Mendag Soroti Gernas Mapan: Upaya Komprehensif Kelola Kebersihan Pasar dan Ekosistem Sampah
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menegaskan Gernas Mapan bukan hanya soal kebersihan, tetapi juga pengelolaan ekosistem sampah pasar. Simak detailnya!
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso baru-baru ini menekankan pentingnya Gerakan Nasional Membersihkan Pasar Nusantara (Gernas Mapan). Inisiatif ini bertujuan untuk menciptakan kebersihan dan mengelola ekosistem sampah di seluruh pasar tradisional Indonesia. Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas lingkungan dan kenyamanan di pusat-pusat perekonomian rakyat.
Pernyataan tersebut disampaikan Mendag di Surabaya, Kamis, saat meninjau langsung pelaksanaan Gernas Mapan di Pasar Sememi. Gerakan ini merupakan kolaborasi strategis antara Kementerian Perdagangan dan Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH). Kemitraan ini menunjukkan komitmen lintas sektor dalam menangani isu kebersihan dan lingkungan.
Gernas Mapan tidak hanya berfokus pada aspek kebersihan fisik, tetapi juga mendorong transformasi digital. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kenyamanan pedagang dan pembeli serta mempercepat penanganan sampah nasional. Inisiatif ini juga selaras dengan target pembangunan berkelanjutan yang dicanangkan pemerintah.
Fokus Gernas Mapan pada Ekosistem Kebersihan Pasar
Mendag Budi Santoso menjelaskan bahwa Gernas Mapan memiliki cakupan yang lebih luas dari sekadar membersihkan. Gerakan ini juga mencakup pengelolaan ekosistem sampah secara menyeluruh di lingkungan pasar. "Gernas Mapan tidak hanya menekankan pada aspek kebersihan tetapi juga pengelolaan ekosistem sampah di pasar," katanya di Surabaya.
Sebagai contoh, Mendag mengunjungi Pasar Sememi, Surabaya, yang telah memiliki fasilitas waste station. Fasilitas ini memungkinkan pengelolaan sampah yang terstruktur, mulai dari penempatan hingga proses daur ulang. Keberadaan sistem ini sangat membantu dalam menjaga kebersihan pasar secara berkelanjutan.
Budi Santoso menambahkan bahwa sistem pengelolaan sampah di Pasar Sememi sudah terintegrasi dengan baik. "Cara menaruh di mana, kemudian nanti mau diproseskan menjadi apa sudah ada semua. Tinggal sekarang bagaimana para pedagang ini mengumpulkan dan membersihkan sampah dengan baik," jelasnya. Pasar tradisional yang bersih akan berdampak langsung terhadap kenyamanan pedagang dan pembeli, menciptakan lingkungan transaksi yang lebih sehat dan menarik.
Transformasi Digital dan Omnichannel di Pasar Tradisional
Selain fokus pada kebersihan, Gernas Mapan juga menjadi momentum penting untuk mendorong transformasi digital di pasar tradisional. Inisiatif ini bertujuan agar pasar rakyat tidak tertinggal dari perkembangan teknologi. Para pedagang di Pasar Sememi, misalnya, telah mendapatkan pelatihan penggunaan QRIS untuk transaksi nontunai, yang memudahkan proses pembayaran.
Mendag juga memastikan pihaknya akan terus mendorong pasar-pasar tradisional lain agar bisa beradaptasi dengan tren penjualan daring. Konsep ini membuka peluang baru bagi pedagang untuk memperluas jangkauan pasar mereka. Dengan demikian, pasar tradisional dapat tetap relevan di era digital.
"Banyak pasar rakyat yang sudah kami bina, pasarnya tetap ada secara fisik tapi transaksi banyak dilakukan secara 'online'. Konsep yang kami dorong adalah omnichannel yaitu jualan fisik tetap ada tapi juga melayani penjualan 'online'," ujar Budi. Pendekatan omnichannel ini memungkinkan pedagang untuk menjangkau lebih banyak konsumen, baik yang berbelanja langsung maupun secara daring.
Peran Penting Pengelolaan Sampah dan Waste Station
Plt Deputi Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Kota Surabaya, Hanifa Dwi Nirwana, menyatakan Gernas Mapan merupakan langkah strategis. Gerakan ini mempercepat penanganan sampah nasional yang menjadi prioritas pemerintah. "Ini kegiatan yang luar biasa. Ini bagian penting untuk percepatan penanganan sampah di Indonesia yang ditargetkan RPJMN selesai 100 persen pada tahun 2029,” ujar Hanifa.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, Dedik Irianto, menyoroti pengelolaan sampah di Pasar Sememi yang cukup baik. Keberadaan waste station dan bank sampah di pasar tersebut menjadi kunci keberhasilan. Sistem ini menunjukkan bagaimana kolaborasi dan fasilitas yang memadai dapat memberikan dampak positif.
Dedik menjelaskan efektivitas sistem rekosistem (waste station) di Pasar Sememi. "Yang menarik di pasar (Sememi) itu ada rekosistem (waste station). Sampah yang dikelola oleh rekosistem itu bisa mengurangi sampah ke TPA Benowo hingga 1,7 sampai 1,8 ton per bulan,” jelas Dedik. Sistem rekosistem ini tidak hanya diterapkan di pasar, tetapi juga di beberapa kawasan perumahan dan area publik di Surabaya, menunjukkan keberhasilan model pengelolaan sampah yang terintegrasi.
Sumber: AntaraNews