Kebut Transisi Energi, PKT Gandeng KIE dan KMI Kembangkan Industri Rendah Karbon
Kolaborasi ini merupakan bagian dari upaya bersama mendorong pengelolaan karbon yang lebih berkelanjutan.
Dua perusahaan di Kota Bontang, Kalimantan Timur yaitu PT Kaltim Industrial Estate (KIE) sebagai anak Perusahaan Pupuk Kaltim dan PT Kaltim Methanol Industri (KMI) resmi menandatangani Perjanjian Kerja Sama Penyediaan Suplai Karbon Dioksida (CO2). Kolaborasi ini merupakan bagian dari upaya bersama mendorong pengelolaan karbon yang lebih berkelanjutan, sekaligus memperkuat kontribusi industri terhadap transisi energi rendah emisi.
Langkah ini juga menjadi bagian dari dukungan nyata perusahaan terhadap target pengurangan emisi dalam Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia, sejalan dengan komitmen global terhadap Perjanjian Paris.
Dalam kerja sama ini, Pupuk Kaltim bertindak sebagai penyedia material CO2, yaitu karbon dioksida yang dihasilkan dari proses produksinya. KIE berperan sebagai penyedia infrastruktur untuk suplai jalur distribusi CO2, sedangkan KMI menjadi pihak yang memanfaatkan CO₂ tersebut sebagai bahan baku tambahan untuk meningkatkan produksi metanol di pabriknya.
Direktur Operasi Pupuk Kaltim, F. Purwanto menyatakan bahwa kerja sama ini merupakan langkah strategis yang sejalan dengan visi Pupuk Kaltim dalam mendukung agenda pembangunan berkelanjutan, khususnya pada aspek dekarbonisasi sebagai bagian dari program Environmental, Social, and Governance (ESG) perusahaan.
"Sebagai perusahaan yang berkomitmen pada prinsip keberlanjutan, kami melihat bahwa kerja sama penyediaan CO₂ ini tidak hanya bermanfaat secara operasional, tetapi juga merupakan bagian dari transformasi industri pupuk dan petrokimia menuju proses yang lebih hijau dan rendah emisi," ujar F. Purwanto dikutip di Jakarta, Rabu (25/6).
Peran besar Pupuk Kaltim dalam kerja sama ini sangat signifikan, sebagai salah satu produsen pupuk terbesar di Asia Tenggara, Pupuk Kaltim menghasilkan CO2 dari proses produksi amonia dan urea dalam jumlah yang standar dan handal. Selama ini, sebagian besar CO2 tersebut dianggap sebagai emisi proses. Namun melalui inisiatif ini, CO2 akan diolah kembali menjadi bahan baku bernilai bagi sektor energi, khususnya dalam proses konversi ke metanol oleh KMI.
Inisiatif ini mengubah paradigma lama, dari emisi yang dilepas begitu saja, kini CO2 berkontribusi langsung pada penciptaan energi baru yang lebih bersih. Ini adalah bukti nyata bagaimana industri dapat menjadi bagian dari solusi iklim global.
CO2 yang dimurnikan tidak hanya mengurangi emisi ke atmosfer, tetapi juga dapat dimanfaatkan ulang sebagai bahan bakar sintetis atau metanol berbasis karbon, mendukung efisiensi energi dan pengurangan dampak gas rumah kaca.
Sinergi Percepat Transisi Energi
Direktur Utama KIE, Muhammad Erriza berharap kerja sama antar perusahaan ini untuk memperkuat sinergi dan mempercepat transisi energi.
"Kami percaya bahwa kerja sama antara KIE dan KMI ini akan menjadi langkah awal yang strategis dan saling menguntungkan. Tidak hanya memperkuat sinergi antar perusahaan, tetapi juga menjadi kontribusi nyata kita terhadap agenda nasional dan global dalam pengurangan emisi dan percepatan transisi energi."
Direktur Utama KMI, Futhosi Urai, menyampaikan bahwa penambahan suplai CO2 melalui kerja sama ini akan memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan efisiensi dan kapasitas produksi metanol KMI.
"Dengan adanya tambahan pasokan karbon dioksida ini, dapat mengoptimalkan dan meningkatkan kapasitas produksi metanol. Ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang KMI dalam mengembangkan industri metanol yang lebih efisien, berkelanjutan, dan berdaya saing di pasar global," ujarnya.
Sehingga KMI menyambut baik inisiatif ini sebagai langkah inovatif kawasan industri dalam menjawab tantangan iklim global. Ini tidak hanya menciptakan efisiensi proses produksi, tapi juga memperkuat posisi industri Kalimantan Timur di sektor energi bersih.
Melalui kolaborasi ini, PKT, KIE dan KMI berupaya menjadikan kawasan industri Bontang sebagai pionir ekosistem industri rendah karbon di Indonesia, sekaligus mendukung target nasional dalam pengurangan emisi dan peningkatan kualitas udara.