Pemkab Sigi Usulkan Perbaikan Irigasi Demi Tingkatkan Produktivitas Pertanian
Pemerintah Kabupaten Sigi mengusulkan perbaikan infrastruktur irigasi secara masif untuk mengatasi kendala air dan meningkatkan produktivitas pertanian di wilayahnya.
Pemerintah Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, secara proaktif mengusulkan perbaikan sejumlah infrastruktur irigasi guna mendorong peningkatan produktivitas pertanian di daerah tersebut. Inisiatif ini bertujuan untuk mengatasi tantangan pasokan air yang sering berkurang, terutama saat memasuki musim kemarau panjang. Upaya perbaikan ini diharapkan dapat menjamin ketersediaan air bagi lahan pertanian sepanjang tahun.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Sigi, Afit Lamakarate, menjelaskan bahwa perbaikan irigasi sangat krusial untuk mengatasi kendala debit air. Targetnya, pada tahun 2026, sebanyak 30 titik irigasi akan diperbaiki melalui kerja sama dengan Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi III. Langkah strategis ini menunjukkan komitmen Pemkab Sigi dalam mendukung sektor pertanian lokal.
Peralihan dari sistem irigasi manual menuju irigasi teknis berbasis beton dinilai sangat penting mengingat karakteristik tanah aluvial di Sigi. Jenis tanah ini memiliki daya serap air yang sangat cepat, sehingga membutuhkan saluran permanen agar air dapat mencapai titik lahan pertanian terjauh. Dengan demikian, pembangunan infrastruktur pengairan yang memadai diharapkan mampu menjamin keberlangsungan masa tanam petani secara optimal.
Tantangan Pengairan Lahan Pertanian di Sigi
Karakteristik geografis Kabupaten Sigi, khususnya jenis tanah aluvial, menjadi salah satu tantangan utama dalam sistem pengairan pertanian. Tanah aluvial dikenal sangat cepat meresap air, menyebabkan efektivitas irigasi manual menjadi rendah. Kondisi ini seringkali mengakibatkan kekurangan air di lahan pertanian, terutama saat musim kemarau tiba dan debit air sungai mengecil.
Penurunan debit air sungai merupakan masalah berulang yang dihadapi petani di Sigi, berdampak langsung pada produktivitas pertanian. Tanpa pasokan air yang stabil, masa tanam menjadi terganggu dan hasil panen tidak optimal. Oleh karena itu, perbaikan infrastruktur irigasi menjadi prioritas untuk memastikan ketersediaan air yang konsisten bagi seluruh lahan pertanian.
Afit Lamakarate menegaskan bahwa perubahan iklim dan pola musim yang tidak menentu semakin memperparah kondisi pengairan. Ketergantungan pada irigasi manual tidak lagi memadai untuk menopang kebutuhan pertanian modern. Solusi jangka panjang diperlukan untuk menjamin ketahanan pangan daerah.
Solusi Inovatif untuk Irigasi Berkelanjutan
Untuk mengatasi masalah pengairan, Pemerintah Kabupaten Sigi mengusulkan peralihan signifikan dari irigasi manual ke irigasi teknis berbasis beton. Saluran permanen ini dirancang untuk menjaga agar air tetap mengalir dan mencapai lahan pertanian terjauh, meskipun debit air sungai sedang kecil. Pembangunan ini merupakan bagian dari upaya kolaboratif dengan Kementerian Pekerjaan Umum melalui BWS Sulawesi III.
Selain irigasi teknis, pemerintah daerah juga menyiapkan solusi alternatif berupa sumur dalam atau sumur pompa untuk lahan pertanian di wilayah perbukitan. Sistem sumur pompa dinilai sangat efektif dan mampu menjangkau area yang selama ini sulit diakses oleh jaringan irigasi teknis konvensional. Inovasi ini membuka peluang bagi petani di dataran tinggi untuk tetap berproduksi.
Dinas terkait juga telah mengusulkan pembangunan bendungan baru kepada pemerintah pusat guna memperkuat sistem pengairan secara keseluruhan di Kabupaten Sigi. Keberadaan bendungan baru diharapkan dapat meningkatkan kapasitas penyimpanan air dan menjamin pasokan yang lebih stabil sepanjang tahun. Ini adalah langkah strategis untuk masa depan pertanian Sigi.
Dampak Positif Perbaikan Irigasi bagi Petani Sigi
Pembangunan infrastruktur pengairan yang memadai diharapkan mampu menjamin keberlangsungan masa tanam petani sepanjang tahun. Dengan ketersediaan air yang stabil, petani dapat merencanakan penanaman dengan lebih baik dan mengurangi risiko gagal panen akibat kekeringan. Hal ini secara langsung akan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani di Kabupaten Sigi.
Produktivitas pertanian di Sigi diperkirakan akan meningkat signifikan dengan adanya sistem irigasi yang lebih handal. Lahan-lahan yang sebelumnya sulit dijangkau air kini dapat dimanfaatkan secara optimal. Peningkatan hasil panen akan berkontribusi pada ketahanan pangan daerah dan perekonomian lokal secara keseluruhan.
Berdasarkan catatan Pemerintah Kabupaten Sigi, luas lahan pertanian dan hasil validasi Luas Baku Sawah (LBS) di Sigi hingga Desember 2024 mencapai 15.280 hektare. Dengan potensi lahan yang luas ini, perbaikan irigasi menjadi investasi krusial untuk memaksimalkan potensi pertanian Sigi.
Sumber: AntaraNews