Pandeglang Pasok Tiga Ton Timun Suri Jiput ke Jakarta, Andalan Ekonomi Ramadhan
Petani di Kecamatan Jiput, Pandeglang, memasok hingga tiga ton Timun Suri Jiput setiap hari ke Jakarta, menjadikannya komoditas andalan ekonomi selama bulan Ramadhan dan menarik perhatian pasar.
Petani di Kecamatan Jiput, Kabupaten Pandeglang, Banten, kini tengah sibuk memasok timun suri ke berbagai wilayah di DKI Jakarta. Pasokan harian komoditas khas Ramadhan ini mencapai sekitar tiga ton. Aktivitas ini menjadi sorotan utama menjelang dan selama bulan suci.
Buah kuning keemasan ini tidak hanya memenuhi kebutuhan pasar ibu kota, tetapi juga menjadi tulang punggung ekonomi bagi masyarakat Jiput. Penjualan timun suri secara signifikan meningkatkan pendapatan petani setiap tahunnya. Musim panen yang bertepatan dengan Ramadhan menjadi momen penting bagi mereka.
Para bandar dan pengepul turut berperan aktif dalam mendistribusikan hasil panen ini dari lahan pertanian langsung ke pasar-pasar besar. Jaringan distribusi yang terorganisir memastikan timun suri Jiput dapat dinikmati masyarakat luas. Hal ini menunjukkan efisiensi rantai pasok lokal.
Potensi Ekonomi Timun Suri Jiput
Produksi timun suri di Jiput, Pandeglang, telah lama menjadi penopang ekonomi utama bagi petani setempat, khususnya selama bulan suci Ramadhan. Komoditas ini ditanam dua bulan sebelum Ramadhan dan dipanen mulai awal puasa hingga menjelang Lebaran. Ini merupakan siklus ekonomi tahunan yang dinanti.
Rohim, seorang bandar timun suri di Pandeglang, mengungkapkan bahwa ia telah 14 tahun memasok timun suri ke pasar-pasar Jakarta seperti Kebayoran, Palmerah, dan Pasar Minggu. Ia menampung langsung dari petani dengan harga sekitar Rp4.000 per kilogram. Keterlibatan bandar ini krusial dalam rantai distribusi.
Sanukri, seorang petani timun suri, berhasil memanen sekitar tiga ton dari 12 petak sawah yang ditanaminya. Keuntungan dari budidaya ini bisa mencapai Rp12 juta untuk lahan seluas itu. Hasil panen yang melimpah ini sangat membantu meningkatkan kesejahteraan keluarga petani.
Proses Budidaya dan Pemasaran
Petani seperti Sanukri menanam timun suri pada Desember 2025 dan memanennya pada Februari 2026, bertepatan dengan Ramadhan 1447 Hijriah. Proses budidaya yang terencana ini memastikan ketersediaan pasokan saat permintaan melonjak. Curah hujan yang memadai pada periode tersebut juga mendukung hasil panen yang bagus.
Hasil panen timun suri ini kemudian dipasok ke luar daerah melalui pengepul atau tengkulak yang membeli langsung di lahan pertanian. Harga beli dari petani berkisar Rp4.000 hingga Rp5.000 per kilogram, tergantung ukuran buah. Sistem ini memudahkan petani dalam menjual hasil panen mereka.
Emed, petani lainnya dari Jiput, juga memanen timun suri untuk dipasok ke Tangerang dan Jakarta. Ia menyatakan bahwa musim panen tahun 2026 relatif bagus berkat curah hujan yang mendukung dari Desember 2025 hingga awal Februari 2026. Kondisi iklim yang baik sangat berpengaruh pada kualitas dan kuantitas panen.
Kualitas Unggul dan Dukungan Pemerintah
Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Pandeglang, Nuridawati, mengapresiasi petani Jiput sebagai penghasil timun suri terbesar di Pandeglang. Ia menjelaskan bahwa petani di daerah tersebut sudah terbiasa menanam timun suri menjelang Ramadhan karena permintaan yang tinggi. Ini menunjukkan kearifan lokal dalam pertanian.
Kualitas timun suri dari Jiput dikenal unggul, dengan rasa yang pulen, beraroma khas, dan daging buah yang tebal. Keunggulan ini menjadi daya tarik utama bagi konsumen di Jakarta dan sekitarnya. Ciri khas inilah yang membuat timun suri Jiput selalu dicari selama Ramadhan.
Dukungan dari pemerintah daerah melalui Dinas Pertanian juga penting dalam menjaga keberlanjutan budidaya timun suri ini. Apresiasi dan perhatian terhadap petani menjadi motivasi untuk terus meningkatkan produksi. Sinergi antara petani dan pemerintah daerah sangat vital.
Sumber: AntaraNews