Fantastis! Laba Bersih PT Timah Melonjak Dua Kali Lipat Jadi Rp602 Miliar di Kuartal III-2025
PT Timah Tbk (TINS) berhasil membukukan laba bersih fantastis Rp602 miliar hingga Kuartal III-2025, melonjak drastis berkat harga timah global dan strategi efisiensi.
PT Timah Tbk (TINS), sebagai anggota Holding Industri Pertambangan MIND ID, mencatatkan kinerja keuangan yang impresif hingga Kuartal III-2025. Perusahaan berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp602 miliar, menunjukkan pertumbuhan signifikan.
Pencapaian ini melonjak dua kali lipat dibandingkan laba bersih yang tercatat pada Semester I-2025. Kenaikan ini didorong oleh beberapa faktor kunci yang saling mendukung.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT Timah, Fina Eliani, menjelaskan bahwa pertumbuhan laba ini merupakan hasil dari kenaikan harga logam timah global, penguatan permintaan dari sektor elektronik, serta strategi optimalisasi penjualan dan efisiensi biaya produksi yang diterapkan perseroan.
Pendorong Kenaikan Laba Bersih dan Permintaan Global
Kenaikan laba bersih PT Timah tidak terlepas dari tren positif di pasar global. Harga logam timah di pasar dunia menunjukkan peningkatan yang signifikan, dengan rata-rata Cash Settlement Price LME mencapai 32.775,58 dolar Amerika Serikat (AS) per ton hingga September 2025, naik 8,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Selain itu, permintaan timah global tetap kuat, terutama dari sektor elektronik seperti tin solder dan tin chemical. Pasar Jepang dan China menjadi pendorong utama permintaan ini, menunjukkan vitalnya timah dalam industri teknologi.
Fina Eliani menegaskan, "Perseroan berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp602 miliar pada periode sembilan bulan pertama 2025 atau melonjak dua kali lipat dibandingkan laba bersih semester I-2025." Ini mencerminkan keberhasilan perusahaan dalam memanfaatkan momentum pasar.
Strategi perseroan dalam optimalisasi penjualan dan efisiensi biaya produksi juga berperan besar. Hal ini memungkinkan PT Timah untuk menjaga margin keuntungan di tengah dinamika pasar.
Kontribusi Ekspor dan Harga Timah Dunia
Indonesia merupakan salah satu pemain kunci dalam pasar timah global, dan PT Timah memiliki kontribusi signifikan. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan RI, ekspor logam timah Indonesia hingga September 2025 mencapai 37.946 metrik ton, naik 28 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024.
Dari total ekspor tersebut, PT Timah menyumbang sekitar 21 persen, atau sekitar 3 persen dari total ekspor timah global yang mencapai 278.048 metrik ton. Kontribusi ini menunjukkan posisi strategis PT Timah di kancah internasional.
PT Timah memanfaatkan kenaikan harga timah global untuk memperluas jangkauan pasar ekspor dan meningkatkan margin penjualan. "Kenaikan harga ini dimanfaatkan Perseroan untuk memperluas jangkauan pasar ekspor dan meningkatkan margin penjualan," ujar Fina Eliani.
Hingga September 2025, harga jual rata-rata logam timah perseroan mencapai 33.596 dolar AS per ton, naik 8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Ini membuktikan strategi ekspor yang efektif.
Strategi Operasional dan Kinerja Keuangan PT Timah
Meskipun menghadapi tantangan seperti faktor cuaca, kondisi cadangan, dan aktivitas penambangan ilegal yang menyebabkan penurunan produksi bijih timah menjadi 12.197 ton Sn dan produksi logam timah 10.855 ton, PT Timah berhasil menjaga stabilitas operasional. Peningkatan efisiensi dan pengendalian biaya produksi menjadi kunci.
Penjualan logam timah tercatat 9.469 metrik ton, dengan komposisi 7 persen untuk pasar domestik dan 93 persen untuk ekspor. Enam negara utama tujuan ekspor meliputi Jepang (19 persen), Singapura (19 persen), Korea Selatan (18 persen), Belanda (9 persen), Italia (4 persen), dan Amerika Serikat (4 persen).
Fokus pada pasar ekspor di kawasan Asia Pasifik, Eropa, dan Amerika memberikan dampak positif terhadap peningkatan kinerja penjualan. Selama Kuartal III, PT Timah membukukan pendapatan sebesar Rp6,6 triliun, dengan EBITDA Rp1,5 triliun, dan laba bersih Rp602 miliar, yang mencapai 78 persen dari target laba tahun 2025 sebesar Rp774 miliar.
Dari sisi neraca, total aset perseroan naik 7 persen menjadi Rp13,7 triliun, sementara liabilitas meningkat 14 persen menjadi Rp6,1 triliun. Ekuitas perseroan juga meningkat 2 persen menjadi Rp7,61 triliun, didorong oleh laba positif yang dicatatkan. "Indikator keuangan utama menunjukkan kondisi yang sehat, Quick Ratio 32,8 persen, Current Ratio 177,8 persen, Debt to Asset Ratio 44,4 persen dan Debt to Equity Ratio 79,9 persen," jelas Fina Eliani, menunjukkan fundamental keuangan yang kuat.
Sumber: AntaraNews