Keren! Batik Ciprat Situbondo Difabel Tembus Pasar Bali-NTT, Diundang Pameran Nasional Kemen UMKM
Kementerian UMKM mengundang perajin Batik Ciprat Situbondo dari komunitas difabel untuk pameran nasional. Produk unik ini telah menembus pasar Bali dan NTT, menunjukkan kemandirian luar biasa.
Kementerian Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) akan mengundang perajin batik ciprat dari komunitas difabel di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, untuk berpartisipasi dalam pameran batik tingkat nasional. Undangan ini bertujuan agar karya batik yang unik, dibuat dengan teknik mencipratkan larutan pewarna, dapat dikenal lebih luas oleh masyarakat Indonesia.
Langkah strategis ini diambil setelah Deputi Bidang Usaha Kementerian UMKM, Bagus Rachman, mengunjungi lokasi Batik Ciprat Rubi di Desa Kedungdowo, Kecamatan Arjasa, Situbondo. Kunjungan tersebut menegaskan komitmen pemerintah dalam mendukung kemandirian pelaku UMKM, khususnya bagi para perajin difabel.
Produk Batik Ciprat Situbondo ini tidak hanya memiliki nilai seni tinggi, tetapi juga telah berhasil menembus pasar di luar Jawa Timur, termasuk Bali dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Kehadiran mereka di pameran nasional diharapkan dapat membuka peluang usaha lebih besar dan meningkatkan kesejahteraan komunitas difabel.
Dukungan Penuh dari Kementerian UMKM untuk Batik Ciprat Difabel
Deputi Bidang Usaha Kementerian UMKM, Bagus Rachman, menegaskan fokus kementerian untuk memberdayakan pelaku UMKM, termasuk perajin Batik Ciprat Situbondo karya difabel. Tujuannya adalah agar mereka memiliki kemandirian yang kuat dalam menjalankan usaha dan menjadikannya sebagai sumber penghasilan utama.
"Kemandirian dimaksud adalah peluang-peluang usaha bisa dijalankan baik dan menjadi sumber penghasilan buat mereka," kata Bagus Rachman saat berkunjung ke lokasi produksi batik tersebut. Beliau juga menyatakan kesiapan kementerian untuk mendampingi pemerintah daerah dalam pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) batik ciprat ini ke Kementerian Hukum.
Bagus Rachman mengapresiasi kualitas produk jadi Batik Ciprat Situbondo yang dinilainya memiliki nilai jual tinggi. Lebih dari itu, ia menyoroti kemandirian para perajin difabel dalam menciptakan produk batik yang inovatif. Produk ini juga dianggap sebagai bagian dari ekonomi kreatif, mengingat kebaruan dan keunikan yang ditawarkannya.
Oleh karena itu, Bagus Rachman menyampaikan kepada Bupati Situbondo bahwa Kementerian UMKM akan mengikutsertakan mereka pada berbagai agenda pameran batik di dalam negeri. Hal ini diharapkan dapat memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan pengakuan terhadap Batik Ciprat Situbondo.
Upaya Pemerintah Daerah dan Prospek Pasar Batik Ciprat Situbondo
Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo, mengemukakan bahwa Batik Ciprat Situbondo karya difabel memiliki potensi besar untuk meningkatkan taraf hidup komunitas dengan keterbatasan fisik. Pemerintah daerah berkomitmen penuh untuk mendorong dan mendukung para perajin difabel ini.
"Oleh karena itu kami dorong teman-teman difabel, dan tidak hanya diberi insentif, tidak hanya diberi pelatihan, tapi kami juga memberikan sentuhan kebijakan," ujar Bupati Yusuf Rio. Beliau bahkan secara pribadi menjadi brand ambassador untuk Batik Ciprat Situbondo, yang telah membuahkan hasil positif dengan banyaknya peminat.
Informasi yang dihimpun menunjukkan bahwa produk jadi Batik Ciprat Situbondo saat ini sangat diminati masyarakat. Tidak hanya di Situbondo, pangsa pasar mereka bahkan telah menembus wilayah Bali dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Setiap lembar kain batik ciprat dijual dengan harga sekitar Rp150.000.
Keberhasilan ini membuktikan bahwa dengan dukungan yang tepat dan inovasi produk, komunitas difabel mampu menciptakan karya yang bernilai ekonomi tinggi dan bersaing di pasar nasional. Dukungan dari Kementerian UMKM dan pemerintah daerah menjadi kunci utama dalam pengembangan lebih lanjut dari Batik Ciprat Situbondo.
Sumber: AntaraNews