Kadin Institute Perluas Peluang Kerja Sama Pemagangan dengan Jerman, Dorong Kompetensi SDM Indonesia
Kadin Institute memperkuat kerja sama pemagangan dengan Jerman, membuka kesempatan emas bagi generasi muda Indonesia. Inisiatif ini diharapkan mampu mengatasi tantangan pengangguran nasional dan meningkatkan daya saing SDM global.
Kadin Institute secara resmi menjalin kerja sama strategis dengan Jerman untuk memperluas peluang pendidikan dan pelatihan vokasi berbasis sistem ganda atau ausbildung. Program ini ditujukan bagi generasi muda Indonesia yang ingin mengembangkan keahlian di Jerman. Penandatanganan nota kesepahaman (MoU) telah dilakukan bersama Handwerkskammer Dortmund dan Industrie- und Handelskammer Trier.
Langkah kolaboratif ini menjadi respons atas kebutuhan industri global akan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kompetensi internasional. Direktur Kadin Institute, Nurul Indah Susanti, menegaskan pentingnya program link and match yang nyata untuk menciptakan kesempatan kerja. Kadin Institute kini memiliki 17 program pelatihan yang dirancang sesuai kebutuhan industri Jerman, didukung sertifikasi ganda.
Kerja sama ini dinilai sebagai peluang strategis di tengah tantangan pengangguran nasional yang masih dihadapi Indonesia. Program pemagangan ini diharapkan dapat menghadirkan kesempatan kerja yang konkret bagi putra-putri terbaik bangsa. Dengan demikian, kualitas tenaga kerja Indonesia dapat meningkat dan mampu bersaing di pasar global.
Memperkuat Vokasi dan Mengatasi Kesenjangan Tenaga Kerja
Ketua Umum Kadin Jawa Timur, Adik Dwi Putranto, mengungkapkan bahwa sekitar 80 persen program Kadin Jatim berfokus pada vokasi berbasis sistem ganda. Inisiatif ini kini semakin diperluas melalui kerja sama dengan mitra Kadin di luar negeri. Hal ini menunjukkan komitmen kuat untuk mengembangkan pendidikan vokasi yang relevan dengan kebutuhan industri.
Kepala Dinas Tenaga Kerja Jawa Timur, Sigit Priyanto, menyambut baik kerja sama ini. Menurutnya, program ini sangat sejalan dengan tuntutan global yang menuntut SDM dengan kompetensi yang diakui secara internasional. Kebutuhan akan tenaga kerja terampil yang memiliki standar global menjadi prioritas dalam menghadapi persaingan dunia kerja saat ini.
Managing Director of Vocational Education and Training Center HWK Dortmund, Tobias Schmidt, menjelaskan bahwa Jerman menghadapi kekurangan tenaga kerja profesional di sektor skilled crafts. Kekurangan ini terutama terasa di bidang plumbing, sanitasi, konstruksi, elektrisi, dan keahlian teknis lainnya. Kerja sama ini diharapkan dapat mengisi kekosongan tersebut dengan talenta muda dari Indonesia.
Senada, Managing Director IHK Trier, Ulrich Schneider, menambahkan bahwa wilayah Trier juga mengalami kekurangan tenaga kerja yang serius, khususnya di sektor pariwisata dan hospitalitas. Sebagai kota tertua di Jerman dan destinasi wisata utama, Trier sangat membutuhkan tenaga profesional di hotel, restoran, dan sektor layanan. Fokus kerja sama ini bukan hanya pada jumlah peserta, melainkan pada keberlanjutan dan kualitas program pelatihan kerja ganda.
Persyaratan, Perlindungan, dan Prospek Karier Peserta
Salah satu tantangan terbesar dalam program pemagangan internasional ini adalah penguasaan bahasa Jerman. Peserta diwajibkan memiliki kemampuan bahasa minimal B1, bahkan idealnya B2, untuk dapat mengikuti program dengan baik. Selain itu, peserta harus memiliki kontrak pendidikan dengan perusahaan di Jerman sebelum mengajukan visa, memastikan adanya jaminan penempatan kerja.
Dari sisi fasilitasi, Pengurus Proyek Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ), Niklas Cramer, memastikan perlindungan terhadap peserta Indonesia di Jerman. Perlindungan ini dijamin oleh hukum ketenagakerjaan setempat, sehingga peserta akan menerima kontrak yang sama dengan pekerja Jerman. Mereka juga akan mendapatkan hak dan kewajiban yang setara, memastikan keadilan dan keamanan selama masa pemagangan.
Peserta program akan menerima tunjangan pelatihan sekitar 1.000 euro per bulan pada tahun pertama, dengan peningkatan tunjangan setiap tahun selama masa pelatihan. Durasi pelatihan berkisar antara dua hingga 3,5 tahun. Sistem pelatihan yang diterapkan adalah sistem dual, yaitu dua hari di sekolah vokasi dan tiga hari di perusahaan, memadukan teori dan praktik secara seimbang.
Mengenai masa depan peserta, Cramer menegaskan bahwa lulusan tidak diwajibkan langsung kembali ke Indonesia. Setelah kontrak pelatihan berakhir, mereka memiliki waktu sekitar 12 bulan untuk mencari pekerjaan baru di Jerman sebelum masa berlaku visa mereka habis. Hal ini memberikan fleksibilitas dan kesempatan lebih luas bagi para peserta untuk membangun karier internasional.
Sumber: AntaraNews