Cerita Warga Binaan Lapas Nusakambangan Olah Limbah PLTU Hingga Raup Omzet Rp5,4 Miliar
Produk yang dihasilkan dari pengolahan FABA mencakup batako, paving block, roaster, dan buis beton.
Warga binaan di Lapas Nusakambangan mampu menghasilkan pendapatan sebesar Rp5,4 miliar setiap tahunnya dengan cara mengolah abu sisa pembakaran batu bara dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Adipala. Abu tersebut, yang dikenal sebagai Fly Ash dan Bottom Ash (FABA), diubah menjadi bahan konstruksi untuk pembangunan.
Pemanfaatan FABA oleh para warga binaan di Lapas Nusakambangan merupakan hasil kolaborasi antara Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan serta PT PLN (Persero) dan PT PLN Indonesia Power. Produk yang dihasilkan dari pengolahan FABA mencakup batako, paving block, roaster, dan buis beton.
Direktur Utama PT PLN (Persero), Darmawan Prasodjo menjelaskan bahwa FABA adalah salah satu bentuk kontribusi PLN dalam mendukung energi berkelanjutan sambil menciptakan nilai tambah sosial dan ekonomi. Program ini juga bertujuan untuk rehabilitasi sosial warga binaan, yang membuka peluang usaha baru bagi mereka.
"Lewat pemanfaatan FABA, kami tidak hanya menghadirkan energi yang andal, tetapi juga membuka jalan bagi pemberdayaan ekonomi dan sosial, khususnya bagi warga binaan Nusakambangan," ungkap Darmawan pada Jumat (12/9).
Program yang diberi nama Nusakambangan Berdaya ini telah menyerap 142 tenaga kerja dan memberdayakan 30 warga binaan, serta menghasilkan 2 juta paving block dan 1 juta batako setiap tahunnya, dengan potensi omzet mencapai Rp5,4 miliar per tahun serta mampu menurunkan emisi hingga 748 ton COe setiap tahunnya.
Kirimkan 846 Ton FABA
PLN Indonesia Power, yang bertanggung jawab atas pengoperasian PLTU Adipala di Cilacap, telah menyediakan 846 ton FABA yang siap digunakan. Selain itu, mereka juga memberikan dua unit mesin untuk pengolahan FABA guna meningkatkan pelatihan kerja bagi warga binaan.
Direktur Utama PLN Indonesia Power, Bernadus Sudarmanta, menegaskan bahwa PLN berkomitmen untuk mendukung kebijakan pemerintah dalam memberdayakan masyarakat. Inisiatif ini bertujuan agar rehabilitasi warga binaan dapat berjalan seiring dengan pengembangan ekonomi sirkular dan perlindungan lingkungan.
"Kami percaya bahwa rehabilitasi sosial dapat berjalan beriringan dengan pengembangan ekonomi sirkular dan perlindungan lingkungan."
Dia menambahkan bahwa program ini merupakan bukti nyata bahwa kolaborasi antara BUMN, pemerintah, dan masyarakat dapat menghasilkan solusi yang inklusif dan berkelanjutan. Dengan demikian, PLN Indonesia Power tidak hanya berfokus pada aspek teknis, tetapi juga berkontribusi terhadap kesejahteraan sosial dan lingkungan di sekitarnya.
Indonesia Berpotensi Jadi Pusat Pengembangan Energi Terbarukan di Kawasan Asia Tenggara
Transisi energi memiliki peranan yang sangat krusial bagi Indonesia, karena hal ini menjadi kunci untuk mencapai pembangunan yang berkelanjutan serta meningkatkan ketahanan energi nasional. Pemerintah Indonesia menunjukkan komitmennya untuk mencapai Net-Zero Emissions, di mana peralihan menuju energi terbarukan menjadi sangat penting untuk mencapai tujuan tersebut.
Selain itu, Indonesia bertekad untuk berkontribusi aktif dalam isu iklim dan energi di tingkat global, sejalan dengan upaya transisi energi yang sedang dilakukan. Penting juga untuk membangun ekosistem yang kuat agar masyarakat dapat mengakses energi bersih secara luas.
Kerja sama antara berbagai pihak dalam transisi energi sangat penting, terutama dalam mencapai target peningkatan kapasitas listrik nasional dan peralihan menuju energi hijau. Untuk mewujudkan hal ini, kolaborasi yang melibatkan banyak pemangku kepentingan, inovasi teknologi, serta kebijakan yang mendukung pertumbuhan berkelanjutan sangat dibutuhkan.
Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) merupakan salah satu pemangku kepentingan yang memiliki peran penting dalam transisi energi, dan berkomitmen untuk mempromosikan pemanfaatan Energi Terbarukan di tanah air. METI berusaha untuk meningkatkan keamanan energi, memperluas akses energi, serta mengurangi emisi gas rumah kaca demi masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.
Menjelang periode kepengurusan 2025-2028, sejumlah tokoh dari berbagai latar belakang siap menjadi ketua umum dan pengurus METI, dengan harapan dapat membawa visi pembaruan serta strategi inovatif untuk mempercepat transisi energi di Indonesia.
Salah satu kandidat untuk posisi Ketua Umum METI periode 2025-2028 adalah Norman Ginting, yang saat ini menjabat sebagai Direktur Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE).
"METI bukan hanya sebagai wadah kolaborasi, tetapi harus menjadi kekuatan penggerak yang kongkret dan berdampak langsung kepada pertumbuhan ekonomi nasional dan mendukung program asta cita pemerintah dalam mendorong kemandirian bangsa, khususnya melalui green economy," tegas Norman Ginting dalam keterangan tertulis, Kamis (14/8).