Disketapang Lebak Pastikan Ketersediaan Pangan Aman Jelang Natal dan Tahun Baru
Dinas Ketahanan Pangan Lebak menjamin Ketersediaan Pangan Lebak tetap stabil dan aman menjelang Natal dan Tahun Baru, bahkan beberapa harga bahan pokok mengalami penurunan.
Pemerintah Kabupaten Lebak melalui Dinas Ketahanan Pangan (Disketapang) secara resmi memastikan stok bahan pokok di wilayahnya tetap aman dan terkendali. Ketersediaan pangan Lebak ini dijamin cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru mendatang. Penjaminan ini disampaikan setelah tim Disketapang melakukan pemantauan intensif di berbagai pasar tradisional setempat.
Kepala Bidang Distribusi dan Sumberdaya Pangan Disketapang Lebak, Benu Dwiyana, menegaskan bahwa persediaan bahan pokok di daerah tersebut relatif aman dan mencukupi. Kondisi ini bertujuan utama untuk menjaga stabilitas pasokan serta harga yang terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat. Upaya proaktif ini dilakukan demi menciptakan rasa tenang dan kenyamanan konsumen di penghujung tahun.
Selain pasokan yang melimpah, hasil pantauan di sejumlah pasar tradisional Kabupaten Lebak juga menunjukkan tren positif pada harga. Beberapa komoditas bahan pokok penting justru mengalami penurunan harga yang signifikan. Situasi ini tentu menjadi kabar gembira dan angin segar bagi warga yang akan menyambut momen perayaan akhir tahun dengan kebutuhan pangan yang lebih terjangkau.
Stabilitas Harga dan Pasokan Bahan Pokok Lebak
Benu Dwiyana menjelaskan bahwa jaminan ketersediaan pangan Lebak ini didasarkan pada data stok yang ada di gudang distributor dan pedagang besar. Pihaknya terus berkoordinasi dengan para pemasok untuk memastikan tidak ada kendala dalam distribusi. Tujuan utama adalah mencegah kelangkaan dan lonjakan harga yang tidak wajar selama periode permintaan tinggi.
Pantauan harga menunjukkan penurunan pada beberapa jenis beras. Beras medium KW 1 kini dijual Rp13.200 per kilogram (kg), turun dari Rp13.500 per kg. Sementara itu, beras medium KW 2 turun menjadi Rp12.500 per kg dari sebelumnya Rp12.800 per kg. Bahkan, beras medium KW 3 juga mengalami penurunan dari Rp11.500 per kg menjadi Rp11.150 per kg, memberikan keringanan bagi konsumen.
Tidak hanya beras, komoditas lain seperti gula pasir putih juga mengalami penurunan harga signifikan, dari Rp20.000 menjadi Rp18.000 per kg. Minyak goreng kemasan sedikit turun dari Rp20.700 menjadi Rp20.500 per kemasan. MinyaKita juga lebih murah, dari Rp17.700 menjadi Rp17.400 per liter, dan minyak curah tanpa merek turun dari Rp17.500 menjadi Rp17.250 per liter.
Penurunan harga juga terlihat pada produk hewani. Daging sapi turun dari Rp144.500 per kg menjadi Rp144.300 per kg. Daging kerbau juga mengalami koreksi harga dari Rp147.300 per kg menjadi Rp147.000 per kg. Selain itu, harga telur ayam ras juga turun dari Rp27.000 per kg menjadi Rp26.000 per kg, menunjukkan kondisi pasar yang lebih stabil.
Dampak Positif bagi Pedagang dan Konsumen
Di sisi lain, beberapa bahan pokok lainnya menunjukkan stabilitas harga yang konsisten. Telur ayam ras (selain yang disebutkan turun) tetap di kisaran Rp29.500 per kg, terigu Rp13.000 per kg, dan daging unggas Rp36.500 per kg. Kondisi ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan, pasar bahan pokok di Lebak berada dalam kondisi yang terkendali.
Benu Dwiyana menyatakan keyakinannya bahwa harga bahan pokok menjelang Natal dan Tahun Baru akan tetap stabil. "Kita meyakini harga bahan pokok menjelang Natal dan Tahun Baru stabil, karena persediaan melimpah," ujarnya, mengutip langsung pernyataan dari pihak dinas. Pernyataan ini memberikan jaminan kepada masyarakat terkait daya beli mereka.
Kondisi pasar yang kondusif ini juga dirasakan langsung oleh para pedagang. H Mami, seorang pedagang di pasar tradisional Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, membenarkan bahwa persediaan bahan pokok saat ini melimpah. Ia menjelaskan, "Kami sejak satu pekan terakhir omzet pendapatan ada kenaikan hingga Rp20 juta dibandingkan sebelumnya Rp15 juta per hari," menunjukkan dampak positif pada pendapatan pedagang.
Peningkatan omzet ini membuktikan bahwa penurunan harga dan ketersediaan yang melimpah mendorong daya beli masyarakat. Situasi ini menciptakan ekosistem pasar yang sehat, di mana konsumen mendapatkan harga yang lebih baik dan pedagang tetap meraih keuntungan. Ini adalah indikator positif bagi perekonomian lokal menjelang akhir tahun.
Sumber: AntaraNews