Dana Asing Lari ke Malaysia, Indonesia Kehilangan Rp51 Triliun
Faktor utama yang menarik investor adalah kombinasi antara pelonggaran kebijakan moneter di Asia dan prospek apresiasi mata uang regional.
Investor global kini beralih dari obligasi Amerika Serikat dan mulai melirik pasar utang Asia yang dinilai lebih stabil dan menguntungkan. Dilansir dari Reuters, Malaysia tercatat sebagai negara tujuan utama arus modal asing ke sektor obligasi, dengan aliran dana asing terbesar sejak 2014.
Laporan dari berbagai otoritas keuangan menunjukkan bahwa kepemilikan asing atas surat utang negara-negara Asia seperti Indonesia, India, hingga Filipina terus meningkat. Sepanjang lima bulan pertama 2025, investor asing telah membeli obligasi Asia senilai USD 34 miliar atau sekitar Rp555 triliun, tertinggi sejak 2016.
Ekonom Invesco, David Chao, menyebutkan bahwa kondisi saat ini sangat mendukung untuk investasi di Asia.
"Ini adalah momentum tepat bagi pasar negara berkembang untuk unggul,” ujarnya.
Faktor Kebijakan Moneter Asia
Faktor utama yang menarik investor adalah kombinasi antara pelonggaran kebijakan moneter di Asia dan prospek apresiasi mata uang regional, seiring pelemahan dolar AS serta kebijakan fiskal agresif di AS dan Eropa.
Malaysia mencatat arus masuk dana asing sebesar USD 3,15 miliar (Rp51 triliun) pada Mei, disusul oleh India dan Indonesia. Sementara itu, pasar obligasi Thailand justru mencatat arus keluar sebesar USD 53,6 juta karena prospek imbal hasil yang rendah dan kekhawatiran atas nilai mata uang.
Shah Jahan Abu Thahir dari Bank of America menjelaskan bahwa lingkungan global yang sedang menuju penurunan suku bunga, serta pelemahan dolar AS, membuat aset-aset di pasar berkembang menjadi lebih menarik.
Malaysia Lebih Menjanjikan Dibanding Indonesia
Di Indonesia, obligasi pemerintah (IndoGB) menawarkan imbal hasil sekitar dua poin persentase lebih tinggi dibandingkan obligasi AS bertenor 10 tahun. Namun, investor masih menahan diri karena kekhawatiran terhadap pembelanjaan fiskal dan ketidakpastian politik domestik.
Malaysia dinilai lebih menjanjikan karena Bank Sentralnya belum menurunkan suku bunga, meskipun tekanan ekonomi mulai terlihat. Potensi penurunan suku bunga pada Juli diprediksi menjadi peluang bagi investor untuk meraih capital gain.
Meskipun pasar obligasi Asia masih menghadapi tantangan likuiditas, analis menilai aliran modal yang masuk secara bertahap justru memberi dampak positif.
“Jika arus masuk ini terjadi secara alami dan bertahap, bukan hanya tidak menimbulkan risiko, tapi bisa menjadi kabar baik,” ujar Claudio Piron, analis Bank of America.