Cara Unik Pemerintah Jepang Hidupkan Pedesaan yang Ditinggalkan Warga
Warga Jepang justru melihat peluang dari bangunan-bangunan lama yang dibiarkan kosong.
Di balik tenangnya lanskap pedesaan Jepang, tersimpan cerita tentang inovasi, harapan, dan semangat komunitas. Saat banyak wilayah menghadapi penurunan populasi dan bangunan-bangunan lama dibiarkan kosong, warga Jepang justru melihat peluang: mengubah ruang-ruang mati menjadi destinasi wisata yang hidup.
Salah satu kisah menarik datang dari Stasiun Futamata-Hommachi di Prefektur Shizuoka. Stasiun tua yang dulunya sepi, kini berubah menjadi hotel satu kamar bernama Inn My Life penginapan eksklusif yang hanya menerima satu kelompok tamu per malam.
Gagasan ini lahir dari tangan Akihito Nakatani, mantan pebisnis properti di Tokyo yang memutuskan kembali ke kampung halamannya di Tenryu. Ia ingin membangun sesuatu yang bermakna untuk tanah kelahirannya. "Kalau kita bisa ciptakan satu contoh yang sukses, masyarakat lokal bisa ikut terinspirasi," ujarnya.
Hotel kecil ini menawarkan pengalaman menginap yang intim dan berbeda: dua orang dewasa dan dua anak dapat menikmati fasilitas modern tanpa staf, sarapan dengan bahan lokal seperti ham buatan tangan dari Tenryu Ham, dan menyusuri desa dengan sepeda dari toko Happy & Slappy. Wisatawan tak hanya menginap, tapi menyelami kehidupan lokal.
Fenomena stasiun tak berawak sendiri memang terus meningkat di Jepang. Hingga Maret 2020, hampir separuh dari 9.465 stasiun kereta api tidak memiliki staf. Dengan jumlah penduduk yang menua dan tenaga kerja yang menyusut, solusi kreatif menjadi kebutuhan.
Di Tokyo Barat, proyek Hotel Marugoto menawarkan konsep yang lebih besar: jalur JR Ome diubah menjadi hotel berjaringan, dengan rumah kosong sebagai kamar tamu dan stasiun tanpa staf sebagai resepsionis. Proyek ini mencakup 13 stasiun, dan melibatkan warga dalam penyambutan wisatawan.
Salah satu warga, Reiko Yamamiya (79), menyediakan lahannya untuk mendukung proyek ini.
“Daripada melihat semuanya merosot perlahan, lebih baik kami ikut terlibat,” katanya.
Fasilitas pertamanya, Satologue, dibuka Mei 2024. Bangunan tua bekas tempat budidaya ikan disulap menjadi restoran dan sauna yang masih mempertahankan arsitektur tradisional. Mulai 25 Mei, pengunjung juga bisa menginap di rumah bergaya klasik yang bersebelahan.
Menurut koordinator proyek, Mai Watanabe, keunikan Hotel Marugoto terletak pada partisipasi warga lokal yang bukan hanya menyambut, tapi juga menjadi bagian dari pengalaman tamu. Sekitar 20% pengunjung adalah wisatawan mancanegara dari Eropa dan Amerika Utara, menunjukkan daya tarik global dari desa-desa Jepang yang kreatif.
Inovasi tak berhenti di rel kereta. Di Prefektur Shizuoka, sebuah bus tua yang tak lagi beroperasi disulap menjadi penginapan bernama Bustay. Di dalam kabin, tamu bisa tidur di tempat tidur bertingkat, duduk di kursi sopir, bahkan menyalakan tombol-tombol seperti sedang menyetir bus sungguhan.
“Bagi penggemar bus, ini bukan sekadar tidur di dalam kendaraan, tapi mimpi yang jadi nyata,” kata Saki Tsuchiya, koordinator proyek. Bangunan pusat informasi bekas pun turut diubah menjadi akomodasi tambahan lengkap dengan dapur dan kamar mandi.
Wisatawan bisa memasak sendiri atau memesan makanan laut dari Makiba, penginapan tradisional terdekat. Hiroto Iyama, manajer Makiba, mengungkapkan bahwa proyek seperti ini menciptakan interaksi hangat antara warga dan tamu, sekaligus menghidupkan ekonomi lokal.
“Semakin banyak interaksi yang terbangun, semakin kami percaya bahwa menghidupkan ruang kosong seperti ini adalah langkah yang benar,” tuturnya.