Hashim Djojohadikusumo: Pasar Karbon Berjalan Mulai Juni 2026, Tambah Pemasukan Miliaran Dolar AS
Hashim mengatakan, pemerintah saat ini sedang menuntaskan penggabungan beberapa sistem registrasi karbon ke dalam Sistem Registrasi Unit Karbon (SRUK).
Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo menyebut bahwa Indonesia bakal memulai pasar karbon (carbon market) pada Juni 2026. Perdagangan karbon tersebut diproyeksikan bisa meraup pemasukan hingga miliaran dolar AS (Amerika Serikat).
Adapun linimasa implementasi pasar karbon sudah ditetapkan lewat Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 10 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Instrumen Nilai Ekonomi Karbon dan Pengendalian Emisi Gas Rumah Kaca Nasional.
Hashim mengatakan, pemerintah saat ini sedang menuntaskan penggabungan beberapa sistem registrasi karbon ke dalam Sistem Registrasi Unit Karbon (SRUK).
"Ini sangat penting, dan saya bisa laporkan pemerintah sudah menentukan akhir bulan Juni ini semua carbon market sudah operasional. Dan bulan Juli, kita berharap perdagangan cukup besar, sudah bisa diestimasi dan sudah bisa miliaran dolar masuk ke Indonesia," ujarnya dalam acara ESG Sustainability Forum 2026 di Jakarta, Selasa (3/2).
Menunggu Eksekusi Perdagangan
"Semua menteri-menteri di Kabinet Merah Putih sudah punya visi yang sama, ini harus berhasil," tegas Hashim.
Menurut dia, para pelaku komunitas karbon global telah menunggu eksekusi perdagangan karbon di Indonesia selama 10 tahun, sejak diluncurkannya Paris Agreement di 2015.
"Mereka semua bersemangat karena adanya Perpres 110/2025 yang menetapkan carbon market dan timeline. Dan, ini adalah suatu game changer," kata Hashim.