Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Suku Badui turut memeriahkan Festival Seni Multatuli Rangkasbitung di Lebak, Banten. Mereka hadir untuk mempromosikan aneka produk kerajinan tangan khas adat yang bernilai seni tinggi. Kehadiran mereka di festival ini menjadi sorotan utama bagi para pengunjung yang mencari keunikan budaya.
Festival yang berlangsung dari 19 hingga 21 September 2025 ini menjadi ajang strategis bagi masyarakat adat Badui. Para pengrajin Badui menampilkan berbagai karyanya di Alun-Alun Timur Rangkasbitung, menarik perhatian pengunjung dari berbagai daerah. Ini adalah kesempatan emas untuk menunjukkan identitas budaya mereka.
Keikutsertaan ini bertujuan ganda, yakni memperkenalkan kekayaan budaya Badui kepada khalayak luas dan secara signifikan meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat setempat. Langkah ini merupakan upaya nyata dalam mendukung keberlanjutan UMKM lokal serta melestarikan warisan budaya. Banyak pihak berharap kegiatan ini dapat terus berlanjut.
Advertisement
Advertisement
Produk Unggulan dan Daya Tarik Kerajinan UMKM Badui
Berbagai produk khas masyarakat adat Badui dipamerkan dalam festival ini, dengan rentang harga yang bervariasi. Harga jual produk dimulai dari Rp20 ribu hingga mencapai Rp1,2 juta, menunjukkan keragaman dan kualitas kerajinan. Jamal, salah seorang pelaku UMKM Badui, mengungkapkan kegembiraannya bisa berpartisipasi.
Di antara produk unggulan yang menarik perhatian adalah kain tradisional motif Janggawari yang dibanderol seharga Rp1,2 juta. Selain itu, ada juga kain pewarna alam seharga Rp500 ribu, kain songket biasa Rp250 ribu, dan kain kadu mancung Rp300 ribu. Pakaian seperti kebaya perempuan Rp150 ribu dan pakaian kampret Rp300 ribu per pasang juga tersedia.
Aksesori khas Badui seperti selendang kecil Rp20 ribu, ikat kepala (lomar) Rp100 ribu, dan tas koja Rp250 ribu turut melengkapi koleksi yang ditawarkan. "Semua produk kerajinan itu hasil karya pelaku UMKM masyarakat adat Badui," tegas Jamal, menekankan keaslian dan nilai seni dari setiap item. Pengunjung sangat antusias melihat koleksi ini.
Advertisement
Pengalaman tahun sebelumnya menunjukkan bahwa produk kerajinan Badui sangat diminati pengunjung dari Banten, Jawa Barat, Lampung, dan DKI Jakarta. Jamal bahkan mengaku kewalahan melayani permintaan pembeli. "Kami sangat terbantu ekonomi keluarga melalui kegiatan Festival Seni Multatuli Rangkasbitung," ujarnya, meski merahasiakan nilai omzet yang diraih. Santa, pelaku UMKM Badui lainnya, juga merasakan dampak positif yang serupa.
Advertisement
Dukungan Pemerintah untuk Pertumbuhan UMKM Badui
Pemerintah daerah melalui Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Lebak, Imam Suangsa, menyatakan komitmennya. Mereka secara konsisten mempromosikan produk-produk khas kerajinan Badui di setiap ajang Festival Seni Multatuli Rangkasbitung. Tujuannya agar produk ini semakin dikenal luas oleh masyarakat.
Selain upaya promosi, pemerintah juga berfokus pada peningkatan omzet pendapatan bagi para pelaku UMKM Badui. Hal ini diharapkan dapat mendorong usaha mereka untuk terus tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan. Pembinaan dan pelatihan menjadi prioritas agar kualitas produk semakin baik.
Imam Suangsa menambahkan, saat ini terdapat sekitar 2.000 unit usaha UMKM Badui yang masih memproduksi kerajinan secara tradisional. Pemerintah daerah terus melakukan pembinaan, pelatihan, dan promosi. Ini dilakukan agar produk-produk UMKM Badui mampu bersaing di pasar domestik maupun internasional. Inisiatif ini sangat penting untuk masa depan.
Advertisement
"Kami memastikan perputaran uang dari kerajinan adat bisa mencapai ratusan juta per tahun, dan bisa menumbuhkan ekonomi masyarakat adat," kata Imam. Pernyataan ini menunjukkan optimisme pemerintah terhadap potensi ekonomi kerajinan Badui. Dukungan berkelanjutan diharapkan dapat membawa kesejahteraan bagi masyarakat adat.
Sumber: AntaraNews