekerjaan dengan produktivitas rendah.
Penguatan sektor pengolahan dan manufaktur menjadi strategi utama untuk meningkatkan kualitas penyerapan tenaga kerja. Sektor manufaktur, khususnya yang padat karya, memiliki kemampuan menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, terutama bagi kelompok usia produktif. Yusuf menekankan pentingnya memastikan investasi yang masuk benar-benar mendorong sektor manufaktur padat karya, bukan hanya sektor padat modal.
Selain manufaktur, sektor jasa pariwisata, termasuk akomodasi dan makan minum, memiliki potensi besar sebagai pelengkap dalam menciptakan lapangan kerja. Namun, penguatan kedua sektor ini perlu diiringi dengan peningkatan keterampilan tenaga kerja agar sesuai dengan kebutuhan industri. Perlambatan pertumbuhan upah juga menjadi sinyal yang perlu diwaspadai, menunjukkan sebagian besar tenaga kerja baru terserap di sektor dengan upah relatif rendah.
Kebijakan ketenagakerjaan ke depan perlu lebih menekankan pada penciptaan lapangan kerja yang tidak hanya bersifat kuantitatif, tetapi juga berkualitas, produktif, dan berupah layak. Penguatan sektor industri bernilai tambah tinggi serta peningkatan keterampilan tenaga kerja melalui pendidikan dan pelatihan vokasi menjadi faktor penting. Upaya ini diharapkan dapat mendorong perbaikan produktivitas dan kesejahteraan pekerja.
Sumber: AntaraNews