Dosen Undip Ingatkan: Swasembada Energi Jangan Rusak Swasembada Pangan Nasional
Dosen Undip menyoroti pentingnya mencapai Swasembada Energi tanpa mengorbankan ketahanan pangan. Indonesia didorong mengembangkan energi terbarukan secara berkelanjutan.
Mohamad Endy Julianto, seorang Dosen Teknologi Rekayasa Kimia Industri (TRKI) Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, mengeluarkan peringatan penting kepada pemerintah. Ia menekankan perlunya menjaga swasembada pangan saat berupaya mencapai swasembada energi nasional. Peringatan ini disampaikan di Semarang pada Jumat (10/4).
Menurut Endy, jangan sampai lahan pertanian yang produktif justru dialihfungsikan seluruhnya menjadi kebun energi. Kondisi ini bisa menimbulkan dampak serius terhadap ketersediaan pangan di Indonesia. Oleh karena itu, strategi energi harus mempertimbangkan aspek keberlanjutan pangan.
Pernyataan ini muncul di tengah kekhawatiran akan dampak lonjakan harga minyak dunia terhadap ekonomi domestik. Ketika harga minyak global melampaui 100 dolar AS per barel, Indonesia langsung merasakan imbasnya, mulai dari subsidi BBM yang membengkak hingga kenaikan biaya transportasi dan harga pangan.
Ancaman Krisis Energi dan Solusi Mandiri
Lonjakan harga minyak dunia memiliki efek domino yang signifikan terhadap perekonomian Indonesia. Subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) membengkak, biaya transportasi meningkat, dan harga pangan ikut melonjak, yang pada akhirnya menurunkan daya beli masyarakat. Situasi ini menunjukkan kerentanan Indonesia terhadap fluktuasi pasar energi global.
Menghadapi tantangan ini, Endy Julianto berpendapat bahwa solusi yang jauh lebih cerdas adalah membangun sistem energi yang mandiri. Mengandalkan subsidi terus-menerus bukanlah jalan keluar jangka panjang. Kemandirian energi akan memberikan stabilitas ekonomi yang lebih baik.
Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemimpin dalam energi terbarukan di kancah global. Kekayaan sumber daya alam dan geografisnya memungkinkan pengembangan berbagai jenis energi bersih. Pemanfaatan potensi ini menjadi kunci menuju kemandirian energi dan Swasembada Energi Pangan.
Potensi Energi Terbarukan dan Kendaraan Listrik
Endy menjelaskan bahwa berbagai komoditas pertanian dapat diolah menjadi biofuel yang bermanfaat. Kelapa sawit, misalnya, dapat diubah menjadi biodiesel untuk truk, bus, kapal, alat berat, dan genset. Sementara itu, tebu, singkong, molase, dan sorgum berpotensi menjadi bioetanol sebagai pengganti bensin.
Visi masa depan Indonesia yang digambarkan Endy sangat menarik, dengan dominasi motor listrik di jalanan kota. Bus dan kendaraan logistik diharapkan menggunakan baterai, truk berat dan industri beralih ke hidrogen, sementara kapal antarpulau akan mengadopsi biodiesel dan sistem hibrida. Kendaraan listrik bukan sekadar tren, melainkan strategi nasional untuk mengurangi impor BBM.
Indonesia memiliki cadangan nikel yang sangat besar, sebuah aset krusial untuk produksi baterai kendaraan listrik. Jika pengembangan motor dan mobil listrik dilakukan secara masif, konsumsi BBM nasional dapat berkurang drastis. Program konversi jutaan sepeda motor ke motor listrik dinilai sebagai langkah tercepat dan paling realistis untuk mengatasi krisis energi.
Prinsip Keberlanjutan dalam Pengembangan Biofuel
Meskipun potensi energi terbarukan sangat besar, Endy Julianto kembali menegaskan peringatannya. Sangat penting untuk memastikan bahwa lahan pertanian produktif tidak dialihfungsikan menjadi kebun energi. Prioritas utama harus tetap pada ketahanan pangan nasional.
Pengembangan biofuel harus didasarkan pada prinsip keberlanjutan yang kuat. Ini berarti memanfaatkan limbah, lahan marginal, minyak jelantah, dan biomassa sebagai bahan baku utama. Pendekatan ini memastikan bahwa produksi biofuel tidak mengganggu produksi pangan pokok.
Teknologi yang digunakan dalam pengembangan biofuel juga harus mendukung prinsip keberlanjutan. Inovasi harus berfokus pada efisiensi dan minimisasi dampak lingkungan. Dengan demikian, Swasembada Energi dapat dicapai tanpa mengorbankan Swasembada Pangan.
Sumber: AntaraNews