Bukan Sekadar Campuran, Etanol dalam BBM Pertamina Diklaim Lebih Bersih dan Ramah Lingkungan
Pertamina Patra Niaga mengimbau masyarakat untuk tidak terpengaruh isu negatif terkait campuran etanol dalam BBM. Etanol diklaim membuat pembakaran lebih bersih dan ramah lingkungan.
PT Pertamina Patra Niaga meminta masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh isu negatif yang menyesatkan terkait penggunaan campuran etanol pada bahan bakar minyak (BBM). Imbauan ini disampaikan oleh Area Manager Communication, Relation and CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah–DIY, Taufik Kurniawan, di Semarang pada Selasa (08/10). Ia menegaskan bahwa etanol memiliki peran penting dalam upaya menjaga lingkungan.
Taufik menjelaskan bahwa penggunaan etanol sebagai bahan campuran BBM bukanlah hal baru. Praktik ini telah diterapkan secara luas di berbagai negara maju di dunia. Etanol menjadi solusi efektif untuk mengurangi dampak negatif emisi kendaraan.
Menurut Pertamina, tujuan utama pencampuran etanol adalah untuk menekan emisi gas buang kendaraan. Langkah ini berkontribusi signifikan terhadap lingkungan yang lebih bersih. Etanol dalam BBM diklaim menghasilkan pembakaran yang lebih sempurna dan ramah lingkungan.
Etanol: Solusi Ramah Lingkungan untuk BBM Modern
Taufik Kurniawan menekankan bahwa etanol telah digunakan sebagai campuran BBM di banyak negara. "Etanol ini juga digunakan di Brazil, digunakan di Amerika Serikat, kemudian Uni Eropa. Karena memang tujuannya untuk menekan emisi gas buang supaya lebih ramah lingkungan," ujarnya. Hal ini menunjukkan pengakuan global terhadap manfaat etanol.
Etanol sendiri merupakan hasil fermentasi dari bahan bakar nabati. Bahan baku utamanya bisa berupa tebu, jagung, atau singkong. Proses pengolahan ini menghasilkan molase yang kemudian menjadi bahan pendukung utama bagi BBM.
Kandungan etanol secara khusus di Pertamax Green adalah sebesar 5 persen. Bahkan, pada beberapa produk BBM lain, kadar etanolnya jauh lebih rendah. Campuran etanol ini diklaim menghasilkan pembakaran yang lebih bersih.
Selain mengurangi emisi karbon, sifat etanol juga tidak merusak komponen logam dan karet pada mesin kendaraan. Kondisi ini memastikan pembakaran berjalan lebih sempurna. Dengan demikian, penggunaan etanol tidak hanya baik untuk lingkungan tetapi juga aman bagi mesin.
Antusiasme Pasar Terhadap Pertamax Green di Jawa Tengah
Meskipun muncul isu miring mengenai etanol, penjualan produk Pertamax Green di wilayah Jawa Tengah justru menunjukkan peningkatan signifikan. Ini mengindikasikan kepercayaan masyarakat terhadap inovasi bahan bakar ramah lingkungan. Pertamina mencatat pertumbuhan positif di tengah tantangan informasi negatif.
Taufik menyebutkan bahwa sudah ada 14 Stasiun Bahan Bakar Umum (SPBU) di Jawa Bagian Tengah yang menyediakan Pertamax Green. Total realisasi penjualannya mencapai 348 kiloliter. Angka ini merupakan 228 persen dari target yang ditetapkan untuk tahun 2025.
"Jadi, targetnya sebetulnya hanya delapan outlet saja. Antusiasmenya luar biasa. Kami akan mengikuti perkembangan untuk penambahan outlet maupun volume sales-nya," kata Taufik. Ini menunjukkan bahwa permintaan pasar melebihi ekspektasi awal Pertamina. Rencana ekspansi pun sedang dipertimbangkan.
Untuk outlet di Jawa Tengah, empat di antaranya berada di Semarang. Masing-masing satu outlet tersebar di Kendal, Batang, dan Tegal. Terdapat pula tambahan satu outlet di rest area jalur tol Brebes. Secara pertumbuhan, area Semarang, Kendal, dan Batang masih mendominasi total penjualan, mencapai 248 kiloliter. Rata-rata penjualan harian di Semarang sendiri berkisar antara 7.000 hingga 8.000 liter per hari.
Sumber: AntaraNews