Bulog Sumut Serap Jagung Pipil 1.784 Ton, Jaga Stabilitas Harga Pangan Hingga Maret 2026
Perum Bulog Sumut berhasil serap jagung pipil sebanyak 1.784 ton dari petani hingga Maret 2026, upaya ini bertujuan menjaga stabilitas harga pangan di wilayah tersebut.
Perum Bulog Kantor Wilayah Sumatera Utara (Sumut) mencatat penyerapan jagung pipil sebanyak 1.784 ton dari petani lokal. Realisasi ini terhitung sejak Januari hingga 20 Maret 2026, menunjukkan komitmen Bulog dalam menjaga ketersediaan pangan. Peningkatan penyerapan ini menjadi langkah strategis untuk mendukung ketahanan pangan daerah.
Peningkatan signifikan dalam penyerapan jagung pipil terjadi pada bulan Maret, seiring dengan masuknya masa panen di beberapa wilayah. Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Karo, Kabupaten Padang Lawas, dan Kabupaten Batu Bara menjadi sentra produksi yang berkontribusi. Upaya ini juga didukung oleh kemitraan dengan Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Utara.
Meskipun demikian, penyerapan jagung belum mencapai potensi maksimal karena harga di pasar yang relatif tinggi. Harga jagung di pasar berkisar Rp6.700 hingga Rp7.000 per kilogram, sementara harga pembelian Bulog hanya Rp6.400 per kilogram. Perbedaan harga ini menjadi tantangan utama dalam upaya penyerapan.
Peningkatan Penyerapan Jagung di Sumatera Utara
Realisasi penyerapan jagung pipil oleh Bulog Sumut terus menunjukkan tren positif, terutama pada Maret 2026. Pemimpin Kantor Wilayah Bulog Sumut, Budi Cahyanto, menjelaskan bahwa peningkatan ini sejalan dengan masa panen di berbagai daerah. Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Karo, Kabupaten Padang Lawas, dan Kabupaten Batu Bara merupakan beberapa wilayah yang aktif dalam panen jagung.
Bertambahnya volume penyerapan ini tidak terlepas dari adanya kemitraan strategis. Bulog Sumut bekerja sama dengan Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Utara dan jajarannya. Penyerapan jagung pipil dilaksanakan di setiap polres, berkolaborasi langsung dengan petani setempat, serta melibatkan pihak lain.
Selain wilayah yang sudah panen, potensi penyerapan jagung juga masih terbuka lebar. Kabupaten Karo, Kabupaten Dairi, dan Kabupaten Pakpak Bharat diperkirakan akan memasuki masa panen pada Maret 2026. Hal ini memberikan peluang bagi Bulog untuk terus meningkatkan volume penyerapan jagung pipil dari petani.
Tantangan Harga dan Kebijakan Pembelian
Penyerapan jagung pipil oleh Bulog Sumut menghadapi tantangan signifikan terkait harga pasar. Harga jagung di pasar saat ini berada di kisaran Rp6.700 hingga Rp7.000 per kilogram. Angka ini lebih tinggi dibandingkan harga pembelian Bulog, yaitu Rp6.400 per kilogram di tingkat petani.
Harga pembelian Bulog tersebut mengacu pada Keputusan Kepala Badan Pangan Nasional Nomor 2 Tahun 2025. Regulasi ini mengatur Perubahan atas Harga Pembelian Pemerintah dan Rafaksi Gabah dan Beras, yang berlaku efektif sejak 15 Januari 2025.
Perbedaan harga antara pasar dan harga pembelian pemerintah menjadi faktor utama belum maksimalnya penyerapan. Petani cenderung menjual hasil panennya ke pasar yang menawarkan harga lebih tinggi. Situasi ini memerlukan strategi lebih lanjut dari Bulog untuk mencapai target penyerapan yang optimal.
Stok dan Peran Bulog dalam Stabilisasi Pangan
Secara keseluruhan, stok jagung pipil di gudang Bulog Sumut saat ini mencapai 3.792 ton. Jumlah ini merupakan cadangan yang vital untuk menjaga stabilitas pasokan pangan di wilayah tersebut. Stok ini memiliki peran penting dalam program pemerintah.
Cadangan jagung tersebut dapat digunakan untuk program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Program SPHP ini secara khusus ditujukan kepada peternak ayam petelur. Tujuannya adalah untuk membantu menjaga harga pakan dan produk peternakan tetap stabil.
Bulog Sumut saat ini menunggu instruksi lebih lanjut dari pemerintah pusat. Perintah tersebut akan menjadi dasar untuk menyalurkan jagung SPHP kepada para peternak ayam petelur di Sumatera Utara. Kesiapan stok ini menunjukkan peran aktif Bulog dalam mendukung sektor peternakan dan ketahanan pangan nasional.
Sumber: AntaraNews