Perkuat Kolaborasi Energi Indo-Pasifik, Bahlil Tekankan Saling Menguntungkan di Tengah Ketidakpastian Global

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyerukan penguatan Kolaborasi Energi Indo-Pasifik yang saling menguntungkan di Tokyo, menyoroti ketidakpastian pasokan energi global dan ketegangan geopolitik.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Perkuat Kolaborasi Energi Indo-Pasifik, Bahlil Tekankan Saling Menguntungkan di Tengah Ketidakpastian Global
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyerukan penguatan Kolaborasi Energi Indo-Pasifik yang saling menguntungkan di Tokyo, menyoroti ketidakpastian pasokan energi global dan ketegangan geopolitik. (AntaraNews)

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyerukan pentingnya penguatan kolaborasi antarnegara yang saling menguntungkan di kawasan Indo-Pasifik. Pernyataan ini disampaikan dalam forum Indo-Pacific Energy Security Ministerial and Business (IPEM) di Tokyo, Jepang, pada Minggu (15/3).

Di hadapan para menteri dan pelaku industri energi, Bahlil menekankan bahwa kerja sama erat diperlukan di tengah ketidakpastian pasokan energi dunia dan ketegangan geopolitik yang sedang berlangsung. Isu ketahanan energi menjadi sangat krusial dan mendesak untuk dibahas bersama.

Forum IPEM menjadi platform penting bagi negara-negara di kawasan untuk berdiskusi dan memperkuat kerja sama guna mendukung ketahanan energi, terutama di tengah konflik global yang berdampak pada pasokan energi. Indonesia menegaskan komitmennya dalam menjaga stabilitas pasokan energi global.

Menteri Bahlil menegaskan bahwa dalam kondisi pasokan energi dunia yang tidak menentu, negara-negara harus memperkuat kolaborasi yang saling mengangkat, bukan saling menjatuhkan. Pendekatan ini diharapkan dapat menciptakan stabilitas energi yang berkelanjutan bagi seluruh kawasan.

Indonesia menunjukkan komitmen nyata dalam mendukung pasokan energi global. Pada tahun 2025 lalu, Indonesia mengirimkan 150 kargo liquefied natural gas (LNG) untuk memenuhi kebutuhan energi dunia.

Selain itu, Indonesia juga berkontribusi signifikan dengan memasok sekitar setengah dari total batu bara yang diperdagangkan secara global. Ekspor energi dalam jumlah besar ini secara langsung memperkuat pasokan energi di tingkat internasional.

Bahlil juga menyoroti bahwa ketika kolaborasi tidak berjalan optimal, setiap negara memiliki hak untuk memprioritaskan kepentingan masyarakat domestiknya. Hal ini menjadi pertimbangan utama dalam menjaga ketersediaan energi nasional.

Sebagai negara importir minyak, Indonesia akan memanfaatkan potensi energi dalam negeri jika pasokan minyak tersebut tidak dapat diamankan. Salah satu langkah konkret adalah dengan meningkatkan porsi crude palm oil (CPO) yang diubah menjadi biodiesel.

Indonesia adalah produsen dan eksportir CPO terbesar di dunia, dengan volume ekspor mencapai 30 juta ton setiap tahunnya. Pemanfaatan CPO untuk biodiesel merupakan strategi diversifikasi energi yang penting.

Meskipun ada Perjanjian Paris yang mendorong transisi dari batu bara, Bahlil mengakui bahwa banyak negara saat ini justru meningkatkan impor batu bara dari Indonesia. Ini menunjukkan realitas kebutuhan energi global di tengah kelangkaan pasokan.

Pemerintah Indonesia terus berkomitmen kuat untuk mendorong transisi energi dan pengembangan energi terbarukan. Diversifikasi sumber energi menjadi kunci untuk memperkuat ketahanan energi nasional di masa depan.

Komitmen ini tercermin dari arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berdaya 100 gigawatt (GW). Prioritas jangka pendeknya adalah mengganti Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) dengan PLTS.

Forum IPEM di Tokyo merupakan pertemuan tingkat tinggi yang mempertemukan pemerintah dan pelaku usaha energi. Tujuannya adalah membahas keamanan pasokan energi di kawasan Indo-Pasifik, diselenggarakan oleh Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI) Jepang dan National Energy Dominance Council Amerika Serikat.

Pertemuan tersebut menghasilkan pernyataan bersama yang menekankan pentingnya memperkuat ketahanan energi kawasan. Pernyataan ini juga menghormati jalur transisi energi yang dipilih oleh masing-masing negara, mengakui keberagaman pendekatan dalam mencapai tujuan energi berkelanjutan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi