Kementan Dorong Penguatan Ekspor Bawang Merah Enrekang Melalui Program HDDAP
Kementerian Pertanian (Kementan) serius menggarap potensi ekspor bawang merah Enrekang. Program Horticulture Development in Dryland Areas Project (HDDAP) menjadi kunci untuk menembus pasar global, meningkatkan produktivitas, dan menggerakkan ekonomi daera
Kementerian Pertanian (Kementan) membuka peluang pengembangan pasar ekspor produk bawang merah dari Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Upaya ini dilakukan melalui implementasi program Horticulture Development in Dryland Areas Project (HDDAP).
Program HDDAP dirancang tidak hanya untuk meningkatkan produksi hasil pertanian, tetapi juga secara spesifik mendorong penguatan ekspor bawang merah. Komoditas ini merupakan salah satu produk unggulan daerah yang memiliki potensi besar di pasar internasional.
Direktur Hilirisasi Hasil Hortikultura Kementan, Freddy Lumban Gaol, menyatakan bahwa program ini memberikan dukungan signifikan. Tujuannya adalah untuk memperkuat posisi bawang merah Enrekang di pasar global, khususnya di wilayah Timur Tengah.
Potensi dan Tantangan Ekspor Bawang Merah Enrekang
Bawang merah Enrekang telah lama dikenal memiliki kualitas yang mampu bersaing di pasar internasional, bahkan pernah menembus pasar Vietnam. Meskipun demikian, komoditas ini masih memerlukan penguatan pada aspek pemasaran serta konsistensi produksi agar dapat bersaing lebih optimal.
Komoditas bawang merah menjadi penggerak utama ekonomi daerah Enrekang, dengan nilai perputaran ekonomi yang diperkirakan mencapai Rp40 triliun setiap tahun. Potensi ekonomi yang besar ini menjadi alasan kuat bagi Kementan untuk terus mengembangkan sektor ini.
Pengembangan pasar ekspor ini diharapkan dapat memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi petani. Peningkatan nilai tambah produk dan akses pasar yang lebih luas akan mendorong kesejahteraan petani.
Peran Program HDDAP dalam Peningkatan Produktivitas
Program HDDAP memberikan harapan baru bagi para petani di Enrekang, seperti yang diungkapkan oleh Kadirbali, anggota Kelompok Tani Santabi. "Kami sangat terbantu dengan adanya program ini," ujar Kadirbali. "Dukungan seperti pompanisasi, benih, serta sarana produksi lainnya sangat penting untuk meningkatkan produktivitas pertanian kita, khususnya pada lahan kering."
Secara sosial, program ini juga dinilai memberikan dampak positif melalui penciptaan lapangan kerja baru. Lapangan kerja ini khususnya tersedia bagi tenaga fasilitator dan tenaga ahli lokal yang terlibat dalam pendampingan petani.
HDDAP berfokus pada peningkatan produktivitas dan nilai tambah hortikultura di lahan kering. Ini mencakup perbaikan input, lahan, air, infrastruktur, layanan, dan daya saing produksi hortikultura.
Progres dan Prioritas Implementasi HDDAP
Dalam pelaksanaannya, HDDAP telah mencatat progres signifikan. Verifikasi dan validasi CPCL (Calon Petani Calon Lokasi) bawang merah telah mencapai 95 persen, sementara untuk kentang mencapai 100 persen.
Selain itu, penyusunan dokumen perencanaan kawasan (Horticulture Cluster Development Plan/HCDP) terus dipercepat. Hal ini bertujuan untuk memastikan implementasi kegiatan berjalan tanpa jeda dan sesuai target.
Kementan menegaskan bahwa percepatan implementasi HDDAP pada tahun 2026 menjadi prioritas utama. Prinsipnya adalah tidak boleh ada kekosongan kegiatan di lapangan. Penguatan kelembagaan petani, dukungan infrastruktur air, serta integrasi hulu-hilir menjadi kunci keberhasilan program dalam meningkatkan produktivitas dan nilai tambah hortikultura di lahan kering.
Sumber: AntaraNews