Indonesia Masuk ke Dalam Daftar Negara dengan Konsumsi Makanan Olahan Terbesar di Dunia
Orang yang mengonsumsi makanan olahan ultra cenderung mengonsumsi 1.000 kalori ekstra setiap hari.
Makanan ultra-olahan (ultra processed food), seperti keripik, permen, dan kentang goreng, memang diproduksi dengan cita rasa sangat menggoda sehingga sulit untuk ditolak. Campuran kalori tinggi dari karbohidrat olahan, lemak, garam, dan gula sintetis, dapat memicu keinginan makan berlebihan.
Sebuah studi menunjukkan bahwa orang yang mengonsumsi makanan olahan ultra cenderung mengonsumsi 1.000 kalori ekstra setiap hari dibandingkan dengan mereka yang mengonsumsi makanan dengan sedikit olahan. Makanan yang sangat lezat, seperti kentang goreng, diketahui dapat mengaktifkan sistem penghargaan di otak secara kuat, menjadikannya adiktif.
Meskipun makanan ultra-olahan banyak disukai, ada dampak yang harus diperhatikan. Makanan ini sering kali mengandung bahan tambahan dan bahan kimia yang tidak biasa ada di dapur rumah tangga, seperti pengemulsi dan sirup jagung fruktosa tinggi, yang lebih murah daripada gula tebu. Ini merupakan salah satu alasan mengapa makanan ultra-olahan menjadi bagian besar dari pola makan di banyak negara.
Grafik Makanan Ultra-Olahan dalam Pola Makan Global
- Amerika Serikat: 58% makanan dewasa terdiri dari makanan olahan.
- Inggris: 57%, dengan anak-anak mengonsumsi hingga 65% makanan olahan.
- Australia: 40%.
- Afrika Selatan: 39%.
- Meksiko: 30%.
- Jepang: 28%.
- Chile: 28%.
- Brasil: 22%.
- Korea Selatan: 21%.
- Indonesia: 18%.
- Italia: 18%.
Pola makan yang bergantung pada makanan olahan ini menunjukkan tren global yang terus berkembang. Meskipun beberapa negara masih mengonsumsi lebih sedikit makanan ultra-olahan, kesadaran akan dampak kesehatan jangka panjang perlu menjadi perhatian lebih besar di seluruh dunia.
Data Makanan Olahan di Dunia
Berdasarkan data dari British Medical Journal yang dipublikasi oleh BBC, porsi makanan ultra-olahan dalam pola makan orang dewasa menunjukkan perbedaan besar di berbagai negara. Di Amerika Serikat, lebih dari 58% makanan orang dewasa terdiri dari makanan olahan. Di Inggris, angka ini hampir sama, yaitu 57%, tetapi yang lebih mengkhawatirkan adalah 65% porsi makanan olahan pada anak-anak.
Makanan olahan tidak hanya populer di negara Barat. Di negara-negara seperti Afrika Selatan, Meksiko, dan Jepang, makanan olahan menyumbang sekitar 28% dari total kalori yang dikonsumsi. Di Indonesia, porsi makanan ultra-olahan dalam pola makan orang dewasa mencapai 18%.
Di AS, Menteri Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan yang baru diangkat, Robert F. Kennedy Jr., berencana untuk mengambil langkah tegas terhadap makanan ultra-olahan. Ia mengkritik penggunaan aditif dalam makanan yang terbukti meningkatkan risiko kondisi kesehatan kronis, kanker, dan penyakit hati berlemak. Selain itu, banyak produk makanan AS yang mengandung bahan aditif yang bahkan dilarang di Eropa.