Bupati Banyumas Perkuat Ekspor Gula Semut Dunia Melalui Pengembangan Kelapa Genjah
Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono fokus pada pengembangan kelapa genjah untuk memperkuat posisi Banyumas Raya sebagai sentra ekspor gula semut dunia, sekaligus meningkatkan kesejahteraan penderes dan menekan risiko kecelakaan kerja. Inisiatif ini merupa
Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, menegaskan komitmennya untuk mendorong pengembangan kelapa genjah sebagai strategi utama. Langkah ini bertujuan memperkuat posisi Banyumas Raya, khususnya Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, sebagai sentra ekspor gula semut dunia. Selain itu, inisiatif ini diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan penderes atau penyadap nira di wilayah pedesaan.
Pernyataan ini disampaikan Bupati Sadewo usai acara “Kick Off Implementasi Proyek DeveloPPP Pemberdayaan Petani Bersama IMC Melalui Budidaya Kelapa Genjah di Kabupaten Banyumas”. Acara penting tersebut diselenggarakan di Pendopo Si Panji, Purwokerto, Banyumas, pada Jumat, 30 Januari. Proyek ini merupakan hasil kerja sama antara Kementerian Pertanian Republik Indonesia serta Kementerian Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (BMZ) Republik Federal Jerman melalui program pendanaan develoPPP Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH dan PT Integral Mulia Cipta (IMC).
Bupati Sadewo menjelaskan bahwa kebutuhan gula semut global sangat besar, dengan sekitar 90 persen pasokan dunia berasal dari Indonesia. Dari jumlah tersebut, sekitar 80 persen disumbang oleh wilayah Banyumas Raya yang mencakup Kabupaten Banyumas, Cilacap, Purbalingga, dan Banjarnegara. Menurutnya, ini adalah peluang luar biasa yang harus dimanfaatkan untuk menjadikan Banyumas sebagai pusat ekspor gula kelapa.
Strategi Penguatan Ekspor Gula Semut Dunia
Pengembangan kelapa genjah dinilai memiliki dampak ekonomi dan sosial yang signifikan bagi wilayah Banyumas. Inisiatif ini tidak hanya meningkatkan produktivitas penderes, tetapi juga secara drastis menekan risiko kecelakaan kerja yang selama ini kerap terjadi. Kualitas gula semut yang dihasilkan dari kelapa genjah juga tidak memiliki perbedaan rasa dengan kelapa dalam, sehingga tetap memenuhi standar pasar ekspor.
Pemerintah Kabupaten Banyumas telah menyiapkan sekitar 625 hektare lahan khusus untuk pengembangan kelapa genjah. Setiap hektare lahan membutuhkan sekitar 125 bibit kelapa genjah untuk memaksimalkan hasil. Dengan persiapan lahan yang matang, diharapkan produksi gula semut dapat meningkat secara signifikan.
Managing Director PT IMC, Mario Ngensowidjaja, turut menilai revitalisasi industri gula kelapa di Banyumas sebagai langkah strategis. Ini penting untuk mendukung ketahanan pangan nasional sekaligus menjaga keberlanjutan komoditas unggulan Indonesia di pasar global. Indonesia saat ini merupakan pemasok utama gula kelapa dunia, dengan kontribusi sekitar 80–90 persen pasokan global, menjadikannya sangat vital bagi perekonomian nasional.
Manfaat Ekonomi dan Keselamatan Penderes
Selama ini, penderes nira kelapa harus memanjat pohon kelapa dalam dengan ketinggian lebih dari 15 meter, yang sangat berisiko. Bupati Sadewo mengungkapkan bahwa setiap bulan selalu ada penderes yang jatuh dari pohon kelapa, dengan risiko patah tulang, kelumpuhan, bahkan kematian. Dengan kelapa genjah yang tingginya hanya 2-3 meter, risiko kecelakaan kerja dapat berkurang secara drastis.
Selain faktor keselamatan, produktivitas penderes juga akan meningkat pesat. Penderes yang sebelumnya hanya mampu menyadap sekitar 25 pohon kelapa dalam per hari, dengan kelapa genjah dapat menyadap hingga 100 pohon dalam waktu kerja yang relatif sama. Peningkatan ini berarti produktivitas penderes nira kelapa bisa naik sampai empat kali lipat.
Meskipun volume nira kelapa genjah hanya sekitar 75 persen dibandingkan kelapa dalam, pendapatan penderes tetap bisa meningkat hingga tiga kali lipat. Hal ini menunjukkan bahwa beralih ke kelapa genjah tidak hanya lebih aman tetapi juga lebih menguntungkan secara ekonomi bagi para penderes.
Kemitraan Internasional dan Keberlanjutan Industri
Industri gula kelapa nasional menghadapi tantangan mendasar, termasuk belum adanya standarisasi produksi dan keterbatasan mekanisasi. Selain itu, jumlah petani penderes terus menurun akibat faktor usia dan tingginya risiko kecelakaan kerja. Mario Ngensowidjaja menyebut kondisi ini sebagai persoalan serius yang memerlukan perhatian.
Implementation Manager develoPPP Coconut Sugar GIZ GmbH, Dominik Schwab, menjelaskan bahwa keterlibatan GIZ dalam proyek ini sejalan dengan dua visi utama kerja sama Jerman dengan Indonesia. Visi tersebut meliputi upaya bersama mengurangi dampak perubahan iklim dan penguatan kemitraan ekonomi kedua negara.
Proyek develoPPP merupakan skema kemitraan publik dan swasta (public private partnership/PPP) antara Pemerintah Jerman dan perusahaan swasta. Dalam proyek ini, GIZ bekerja sama dengan IMC, yang telah lama beroperasi dan mengekspor gula kelapa dari Banyumas ke pasar Eropa, khususnya Jerman. Intervensi konkret meliputi perbaikan praktik budidaya kelapa untuk gula, termasuk peralihan dari kelapa dalam ke kelapa genjah, serta penerapan praktik pertanian berkelanjutan.
Sumber: AntaraNews