Fakta Mengejutkan: Peternak Tegaskan Kenaikan Harga Ayam Bukan Karena Program Makan Bergizi Gratis (MBG)
Wakil Sekjen GOPAN menegaskan Kenaikan Harga Ayam di pasaran tidak terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG). Lalu, apa penyebab sebenarnya kenaikan harga ini?
Wakil Sekretaris Jenderal Garda Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN), Wayan Suadnyana, baru-baru ini menegaskan bahwa kenaikan harga ayam di pasaran tidak memiliki korelasi dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pernyataan ini disampaikan setelah Wayan mengikuti rapat penting dengan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian di Jakarta pada Rabu (16/10). Ia berupaya meluruskan persepsi yang berkembang di masyarakat terkait isu ini.
Menurut Wayan, program MBG memiliki sistem kontrak harga yang telah ditetapkan sejak awal, sehingga tidak menyebabkan fluktuasi harga yang signifikan di tingkat peternak. Mekanisme ini memastikan stabilitas pasokan dan harga untuk kebutuhan program tersebut. Oleh karena itu, isu mengenai penarikan pasokan besar-besaran akibat MBG tidak berdasar.
Kenaikan harga ayam yang terjadi di pasaran, lanjut Wayan, lebih disebabkan oleh faktor lain di luar program pemerintah tersebut. Penjelasan ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih jelas kepada masyarakat. Ini juga untuk mencegah kekhawatiran yang tidak perlu mengenai ketersediaan dan harga komoditas ayam.
MBG: Bukan Pemicu Kenaikan Harga Ayam
Wayan Suadnyana menjelaskan bahwa pasokan ayam untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) diatur melalui sistem kontrak harga yang tetap. Sistem ini dirancang khusus agar tidak menimbulkan gejolak pasar atau penarikan pasokan secara masif dari peternak. Dengan demikian, harga yang disepakati untuk MBG cenderung stabil.
Meskipun beberapa pemasok MBG melakukan penyimpanan sementara atau stocking, tindakan ini bersifat terbatas dan tidak signifikan. Stocking tersebut tidak berdampak besar terhadap harga ayam utuh di pasaran secara keseluruhan. Program MBG sendiri hanya membutuhkan bagian tertentu dari ayam, seperti dada tanpa tulang (boneless breast) atau parting, sekitar 50 gram per anak.
Kebutuhan ayam untuk program MBG disebut sangat kecil jika dibandingkan dengan total produksi nasional. Oleh karena itu, tidak mungkin program ini menjadi penyebab utama gejolak harga di tingkat produsen maupun konsumen. Wayan menekankan pentingnya meluruskan persepsi ini agar tidak mengganggu stabilitas pasar unggas nasional.
Faktor Lain di Balik Fluktuasi Harga Ayam
Perbedaan harga ayam di pasaran seringkali disebabkan oleh jenis produk yang diperdagangkan, bukan karena kelangkaan pasokan. Wayan mencontohkan, harga karkas ayam utuh berkisar antara Rp35.000 hingga Rp37.000 per kilogram. Sementara itu, bagian dada ayam dapat mencapai Rp44.000 hingga Rp45.000 per kilogram.
"Maka data tadi yang dibilang harga itu Rp44.000-Rp45.000 per kg itu perlu informasi yang jelas jangan-jangan itu bukan utuh, ayam utuh karkas, jangan-jangan itu adalah parting, apakah itu BLD (Boneless Dada) apakah itu parting paha bawah, paha atas, jangan-jangan begitu," jelas Wayan. Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya detail informasi produk.
Selain perbedaan jenis produk, kenaikan harga di lapangan juga dipengaruhi oleh biaya distribusi dan margin keuntungan pedagang. Faktor-faktor ini seringkali menjadi penentu harga akhir di tangan konsumen. Hal ini bukan semata-mata karena keterbatasan stok dari peternak atau perusahaan besar.
Stabilitas Pasokan dan Harga Menjelang Akhir Tahun
Produksi ayam hidup di kandang saat ini rata-rata mencapai harga Rp22.500 per kilogram. Harga anak ayam umur sehari (Day Old Chick/DOC) berada di kisaran Rp6.500 hingga Rp7.500 per ekor, yang masih dianggap dalam batas wajar. Kondisi ini menunjukkan bahwa pasokan di hulu tetap terjaga.
Wayan memastikan ketersediaan ayam nasional tetap aman dengan pasokan yang stabil dari peternak rakyat dan perusahaan integrator. Masyarakat tidak perlu khawatir akan terjadi kelangkaan pasokan menjelang akhir tahun. Justru, program MBG dinilai memberi dampak positif dengan menumbuhkan permintaan protein hewani dalam negeri.
"Kalau lihat dari data suplai, DOC dari demand itu berlebih. Saya pikir nggak usah khawatir, pasti sampai Natal dan Tahun Baru aman. Kenapa saya berani bilang aman? Karena di hulunya itu kan jumlah DOC dengan demand itu lebih banyak suplai sebenarnya," kata Wayan. Keseimbangan antara harga pakan, DOC, dan ayam hidup juga terjaga berkat kerja sama erat semua pihak.
Sumber: AntaraNews