DKP Babel Gandeng Swasta Kembangkan Budidaya Udang Vaname Hulu-Hilir, Optimalkan Potensi Pesisir
Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Babel bersama Trobos Grup menggalakkan pengembangan industri Budidaya Udang Vaname dari hulu hingga hilir, memanfaatkan potensi pesisir luas dan mengatasi tantangan pasar.
Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) bersama perusahaan swasta, Trobos Grup, secara aktif mengembangkan sektor industri budidaya udang vaname. Inisiatif ini mencakup seluruh rantai produksi, mulai dari hulu hingga hilir, guna memastikan keberlanjutan dan peningkatan kualitas produk.
Pengembangan ini dilatarbelakangi oleh potensi besar wilayah pesisir Bangka dan Belitung yang mencapai sekitar 5.000 hektare, namun belum tergarap secara maksimal. Upaya ini diharapkan dapat mendorong perekonomian lokal serta membuka peluang ekspor yang lebih luas bagi produk perikanan daerah.
Pelaksana tugas Kepala DKP Provinsi Babel, Yopi Wijaya, menyatakan bahwa kolaborasi ini merupakan langkah strategis untuk memberikan wawasan kepada masyarakat dan pelaku usaha. Seminar yang digelar menjadi sarana penting untuk edukasi mengenai industri budidaya udang secara berkelanjutan.
Potensi dan Pengembangan Industri Budidaya Udang Vaname di Babel
Potensi budidaya udang vaname di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sangatlah besar, didukung oleh luasnya wilayah pesisir yang belum termanfaatkan secara optimal. DKP Babel bersama Trobos Grup baru-baru ini menggelar "Seafood & Shrimp Seminar, From Farm To The Table" untuk membahas berbagai aspek penting dalam industri ini.
Yopi Wijaya menjelaskan, "Akhir pekan lalu kita bersama Trobos Grup menggelar seminar Seafood & Shrimp Seminar, From Farm To The Table, ini untuk memberikan wawasan kepada masyarakat terkait industri budidaya udang dari hulu-hilir secara berkelanjutan." Seminar ini bertujuan memberikan pemahaman komprehensif kepada para pemangku kepentingan.
Acara tersebut dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk pelaku usaha tambak udang, pelaku pemijahan, akademisi, serta narasumber dari Kementerian Kelautan dan Perikanan RI dan Kementerian Perindustrian dan Perdagangan. Diskusi fokus pada perkembangan tambak udang di Babel, mulai dari proses benih hingga pakan yang berkualitas.
Tantangan dan Solusi untuk Ekspor Udang Babel
Industri udang vaname di Bangka Belitung menghadapi beberapa tantangan signifikan, termasuk fluktuasi harga dan penolakan ekspor dari negara tujuan. Yopi Wijaya mengungkapkan, "DKP Babel terus melakukan pengawasan agar harga bagus karena sekarang harga udang sedang tidak baik dan ada penolakan dari Amerika Serikat karena udang yang dikirim terpapar penyakit." Situasi ini menuntut adanya solusi inovatif.
Untuk mengatasi masalah tersebut, DKP Babel berupaya mencari alternatif agar udang dari Babel dapat langsung diekspor, tidak lagi harus melalui Lampung atau Jakarta. Pemerintah daerah secara proaktif menyisir pola pengembangan usaha tambak udang agar investasi para pelaku tidak sia-sia, dengan membuka jalur ekspor langsung.
Pemerintah Provinsi Babel juga terus berdiskusi dengan kementerian terkait untuk menemukan solusi aktual yang dapat memaksimalkan budidaya udang, menjaga stabilitas harga, dan memastikan perkembangan yang baik. Meskipun masih ada kendala seperti penyakit, DKP Babel berkomitmen untuk memberikan pembinaan dan pengawasan intensif kepada para petambak. "Meskipun di lain sisi kita masih mengalami kendala lainnya, salah satunya penyakit, namun akan kita bantu dengan pola pembinaan dan pengawasan," ujarnya.
Data dan Peningkatan Produksi Udang Vaname di Babel
Berdasarkan data Satu Data Kementerian Kelautan Perikanan hingga tahun 2024, jumlah perusahaan tambak udang, baik perseorangan maupun kelompok pelaku budidaya ikan (Pokdakan), di Bangka Belitung mencapai 234 pelaku. Sebaran pelaku usaha ini meliputi Kabupaten Bangka (87), Bangka Tengah (19), Bangka Barat (48), Bangka Selatan (43), Belitung Timur (23), Belitung (11), dan Kota Pangkalpinang (3).
Seluruh perusahaan atau Pokdakan tersebut diketahui menggunakan teknologi sistem intensif dalam operasional tambak mereka. Saat ini, terdapat sekitar 120 tambak udang yang masih aktif beroperasi di wilayah tersebut, menunjukkan skala produksi yang cukup besar.
Produksi udang di Babel mencapai 20.000 ton per tahun, meskipun ada penurunan pada tahun ini yang disebut sebagai fluktuasi pasar. Yopi Wijaya berharap, "Untuk tambak udang yang masih beroperasi saat ini ada 120. Dalam satu tahun produksi udang mencapai 20.000 ton, dan tahun ini memang ada penurunan, namun itu fluktuasi pasar dan kita harap teman-teman tetap semangat karena pemerintah terus berupaya mengatasi persoalan ini."
Peran Trobos Grup dan Harapan Masa Depan
Pimpinan Trobos Grup, Suhadi Poernomo, menyatakan bahwa seminar yang diselenggarakan merupakan upaya untuk menyemangati seluruh pelaku tambak udang di tengah tekanan pasar yang berat sejak tahun 2024. Meskipun terjadi penurunan ekspor di pasar utama, fluktuasi harga, dan tantangan penyakit, Babel justru menunjukkan perkembangan positif.
Produksi udang vaname di Babel tercatat meningkat sebesar 318 persen, sebuah pencapaian yang luar biasa di tengah kondisi sulit. "Jumlah tambak udang juga semakin banyak, dari awalnya 21 menjadi 185, dan masuknya larva membuat produksi meningkat. Ini menunjukkan Babel bukan hanya dikenal sebagai pusat produksi tapi memiliki potensi kuliner dan wisata bahari dari produk perikanan dan udang yang tinggi," ujar Suhadi Poernomo.
Melalui seminar ini, Trobos Grup berharap dapat bersama-sama mencari solusi untuk membangun wisata bahari melalui industri udang, menjadikan acara tersebut sebagai ruang dialog strategis. Diskusi mencakup persoalan budidaya udang mulai dari penyakit, standar mutu, hingga strategi pasar global. "Di samping itu kita juga mendorong konsumsi udang untuk mendukung kampanye gizi seimbang dan makam bergizi gratis (MBG)," tambahnya, menunjukkan komitmen terhadap aspek kesehatan masyarakat.
Sumber: AntaraNews