Kekayaan Konglomerat Ini Lenyap Rp23 Triliun dalam Sehari
Anjloknya kekayaan konglomerat ini dipicu tudingan konflik kepentingan oleh regulator.
Ilustrasi Miliarder atau Orang Terkaya Dunia: Foto: Freepik/Chokniti
(@ 2023 merdeka.com)Kekayaan konglomerat India, Gautam Adani, anjlok USD1,5 miliar, atau setara Rp23 triliun, dalam sehari. Forbes menaksir, kekayaan konglomerat ini tersisa USD83,8 miliar atau sekitar Rp1.332 triliun.
"Menurut perkiraan kami , kekayaan bersih Gautam Adani adalah USD83,8 miliar, turun USD1,5 miliar akibat aksi jual pada hari Senin. Meskipun demikian, ia tetap menjadi orang terkaya kedua di India dan Asia setelah Mukesh Ambani," demikian penilaian Forbes dikutip pada Selasa (13/8).
Forbes menulis, saham perusahaan Adani melalui Adani Group anjlok pada Senin waktu Amerika. Hal ini menyusul laporan yang disampaikan broker Amerika Hindenburg Group yang menuduh kepala regulator pasar India melakukan konflik kepentingan yang diduga menghalangi penyelidikan terhadap klaim Hindenburg tentang penipuan dan manipulasi saham oleh konglomerat milik Adani.
Dalam laporan yang diterbitkan Sabtu, broker yang berbasis di New York, Hindenburg Research, menuduh Madhabi Puri Buch, ketua Dewan Sekuritas dan Bursa India (SEBI), dan suaminya, Dhaval Buch, berinvestasi dalam offshore yang terkait dengan Adani di Bermuda dan Mauritius.
"Saudara Adani, Vinod Adani diduga menggunakan dana ini untuk membeli dan memperdagangkan posisi besar dalam saham Adani Group,” demikian tuduhan laporan itu.
Buch dan suaminya itu berinvestasi di tahun 2015, dua tahun sebelum dia bergabung dengan SEBI. Dalam laporan tertulis, Adani Group telah menyingkirkan tuduhan Hindenburg yang menyebut jahat, dan manipulatif demi mencapai keuntungan pribadi tanpa menghiraukan fakta dan hukum.
Perusahaan ini dituding manipulasi saham
Hindenburg sebelumnya mengungkapkan perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Adani Group pada Januari 2023 terlibat dalam manipulasi saham secara terang-terangan dan skema penipuan akuntansi selama beberapa dekade.
Laporan itu menyebabkan kekayaan Adani anjlok tajam, turun dari tertinggi USD126 miliar pada Januari 2023 menjadi kurang dari USD50 miliar di akhir tahun.
Perusahaan itu dengan keras membantah tuduhan ini dan pendirinya yang miliarder melabelinya sebagai serangan "jahat" terhadap perusahaannya dan pertumbuhan ekonomi India.
Kontroversi itu berubah menjadi masalah politik di India karena hubungan dekat Adani selama puluhan tahun dengan Perdana Menteri India Narendra Modi. Awal tahun ini, Mahkamah Agung menolak permintaan penyelidikan independen atas tuduhan Hindenburg dan broker itu dipukul dengan pemberitahuan alasan oleh SEBI karena melanggar undang-undang sekuritas India.