Dari Nikel hingga Nuklir, Indonesia–Jepang Bangun Kerja Sama Energi Strategis
Kerja sama ini dibahas dalam pertemuan bilateral antara Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dengan Menteri Ekonomi, Perdagangan dan Perdagangan Jepang Ryosei Akazawa.
Di tengah perubahan geopolitik dunia serta meningkatnya kebutuhan terhadap energi bersih, penguatan kerja sama internasional menjadi langkah penting untuk menjaga ketahanan energi sekaligus mendorong percepatan transisi energi. Dalam konteks ini, mineral kritis dan teknologi energi maju semakin dipandang sebagai komponen strategis untuk mencapai target emisi nol bersih di masa depan.
Komitmen tersebut tercermin dalam sejumlah kesepakatan yang lahir dalam rangkaian Indo Pacific Energy Security Ministerial and Business Forum (IPEM) di Tokyo, Jepang. Forum ini menunjukkan bahwa pemerintah terus berupaya memperkuat ketahanan energi nasional melalui kolaborasi global.
Salah satu bentuk konkret dari upaya tersebut adalah penguatan kerja sama antara Indonesia dan Jepang yang berfokus pada pengembangan rantai pasok energi serta teknologi energi masa depan di kawasan Asia-Pasifik.
Pertemuan Bilateral Indonesia–Jepang
Kerja sama ini dibahas dalam pertemuan bilateral antara Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI Bahlil Lahadalia dengan Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang (METI), Ryosei Akazawa. Pertemuan berlangsung di sela-sela forum IPEM di Tokyo pada Minggu (15/3).
Salah satu hasil utama dari pertemuan tersebut adalah penandatanganan Memorandum of Cooperation (MoC) di dua sektor strategis, yakni pengembangan mineral kritis dan energi nuklir. Kesepakatan ini diharapkan mampu memperkuat sistem energi yang lebih terintegrasi, tangguh, dan berkelanjutan.
"Saya sangat menyambut baik tentang memorandum yang kita hari ini tandatangani, khususnya di bidang mineral kritis, kami sangat terbuka, kami dengan senang hati untuk meminta kepada pemerintah Jepang maupun teman-teman pengusaha Jepang untuk bisa mengelola bersama-sama mineral kritis kami yang ada di Indonesia," ungkap Bahlil di sela pertemuan bilateral.
Potensi Besar Mineral Kritis Indonesia
Dalam kerja sama sektor mineral kritis, kedua negara sepakat untuk memperkuat rantai pasok global agar lebih aman dan stabil. Kolaborasi ini juga diharapkan dapat mendorong pengembangan teknologi energi bersih melalui pemanfaatan sumber daya mineral strategis yang dimiliki Indonesia.
Indonesia memang dikenal memiliki cadangan mineral yang sangat besar dan penting bagi industri energi masa depan, termasuk kendaraan listrik dan teknologi energi baru.
“Kita tahu bahwa Indonesia mempunyai cadangan 43% dari total nikel dunia, dan juga kita menjadi pemain bauksit salah satu terbesar, timah, dan juga punya tembaga. Saya persilahkan, ada logam tanah jarang, jadi kalau mampu kita bisa implementasikan, saya pikir itu adalah hal yang baik,” tutur Bahlil.
Jepang Tekankan Pentingnya Kolaborasi Energi
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang (METI) Ryosei Akazawa menegaskan bahwa kerja sama antarnegara menjadi semakin penting di tengah ketidakpastian global.
Menurutnya, dinamika geopolitik serta potensi krisis energi menuntut setiap negara untuk memperkuat kolaborasi, termasuk dalam pengamanan cadangan energi strategis.
“Di tengah situasi krisis global saat ini, penting bagi kita untuk memperkuat kerja sama demi menjaga ketahanan energi. Jepang sendiri telah menyiapkan cadangan energi strategis sebagai langkah antisipasi,” ujar Akazawa.
Ia juga mengapresiasi dukungan Pemerintah Indonesia terkait izin ekspor Liquefied Natural Gas (LNG) ke Jepang. Selain itu, Jepang menegaskan komitmennya untuk terus mendukung berbagai proyek energi di Indonesia, termasuk penyelesaian proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Legok Nangka sebagai bagian dari kemitraan strategis kedua negara.
Kerja Sama Energi Nuklir dan Transisi Energi
Selain mineral kritis, kedua negara juga memperluas kerja sama di sektor energi nuklir. Fokus utama kerja sama ini adalah pengembangan teknologi dan pemanfaatan energi nuklir dengan tetap mengutamakan standar keselamatan yang tinggi.
Melalui kolaborasi ini, Indonesia berpeluang memanfaatkan pengalaman serta teknologi Jepang dalam mengembangkan solusi energi rendah karbon.
Ke depan, Indonesia dan Jepang akan melanjutkan diskusi mengenai penguatan ketahanan energi kawasan, termasuk kerja sama pada rantai pasok LNG dan batu bara. Kedua negara juga mendorong percepatan proyek-proyek transisi energi di bawah kerangka Asia Zero Emission Community (AZEC), seperti operasional PLTP Sarulla serta penyelesaian PLTSa Legok Nangka.
Kerja sama strategis ini diharapkan tidak hanya memperkuat ketahanan energi kedua negara, tetapi juga mendukung upaya dekarbonisasi serta pengembangan energi berkelanjutan di kawasan Indo-Pasifik.