Pemerintah Targetkan Tambahan Pembangkit 69,5 GW, Mayoritas dari Energi Terbarukan
Mayoritas pembangkit yang akan dibangun berasal dari sumber energi baru dan terbarukan (EBT).
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan rencana usaha penyediaan tenaga listrik (RUPTL) periode 2025- 2034 dengan kapasitas 69,5 Gigawatt (GW). Mayoritas pembangkit yang akan dibangun berasal dari sumber energi baru dan terbarukan (EBT).
Bahlil menyebut, komposisi pembangkit masa depan di dominasi pembangkit energi baru dan terbarukan (EBT) dengan kapasitas 42,6 GW atau mencapai 61 persen. Terdiri dari pembangkit tenaga surya berkapasitas 17,1 GW, pembangkit air 11,7 GW, pembangkit angin 7,2 GW, pembangkit panas bumi 5,2 GW, bioenergi 0,9 GW, dan tenaga nuklir 0,5 GW
Selain itu, pemerintah juga akan menambah pembangkit penyimpanan energi (storage) dengan kapasitas 10,3 GW. Terdiri dari baterai berkapasitas 6,0 GW dan PLTA pumped storage 4,3 GW.
Di sisi lain, pemerintah akan memangkas pembangkit berbasis fosil menjadi kapasitas 16,6 GW. Terdiri dari gas dengan kapasitas 10,3 GW dan batubara hanya berkapasitas 6,3 GW.
Bahlil mengatakan, pengembangan pembangkit berbasis energi baru dan terbarukan ini untuk mempercepat transformasi bauran energi hingga mencapai 76 persen dari total kapasitas EBT. Hal ini sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto untuk mendorong program Swasembada Energi demi mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2029 mendatang.
"RUPTL tahun 2025 - 2034 mendukung tercapai sasaran pertumbuhan ekonomi 8 persen di 2029," ujar Bahlil dalam Konferensi Pers RUPTL 2025- 2034 di Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (26/5).
Bahlil mencatat, total nilai peluang investasi pembangunan pembangkit Rp2.133,7 triliun. Sedangkan nilai investasi untuk penyaluran mencapai Rp565,3 triliun dan investasi lainnya Rp268,4 triliun.
Dia merinci, peluang investasi mayoritas akan diarahkan untuk Independent Power Producer (IPP) alias perusahaan swasta mencapai Rp1.566,1 triliun dan sisanya dinikmati PT PLN (Persero) dengan nilai investasi Rp567,6 triliun.
Dia memproyeksikan rencana penambahan pembangkit listrik ini akan menyerap sebanyak 1,7 juta tenaga kerja. Dari total 836.696 tenaga kerja di segmen pembangkitan, lebih dari 760 ribu atau 91 persen merupakan green jobs.